Raih Keunggulan 4,3 Juta Suara di Putaran Kedua, Lula Kembali Pimpin Brasil
Jakarta, Kowantaranews.com — Presiden petahana Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, mencatatkan kebangkitan politik bersejarah setelah memenangkan pemilihan umum presiden putaran kedua (runoff) yang digelar pada Minggu (25/10/2026). Berdasarkan penghitungan suara resmi yang telah mencapai hampir 99 persen, tokoh sayap kiri berusia 80 tahun tersebut sukses mengamankan masa jabatan keempatnya dengan meraih 51,75 persen suara, menumbangkan rival kuatnya dari sayap kanan ekstrem, Senator Flávio Bolsonaro, yang memperoleh 48,25 persen suara.
Kemenangan ini menandai salah satu pembalikan elektoral paling dramatis dalam sejarah modern Brasil. Tiga pekan sebelumnya, pada pemungutan suara putaran pertama 4 Oktober, Lula sempat tertinggal sekitar 2,2 juta suara di belakang Flávio Bolsonaro yang unggul mengejutkan dengan perolehan 47,03 persen berbanding 45,16 persen. Namun, dalam pemungutan suara penentuan, Lula berhasil membalikkan keadaan secara spektakuler dengan keunggulan bersih mencapai 4,3 juta suara. Sejak Brasil kembali ke sistem demokrasi pascaberakhirnya kediktatoran militer pada dekade 1980-an, belum pernah ada kandidat yang menempati posisi kedua di putaran pertama mampu bangkit dan memenangkan pemilihan di putaran kedua.
Baca juga : Dr. Nisia Trindade Lima Menteri Kesehatan Brasil Pertama dari Kaum Hawa
Keberhasilan Lula, yang genap berusia 81 tahun pada pekan ini, didorong oleh kemampuan mesin politiknya dalam merangkul pemilih moderat serta menekan angka ketidakhadiran pemilih (abstensi). Tingkat abstain nasional yang mencetak rekor 21,08 persen pada putaran pertama berhasil dipangkas turun menjadi 19,21 persen pada putaran kedua. Penurunan angka abstain ini sangat menentukan, mengingat pemilih berpenghasilan rendah yang menjadi basis kekuatan tradisional Lula cenderung berdomisili jauh dari pusat-pusat tempat pemungutan suara.
Mobilisasi dukungan rakyat terpantau masif menjelang hari pencoblosan, ketika lebih dari satu juta pendukung turun ke Pantai Copacabana di Rio de Janeiro dan massa dalam jumlah yang lebih besar memadati Jalan Paulista di São Paulo. Gerakan pro-Lula juga diperkuat oleh keterlibatan terorganisir dari serikat buruh, aliansi generasi muda dari berbagai kelompok penggemar musik pop di media sosial, hingga momentum politis disahkannya amendemen konstitusi di Senat yang memangkas batas jam kerja mingguan dari 44 menjadi 40 jam tanpa pemotongan upah.
Meskipun berakhir dengan perayaan di berbagai kota besar, jalannya pemungutan suara putaran kedua diwarnai ketegangan logistik dan friksi politik yang tajam. Di sejumlah wilayah kantong pemilih kiri di kawasan Timur Laut, terutama di Salvador, Bahia, tim kampanye Lula memprotes pemangkasan armada transportasi umum hingga separuh kapasitas normal yang dinilai sebagai upaya sabotase elektoral terencana untuk menghalangi pemilih mendatangi bilik suara. Kepolisian Federal bahkan membuka investigasi atas dugaan gangguan transportasi di lima negara bagian. Di saat bersamaan, cuaca buruk dan banjir melanda wilayah selatan Brasil yang merupakan basis pemilih konservatif.
Baca juga : Ratusan Ribu Pelajar di Eropa Turun ke Jalan, Protes Krisis Biaya Hidup dan Fasilitas Sekolah
Krisis aksesibilitas tersebut memicu Hakim Mahkamah Agung Federal (Supremo Tribunal Federal – STF), Cristiano Zanin, mengeluarkan putusan darurat untuk memperpanjang waktu pemungutan suara selama dua jam hingga pukul 19.00 waktu Brasília. Langkah yudisial mendesak ini menuai protes keras dari kubu penantang. Pascapenghitungan suara, Flávio Bolsonaro secara terbuka menolak untuk mengakui kekalahan (concede) dan menuntut agar hasil pemilihan dibatalkan (annulled), dengan alasan perpanjangan waktu pemungutan suara tersebut tidak sah.
Kekalahan Flávio menjadi pukulan telak bagi ayahnya, mantan presiden Jair Bolsonaro, yang saat ini berstatus tahanan rumah dan tengah menjalani hukuman 27 tahun penjara atas upaya kudeta tahun 2022. Ambisi klan Bolsonaro untuk menerbitkan pengampunan kepresidenan dan kembali ke lingkar kekuasaan pun resmi terhenti.
Baca juga : Dua Tahun Prabowo-Gibran: Antara Statistik Pangan dan Tekanan Biaya Hidup
Dalam pidato kemenangannya di São Paulo, Lula menegaskan bahwa mandat barunya akan difokuskan pada pemulihan demokrasi partisipatif, keadilan sosial, perlindungan lingkungan hutan Amazon, serta pengawasan ketat terhadap manipulasi platform digital. Kendati demikian, Lula akan menghadapi tantangan legislatif yang berat menyusul keberhasilan Partai Liberal (PL) pimpinan Bolsonaro mengamankan blok kursi terbesar di Kongres Nasional, yakni 121 kursi di Dewan Deputi dan 29 kursi di Senat.
Di kancah internasional, kemenangan Lula disambut hangat oleh para pemimpin berhaluan progresif di kawasan, termasuk Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dan Presiden Uruguay Yamandú Orsi. Hasil ini sekaligus menahan penetrasi gelombang sayap kanan pro-Donald Trump di Amerika Latin, memastikan Brasil tetap bertahan sebagai kekuatan otonom dan penyeimbang dalam tatanan geopolitik global. By Mukroni

