Harga Cabai Tembus Rp100 Ribu per Kg, 50 Ribu Warteg di Jabodetabek Tercekik

Sharing is caring

Harga Cabai Tembus Rp100 Ribu per Kg, 50 Ribu Warteg di Jabodetabek Tercekik

Jakarta, Kowantaranews.com   — Lonjakan harga komoditas hortikultura kembali memukul ketahanan sektor usaha mikro kuliner di kawasan perkotaan. Harga cabai di pasaran kini melesat menembus level psikologis Rp100.000 per kilogram, membuat lebih dari 50.000 pelaku usaha Warung Tegal (Warteg) di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) berada di bawah tekanan operasional yang kian menyesakkan.

Berdasarkan pemantauan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional dan Badan Pusat Statistik (BPS), harga cabai merah keriting melonjak drastis hingga menyentuh rata-rata Rp105.300 per kilogram. Pada saat yang sama, cabai rawit merah turut meroket ke kisaran Rp96.100 hingga Rp99.250 per kilogram di berbagai pasar tradisional. Eskalasi harga ini menunjukkan deviasi yang sangat tajam dari Harga Acuan Penjualan (HAP) di tingkat konsumen yang ditetapkan oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) melalui Peraturan Bapanas Nomor 17 Tahun 2023, yakni Rp57.000 per kilogram untuk cabai rawit merah dan batas atas Rp55.000 per kilogram untuk cabai merah keriting.

Baca Juga : Inflasi Cabai Rawit Tembus 104,35 Persen, 20 Provinsi Alami Lonjakan Ekstrem

Krisis harga ini bukan sekadar fenomena musiman lokal, melainkan disrupsi sistemik yang melanda secara luas. BPS mencatat kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) cabai rawit telah melanda setidaknya 269 kabupaten/kota atau setara dengan 74,72 persen wilayah administratif pemantauan di seluruh Indonesia. Di simpul distribusi utama kawasan Jabodetabek seperti Pasar Induk Kramat Jati, harga kulakan cabai berada jauh di atas batas toleransi ideal operasional warteg yang umumnya bertumpu pada kisaran Rp40.000 hingga Rp70.000 per kilogram.

Baca Juga : Harga Cabai Rawit di Nduga Papua Tembus Rp 200.000 per Kg, Tertinggi di Indonesia

Ketua Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni, (Kompas, 8 November 2026, Hal. 6) mengungkapkan bahwa lonjakan harga komoditas pedas ini langsung memicu pengetatan margin keuntungan (profit squeeze) yang sangat memukul kas pedagang kecil. Dalam operasional sehari-hari, satu unit warteg skala menengah membutuhkan sekitar 3 hingga 7 kilogram cabai per hari, sedangkan gerai berskala besar yang melayani pelanggan selama 24 jam menghabiskan pasokan antara 8 hingga 12 kilogram per hari. Kenaikan harga cabai yang berlipat ganda menambah beban belanja harian hingga ratusan ribu rupiah per gerai, yang berujung pada tergerusnya margin laba bersih warteg sebesar 5 hingga 10 persen di tengah kenaikan harga komoditas lain seperti beras, minyak goreng, dan daging ayam. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *