Merajut Asa Dirgantara di Asap Dapur Warung Makan

Sharing is caring

Merajut Asa Dirgantara di Asap Dapur Warung Makan

Jakarta, Kowantaranews.com   -Di balik kepulan asap panggangan dan gurihnya aroma rempah yang menyeruak dari sudut dapur, sebuah ritme kerja bergerak dengan ketepatan yang tidak biasa. Setiap takaran bumbu ditimbang teliti hingga satuan gram, alur pergerakan bahan baku ditata rapi, dan kapasitas kompor diperhitungkan secara cermat agar seimbang dengan laju pesanan. Di tempat inilah, Hertanto Dwi Cahyo (36) membuktikan bahwa ruang dapur warung makan dapat menjadi laboratorium hidup bagi penerapan ilmu rekayasa sistem manufaktur modern.

Perjalanan tersebut berawal dari kekaguman masa muda terhadap sosok B.J. Habibie dan dunia kedirgantaraan. Seusai menuntaskan studi sarjana teknik informatika di Sleman pada 2013, Cahyo sempat mencoba peruntungan melamar ke PT Dirgantara Indonesia (PTDI), namun nasib belum berpihak. Demi mendekatkan diri pada cita-cita tersebut, pemuda asal Yogyakarta ini rela meninggalkan pekerjaannya di kawasan industri otomotif Karawang demi mengambil beasiswa magister dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Program Studi Teknik dan Manajemen Industri Institut Teknologi Bandung (ITB). Pertimbangannya rasional dan terukur: mayoritas insinyur di industri pesawat terbang impiannya ditempa di almamater tersebut.

Namun, realitas sering kali bergerak di luar rancangan ideal. Selepas merengkuh gelar master pada 2016 dengan indeks prestasi kumulatif 3,19, lowongan yang diidamkan di industri kedirgantaraan tak kunjung dibuka. Selama dua tahun penuh penantian, tawaran kerja di sektor lain sempat datang, namun Cahyo enggan berkompromi dengan panggilan hatinya. Titik balik tiba pada 2018; lelah menunggu kepastian dari sektor korporasi formal, ia mengubur ambisi kedirgantaraan dan beralih membangun mimpinya sendiri di dunia kuliner.

Bermodalkan tabungan mandiri sebesar Rp 17 juta per orang, Cahyo merintis Ayam Bakar Papin bersama dua rekannya. Alih-alih mengelola warung secara konvensional yang kerap mengandalkan intuisi atau metode perkiraan, Cahyo mentransformasikan prinsip-prinsip teknik industri ke ranah usaha mikro. Ia mendesain tata letak dapur yang ergonomis dan efisien, mengoptimalkan rantai pasok bumbu dan daging, serta menerapkan kontrol mutu ketat. Bagi Cahyo, pertumbuhan bisnis tidak boleh semata-mata mengejar lonjakan volume penjualan jika mengorbankan kapasitas produksi. Keseimbangan sistem inilah yang menjaga cita rasa hidangannya tetap konsisten sekaligus membuat bisnisnya tangguh bertahan melewati badai pandemi Covid-19.

Keberhasilan itu berlanjut pada 2025 ketika ia mengembangkan sayap usaha dengan meluncurkan jenama kedua, Sate Pedas Mataram. Tak berhenti di situ, pembukaan gerai khusus pesanan bawa pulang (take-away) baru-baru ini dieksekusi berdasarkan analisis data digital yang memetakan konsentrasi pelanggan di kawasan perkotaan Sleman. Di mata Cahyo, ijazah magister yang disandangnya tidak pernah menjadi selembar kertas yang sia-sia; ilmu rekayasa sistem yang dipelajarinya terbukti fleksibel diterapkan pada skala usaha apa pun.

Kiprah Cahyo mencuri perhatian Wisnu Setiadi Nugroho, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM). Dari kacamata ekonomi, Wisnu menganalisis bahwa apa yang dimulai Cahyo bermula dari necessity entrepreneurship—kewirausahaan akibat ketiadaan pilihan kerja formal—yang kemudian bertransformasi menjadi opportunity entrepreneurship saat peluang pasar berhasil ditangkap dan dikembangkan. Usaha ini juga berhasil naik kelas dari usaha sekadar bertahan hidup (subsistence) menjadi wirausaha transformasional yang membuka lapangan kerja bagi 17 orang karyawan lokal.

Meski mengapresiasi daya lenting Cahyo, Wisnu memberikan catatan kritis bagi perekonomian nasional. Talenta terdidik berkapasitas perancang sistem industri idealnya terserap di pabrik manufaktur, logistik strategis, atau industri teknologi tinggi guna memberikan efek pengganda ekonomi yang lebih masif. Fenomena ini menjadi alarm penting bagi pemerintah untuk memperbanyak ekosistem industri bernilai tambah tinggi sekaligus memperluas akses pembiayaan dan pendampingan bagi wirausaha terdidik agar usahanya terus naik kelas.

Bagi Cahyo sendiri, kepulan asap dapur kini bukan lagi lambang pelarian dari cita-cita kedirgantaraan yang pupus. Asap itu telah menjelma menjadi saksi nyata bahwa ketekunan, kerendahan hati untuk terus belajar, dan penerapan sains yang tepat mampu menerbangkan masa depan baru yang jauh lebih bermakna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *