• Jum. Sep 18th, 2026

KowantaraNews

Jejak Warteg Warisan Lumbung Mataram, Semangat Sultan Agung dan Diplomasi Kyai Rangga

Peta Jalan Bawang Putih 2026–2029: Pemerintah Siapkan Eskalasi Lahan hingga 120.000 Hektar

ByAdmin

Sep 18, 2026
Pedagang menunjukan bawang putih di salah satu pasar di Jakarta, Selasa (3/3/2020). / Bisnis - Abdurachman
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com — Pemerintah resmi menggulirkan peta jalan ambisius pengembangan komoditas bawang putih guna mengakhiri ketergantungan impor yang telah mencengkeram rantai pasok pangan nasional selama lebih dari tiga dekade. Melalui Cetak Biru Pengembangan Bawang Putih 2026–2029 yang disiapkan Kementerian Pertanian (Kementan), pemerintah menargetkan perluasan luas tanam secara bertahap hingga menyentuh 120.000 hektar pada 2029, dengan target produksi umbi konsumsi mencapai 630.000 ton.

Volume produksi tersebut diproyeksikan mampu mencukupi rerata konsumsi bawang putih nasional yang berada di kisaran 600.000 hingga 650.000 ton per tahun. Capaian ini diharapkan memulihkan kembali memori kejayaan swasembada 1995, ketika Indonesia mampu memproduksi 152.421 ton sebelum akhirnya terpuruk hingga sekitar 90 persen kebutuhan harus ditopang oleh pasokan luar negeri, terutama China.

Direktur Perbenihan Hortikultura Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan, Muhammad Agung Sunusi, mengungkapkan bahwa strategi penambahan luas areal tanam dirancang melalui skenario terukur selama empat tahun ke depan. Tahun 2026 ditetapkan sebagai fase penguatan fondasi awal dengan alokasi tanam 5.000 hektar yang diproyeksikan menghasilkan 20.000 ton benih. Pada tahap permulaan ini, penanaman difokuskan di sejumlah sentra, antara lain Jawa Tengah seluas 2.240 hektar, Nusa Tenggara Barat (NTB) seluas 762 hektar, Sumatera Utara seluas 563 hektar, Jawa Timur seluas 358 hektar, dan Jawa Barat seluas 245 hektar.

“Tahun 2026 menjadi fase penguatan awal. Selanjutnya pada 2027, ekspansi penanaman diperluas menjadi 20.000 hektar dengan target produksi 80.000 ton benih. Masuk 2028, luas tanam melonjak ke 80.000 hektar untuk memproduksi 120.000 ton benih dan mulai menghasilkan 320.000 ton hingga 350.000 ton bawang putih konsumsi,” ujar Agung dalam webinar yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama Pupuk Indonesia Holding Company di Jakarta. Puncaknya, pada 2029, luas tanam ditargetkan genap 120.000 hektar dengan pasokan stabil 120.000 ton benih dan 630.000 ton bawang putih konsumsi untuk mewujudkan swasembada penuh.

Eskalasi lahan sebesar 24 kali lipat dalam kurun waktu empat tahun tersebut diakui menuntut kerja ekstra keras. Agung menggarisbawahi bahwa kunci keberhasilan swasembada bukan hanya memperluas areal tanah, melainkan mendongkrak produktivitas panen petani yang selama periode 2018–2025 masih stagnan pada kisaran 6,39 hingga 8,16 ton per hektar. Kementan mematok target lompatan produktivitas hingga menyentuh angka 20 ton per hektar.

Untuk menopang target 120.000 hektar tersebut, Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sumber Daya Lahan Pertanian telah mengidentifikasi indikasi potensi lahan seluas 1,52 juta hektar di berbagai pulau. Kepala Pusat BRMP Hortikultura, Inti Pertiwi Nashwari, menjelaskan bahwa data potensi tersebut saat ini tengah ditapis secara ketat, mencakup aspek kesesuaian agroklimat mikro dan status legalitas kawasan tanah, seperti Areal Penggunaan Lain (APL), Hutan Produksi Konversi (HPK), maupun areal Hak Guna Usaha (HGU).

“Karakteristik bawang putih memerlukan iklim dan ketinggian tertentu. Kami bekerja sama dengan BMKG untuk memadukan peta kesesuaian lahan dengan teknologi stasiun cuaca otomatis (Automatic Weather Station/AWS) secara real-time, seperti yang telah terpasang di Sembalun, guna memitigasi risiko kegagalan akibat anomali iklim,” papar Inti.

Dari sisi agroteknologi, BRMP Hortikultura tengah mematangkan paket teknologi Produksi Lipat Ganda (Proliga) yang meliputi tata kelola olah tanah presisi, aplikasi benih bermutu, serta teknik pematahan masa dormansi umbi dari semula 4–8 bulan menjadi hanya sekitar 2 bulan. Riset juga diarahkan pada perbanyakan massal melalui kultur jaringan, pemurnian varietas lokal yang kerap tercampur di lapangan, serta rekayasa budidaya di luar musim (off-season) agar pasokan tidak terputus sepanjang tahun.

Paceklik Tiba dan Beras Kian Mahal, Beban Dapur Masyarakat Kian Menghimpit

Bunga Pinjaman PNM Mekaar Anjlok ke 8 Persen

Dilema Ekonomi 2026: Kemiskinan Menyusut, Rasio Gini Mendorong Kesenjangan

Guna menjamin kepastian berusaha bagi para petani, pemerintah menyadari perlunya instrumen perlindungan harga dari tekanan komoditas impor. Kementan telah resmi melayangkan surat usulan kepada Badan Pangan Nasional (Bapanas) terkait penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) bawang putih konde basah di tingkat petani sebesar Rp12.000 per kilogram, serta harga acuan penjualan konde benih kering sebesar Rp46.000 per kilogram. Regulasi harga ini diharapkan mampu mencegah jatuhnya harga di tingkat petani lokal saat panen raya tiba, sebagaimana disuarakan oleh Asosiasi Petani Bawang Putih (Asbati) yang menuntut pengetatan jadwal impor.

Langkah teknis budidaya di lapangan kian diperkuat dengan jaminan alokasi pupuk bersubsidi. Vice President Pengelolaan Pelanggan Pupuk Indonesia, Robin Radhian Lee, menegaskan bahwa pemupukan berkontribusi hingga 25 persen dalam menentukan produktivitas bawang putih, sehingga pihaknya berkomitmen mengawal prinsip lima tepat sasaran—mulai dari dosis, jenis, waktu, hingga cara aplikasi—demi mengawal keberhasilan peta jalan swasembada pangan ini. By Mukroni

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *