Jakarta, Kowantaranews.com – Ketergantungan Indonesia pada impor pangan, seperti beras dan terigu, kini berada di titik kritis. Gejolak geopolitik global mengancam rantai pasok, mendorong pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto untuk menyerukan swasembada pangan. Dalam sidang kabinet 2025, beliau menegaskan urgensi diversifikasi sumber karbohidrat seperti sagu, sorgum, dan jagung, serta protein lokal, untuk memutus jerat impor..
Author Archives: Admin
Jakarta, Kowantaranews.com – Subsektor tanaman pangan, tulang punggung ketahanan pangan nasional, mengalami guncangan hebat pada triwulan II-2025. Setelah mencatatkan pertumbuhan fantastis sebesar 42,26% pada triwulan I-2025, subsektor ini terjun bebas ke angka -6,01% pada triwulan II. Penurunan drastis ini menimbulkan tanda tanya besar: apakah ini sekadar anomali musiman atau pertanda krisis yang mengancam ketahanan pangan..
Jakarta, Kowantaranews.com – Pasar beras Indonesia sedang berada di ambang krisis. Harga beras melambung tinggi, stok menipis, dan ketidakpastian kebijakan pemerintah memperburuk situasi. Dengan mayoritas wilayah penghasil padi seperti Jawa Barat masih menunggu panen Musim Tanam II (MT II) hingga akhir September, pasokan Gabah Kering Panen (GKP) kian terbatas. Harga GKP kini mencapai Rp7.400–Rp7.600 per kilogram,..
Harga Beras Melonjak, Pedagang Warteg di Indonesia Terdampak KerasJakarta, 6 Juli 2025 – Harga beras di Indonesia terus mengalami kenaikan signifikan sejak akhir 2024, menciptakan tekanan besar bagi pedagang warteg (warung tegal) yang mengandalkan beras sebagai bahan baku utama. Kenaikan harga ini terjadi di tengah klaim pemerintah bahwa produksi beras nasional sedang melimpah, mencapai 21,76..
Jakarta, Kowantaranews.com — Indonesia menghadapi ancaman kenaikan harga beras yang signifikan pada semester II-2025, dipicu oleh penurunan produksi akibat musim kemarau dan maraknya kasus beras oplosan yang tidak memenuhi standar mutu. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras nasional dari Januari hingga September 2025 mencapai 28,22 juta ton, naik 11,23% dibandingkan periode yang sama tahun..
Jakarta, Kowantaranews.com – Pasar pangan Indonesia sedang didera krisis kepercayaan akibat maraknya praktik oplosan beras dan gula yang mengancam konsumen dan petani. Investigasi Kementerian Pertanian (Kementan) pada Juni 2025 mengungkap fakta mencengangkan: 212 dari 268 merek beras yang beredar melanggar Standar Nasional Indonesia (SNI), terutama karena kadar beras patah melebihi batas (25% untuk beras medium,..
Jakarta, Kowantaranews.com – Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza telah mencapai tingkat yang sangat memprihatinkan, dengan penderitaan warga sipil yang terus memburuk akibat konflik berkepanjangan, blokade ketat, dan keterbatasan bantuan kemanusiaan. Lebih dari 60.000 warga sipil Palestina, termasuk ribuan anak-anak, telah kehilangan nyawa akibat serangan militer Israel, kelaparan, dan kondisi kesehatan yang memburuk. Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa..
Jakarta, Kowantaranews.com – Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan ancaman resesi, industri kemasan makanan dan minuman di Indonesia justru menunjukkan ketahanan luar biasa. Sektor ini tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga mencatatkan pertumbuhan signifikan, menegaskan posisinya sebagai salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, nilai produksi industri kemasan terus..
Jakarta, Kowantaranews.com – Musim giling tebu yang seharusnya menjadi momen panen raya bagi petani tebu Indonesia justru berubah menjadi mimpi buruk. Per 30 Juli 2025, sebanyak 51.634,963 ton gula petani menumpuk tak laku di lelang. Lelang gula yang biasanya ramai pada puncak musim giling Juli-Agustus kini sepi pembeli, terutama di sentra produksi seperti Jawa Timur,..
Jakarta, Kowantaranews.com -Pemerintah berencana menghapus klasifikasi mutu beras medium dan premium, menggantinya dengan kategori tunggal “beras reguler” sambil mempertahankan beras khusus seperti organik, merah, dan ketan. Kebijakan ini memicu gelombang kritik dari berbagai pihak, termasuk pakar pertanian dan pelaku industri, karena berpotensi merugikan petani, membebani konsumen, dan memicu praktik curang seperti beras oplosan. Dwi Andreas..






