• Jum. Feb 6th, 2026

KowantaraNews

Kowantara News: Berita tajam, warteg jaya, UMKM tak terjajah!

Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026

ByAdmin

Des 22, 2025
Ilustrasi Gambar Alarm Rupiah Tembus 16.700 (Gambar Kowantaranews_
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com – Menjelang penutupan tahun buku 2025, lampu kuning menyala terang bagi perekonomian Indonesia. Nilai tukar Rupiah yang menembus level psikologis Rp 16.700 per Dolar AS pada Desember ini bukan sekadar fluktuasi akhir tahun biasa, melainkan sinyal terbentuknya titik keseimbangan baru atau “normal baru” yang meresahkan. Para ekonom memperingatkan bahwa tren pelemahan ini berpotensi berlanjut hingga kuartal pertama 2026, didorong oleh konvergensi mematikan antara tekanan eksternal yang agresif dan kerentanan fiskal domestik yang kian terekspos.

Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menegaskan bahwa sulit bagi Rupiah untuk kembali menguat ke level di bawah Rp 16.000 dalam waktu dekat. Menurutnya, level Rp 16.700 kini telah menjadi baseline baru bagi stabilitas nilai tukar. Pandangan ini diamini oleh Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, yang memberikan proyeksi lebih suram. Ia memperkirakan risiko depresiasi dapat menyeret Rupiah menuju level Rp 17.000 per Dolar AS pada periode Januari-Februari 2026, apabila sentimen negatif pasar terhadap pengelolaan anggaran negara tidak segera diredam.

Dari sisi eksternal, kebijakan proteksionisme Amerika Serikat di bawah administrasi Presiden Donald Trump menjadi pukulan telak. Kepastian penerapan tarif impor sebesar 19% terhadap produk-produk Indonesia—terutama tekstil, alas kaki, dan furnitur—langsung menggerus daya saing ekspor nasional. Dampaknya mulai terasa nyata di sektor riil, di mana industri padat karya menghadapi ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat hilangnya pesanan dari pasar AS. Situasi ini diperparah oleh perlambatan struktural ekonomi Tiongkok yang menahan permintaan komoditas, sehingga defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit) diprediksi akan melebar signifikan pada 2026.

Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra

Namun, sorotan paling tajam investor justru tertuju pada dapur kebijakan dalam negeri. Pasar keuangan bereaksi gugup terhadap postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dinilai terlalu ekspansif di tengah ruang fiskal yang sempit. Alokasi anggaran jumbo sebesar Rp 335 triliun untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu kekhawatiran mendalam mengenai keberlanjutan fiskal. Per November 2025, defisit APBN tercatat telah menyentuh 2,35% dari PDB. Kekhawatiran akan terjadinya fiscal slippage ini memicu aksi jual investor asing (capital outflow), terutama di instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mencatatkan penjualan bersih masif hingga ratusan triliun rupiah sepanjang tahun.

Bank Indonesia (BI) kini berada dalam posisi dilematis. Meski telah menahan suku bunga acuan di level 4,75% untuk menjaga stabilitas, persepsi pasar mengenai “dominasi fiskal”—di mana kebijakan moneter tersandera untuk membiayai belanja pemerintah—membuat biaya intervensi pasar semakin mahal. Memasuki 2026, Indonesia menghadapi ancaman nyata “defisit kembar” (twin deficit). Tanpa reformasi struktural yang kredibel dan disiplin anggaran yang ketat, “normal baru” di level Rp 16.700 ini bisa jadi hanyalah permulaan dari turbulensi ekonomi yang lebih dalam bagi Indonesia. By Mukroni

  • Berita Terkait :

Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra

Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan

Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA

Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah

UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok

Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II

“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS

Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis

Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar

UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”

Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop

Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!

IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!

Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!

Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!

Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!

Indonesia-Rusia Kolplay Digital: 5G Ngegas, Warteg Go Online, Tapi Awas Jangan Kejebak Vodka Virtual!

Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!

Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!

TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!

Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!

Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!

Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?

Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!

Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!

Bank Dunia Bikin Panik: 194 Juta Orang Indonesia Jadi ‘Miskin’, Warteg Jadi Penutup atau Penutup Dompet?

Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!

Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *