Jakarta, Kowantaranews.com — Di tengah dinamika erupsi Gunung Anak Krakatau yang berfluktuasi pada tingkat Level III (Siaga), perhatian otoritas kebencanaan dan riset maritim nasional tertuju pada ancaman geologis yang kerap luput dari perhatian publik. Meskipun pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat aktivitas letusan saat ini didominasi tipe Strombolian berskala rendah hingga sedang yang melontarkan material lava pijar di sekitar kawah, bahaya laten paling mematikan justru mengintai di bawah permukaan laut: tsunami vulkanogenik non-tektonik yang mampu menyapu pesisir tanpa peringatan awal berupa guncangan gempa bumi.
Peristiwa kelam pada 22 Desember 2018 menjadi preseden nyata tentang betapa destruktifnya tsunami yang dibangkitkan oleh aktivitas vulkanik non-seismik. Kala itu, sektor lereng barat daya kerucut Anak Krakatau yang berdiri di tepi jurang kaldera bawah laut runtuh secara mendadak. Massa batuan dan material vulkanik bervolume sekitar 0,1 hingga 0,28 kilometer kubik meluncur ke laut dalam, memindahkan massa air secara impulsif dan membangkitkan gelombang tsunami setinggi hingga 13 meter di pesisir Banten dan Lampung serta limpasan mencapai 25 meter di pulau-pulau sekitarnya. Gelombang senyap (silent tsunami) tersebut merenggut 437 korban jiwa karena sistem peringatan dini konvensional kala itu hanya dirancang merespons guncangan gempa tektonik kuat.
Para pakar kebumian menggarisbawahi bahwa keruntuhan tubuh gunung (flank collapse) bukanlah satu-satunya pemicu ancaman non-tektonik di perairan Selat Sunda. Tsunami vulkanik juga dapat dipicu oleh luncuran aliran piroklastik berkecepatan tinggi yang menerobos air laut, ledakan freatomagmatik eksplosif akibat percampuran magma cair dengan air laut, maupun amblesan lantai kaldera (caldera collapse) pasca-erupsi. Fenomena-fenomena ini menghasilkan gelombang transien yang membawa massa air masif dan bergerak cepat melintasi selat sempit, menuntut waktu deteksi dalam orde menit.
Menjawab celah kerentanan tersebut, konsorsium kebencanaan nasional yang melibatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Informasi Geospasial (BIG), serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membangun arsitektur pertahanan maritim bertajuk Indonesia Tsunami Non-Tectonic (InaTNT). Salah satu lompatan teknologi terpenting adalah pemasangan instrumen Inexpensive Device for Sea Level Measurement (IDSL) atau Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut (PUMMA) di Pulau Rakata dan Pulau Sebesi. Kepulauan di sekitar Anak Krakatau tersebut difungsikan sebagai “pelampung alami” (natural buoys) guna menempatkan alat ukur sedekat mungkin dengan episentrum letusan.
Berbeda dengan stasiun pasang surut standar yang bekerja dalam interval beberapa menit, sensor PUMMA mengukur elevasi muka air laut secara kontinu dalam frekuensi sangat rapat, yakni per 1 hingga 5 detik. Melalui transmisi data telekomunikasi cepat dan satelit ke peladen pusat BMKG, algoritma pemrosesan mareogram STA/LTA (Short-Term Average / Long-Term Average) dan AIC Picker dirancang untuk memvalidasi anomali muka air laut dalam kurun waktu 2 hingga 5 menit. Kecepatan kalkulasi otomatis ini menyediakan waktu penyelamatan diri berharga (golden time) sekitar 25 hingga 30 menit bagi warga di pesisir barat Banten dan Lampung Selatan sebelum gelombang menjalar menghantam daratan.
Pengawasan perairan semakin diperkuat dengan pengoperasian sepasang High-Frequency (HF) Radar Array milik BMKG di Carita dan Tanjung Lesung, puluhan sensor Automatic Weather Station (AWS) Water Level, serta stasiun Tide Gauge BIG di koridor penyeberangan Merak–Bakauheni. Hingga pemantauan mutakhir, BMKG dan otoritas gabungan memastikan kondisi perairan Selat Sunda berada dalam batas aman dan terkendali. Tinggi gelombang laut terpantau stabil pada kisaran 0,5 hingga 2,0 meter dengan probabilitas pembentukan tsunami di bawah 40 persen, serta nihil anomali pada puluhan stasiun pemantau.
Meskipun sistem pertahanan digital telah bersiaga penuh, otoritas kebencanaan mengingatkan bahwa keselamatan masyarakat bergantung pada kepatuhan disiplin di lapangan. Masyarakat dan nelayan diimbau untuk tidak beraktivitas di dalam radius bahaya 3 hingga 5 kilometer dari pusat kawah Anak Krakatau, menguji keandalan sirene pesisir secara berkala, serta segera melakukan evakuasi mandiri ke dataran tinggi apabila mendengar gemuruh laut yang diiringi surutnya muka air secara mendadak tanpa menunggu konfirmasi sirine. Kesiapsiagaan berlapis inilah benteng sejati dalam meredam ancaman bahaya laten di Selat Sunda. By Mukroni

