• Sel. Sep 15th, 2026

KowantaraNews

Jejak Warteg Warisan Lumbung Mataram, Semangat Sultan Agung dan Diplomasi Kyai Rangga

Paceklik Tiba dan Beras Kian Mahal, Beban Dapur Masyarakat Kian Menghimpit

ByAdmin

Sep 15, 2026
Pekerja mengangkut beras di Gudang Beras Bulog. Foto: ANTARA FOTO/Arnas Padda
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com — Di meja makan jutaan keluarga di Indonesia, sepiring nasi putih kini terasa kian berharga sekaligus memberatkan. Sebelum masa paceklik resmi dimulai, harga beras di pasar tradisional dan ritel modern sudah merangkak naik ke level yang mengkhawatirkan. Memasuki periode Oktober 2026 hingga Januari 2027, ancaman lonjakan harga pangan pokok ini diproyeksikan bakal kian memuncak, mempersempit ruang belanja dapur masyarakat dan memaksa banyak keluarga berpenghasilan rendah mengatur ulang prioritas pengeluaran harian mereka.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat beras telah mengalami inflasi tanpa jeda selama delapan bulan beruntun sejak Januari hingga Agustus 2026. Laju inflasi tahunan komoditas strategis ini sempat menyentuh angka 4,55 persen pada Mei 2026. Hingga pekan kedua September 2026, tekanan harga belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Rata-rata nasional harga beras medium di tingkat eceran telah menyentuh angka Rp14.630 per kilogram, sementara beras premium melambung hingga Rp16.480 per kilogram. Kenaikan harga ini tidak lagi bersifat sporadis, melainkan telah meluas kembali ke 135 kabupaten dan kota di seluruh penjuru Tanah Air.

Di tingkat akar rumput, situasi ini menciptakan tekanan psikologis dan ekonomi yang nyata. Bagi keluarga miskin dan pekerja informal yang mengalokasikan sebagian besar penghasilannya untuk kebutuhan pangan karbohidrat, kenaikan beberapa ratus rupiah per kilogram sudah cukup untuk memangkas jatah lauk-pauk atau menunda kebutuhan penting lainnya. Ironisnya, lonjakan harga di tingkat eceran ini terjadi tepat di ambang masa paceklik beras, periode ketika daerah-daerah sentra utama produsen padi baru mulai memasuki Musim Tanam (MT) I.

Sentra-sentra lumbung padi di Jawa Tengah, seperti Kabupaten Demak, Grobogan, Pati, Kudus, dan Jepara, baru bersiap mengolah lahan setelah pintu air Waduk Kedungombo kembali dibuka pada pertengahan September. Di lapangan, pasokan gabah lokal praktis sudah habis. Penggilingan padi rakyat terpaksa mendatangkan gabah dari luar daerah dengan harga gabah kering panen (GKP) yang mencapai Rp7.500 hingga Rp8.700 per kilogram, bahkan menembus Rp9.000 per kilogram saat tiba di lokasi penggilingan. Tingginya ongkos bahan baku ini secara otomatis melambungkan harga beras di tingkat penggilingan hingga Rp14.000 per kilogram untuk kelas medium dan Rp15.500 per kilogram untuk kelas premium. Angka tersebut telah menjebol ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) zona Jawa yang ditetapkan pemerintah, yakni masing-masing Rp13.500 dan Rp14.900 per kilogram.

Kondisi hulu yang tertekan ini kian diperparah oleh ancaman perubahan iklim. Fenomena El Nino diperkirakan bakal bertahan hingga awal 2027, memicu ketidakpastian masa tanam dan ancaman penurunan produktivitas lahan. Berdasarkan kalkulasi neraca konsumsi BPS, kebutuhan beras nasional mencapai rata-rata 2,54 juta ton per bulan, atau setara 10,16 juta ton sepanjang empat bulan masa paceklik. Jika asumsi produksi domestik selama periode tersebut hanya berkisar 7,71 juta ton—setara siklus tahun sebelumnya—neraca beras nasional bakal menghadapi defisit fisik minimal 2,9 juta ton, belum termasuk risiko penurunan hasil panen akibat kemarau panjang.

Bunga Pinjaman PNM Mekaar Anjlok ke 8 Persen

Pertanyaan krusial pun mencuat ke ranah kebijakan publik: di mana peran cadangan negara ketika pasar mulai menjerit? Perum Bulog menyatakan telah mengelola Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebesar 4,65 juta ton, yang menyusut dari posisi 5,2 juta ton akibat masifnya intervensi program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta penyaluran bantuan pangan. Pemerintah juga telah merespons dengan menambah alokasi 1 juta ton beras SPHP medium untuk menjaga stabilitas pasar hingga awal tahun depan, di samping memperpanjang bantuan beras gratis bagi 33,24 juta keluarga penerima manfaat.

Dilema Ekonomi 2026: Kemiskinan Menyusut, Rasio Gini Mendorong Kesenjangan

Namun, bagi masyarakat yang berbelanja setiap hari ke pasar, angka-angka statistik dan komitmen distribusi tersebut belum sepenuhnya meredakan kecemasan. Selama transmisi pasokan dari gudang-gudang logistik belum mampu mengendalikan disparitas harga di warung dan pasar tradisional, beban dapur keluarga tetap menjadi taruhan paling nyata di tengah bayang-bayang masa paceklik yang panjang. By Mukroni

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *