• Sel. Agu 25th, 2026

KowantaraNews

Jejak Warteg Warisan Lumbung Mataram, Semangat Sultan Agung dan Diplomasi Kyai Rangga

Akomodasi Suara Pemuda: Kunci Kedaulatan Pangan dan Regenerasi Petani di Desa

ByAdmin

Agu 25, 2026
Petani membawa hasil panen menggunakan traktor di areal persawahan lumbung pangan nasional di Desa Belanti Siam, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, 2021. ANTARA/Makna Zaezar
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com Pembangunan pedesaan di Indonesia kerap kali terjebak dalam pola pikir sentralistis yang serba ditentukan dari atas. Kebijakan yang lahir di meja-meja keputusan kawasan perkotaan sering kali gagal menangkap realitas serta kebutuhan riil masyarakat desa. Padahal, kedaulatan pangan dan keberlanjutan pedesaan sangat bergantung pada kekuatan, pengetahuan, serta pengalaman lokal yang dimiliki warga setempat. Dalam dinamika ini, suara kelompok pemuda menjadi elemen paling vital yang tidak boleh lagi sekadar didengar sebagai pelengkap, melainkan harus diakomodasi sebagai penggerak utama perubahan.

Generasi muda selama ini kerap diposisikan sebatas penerima estafet pembangunan secara pasif. Padahal, mereka memiliki potensi besar berupa energi, kreativitas, keahlian teknologi, dan wawasan baru yang sangat dibutuhkan untuk mentransformasi sektor agraria. Tanpa ruang partisipasi yang nyata, arus migrasi pemuda dari desa ke kota akan terus terjadi, memperparah krisis regenerasi petani di berbagai daerah.

Memberi Alasan bagi Pemuda untuk Bertahan

Kepala Bidang Advokasi, Riset, dan Jaringan Yayasan Bina Desa, Nur Lodji Hady, menegaskan pentingnya perubahan pendekatan dalam pembangunan desa. Menurutnya, pemerintah dan para pemangku kepentingan harus memastikan bahwa anak muda memiliki alasan yang kuat untuk tetap tinggal, kembali, dan berkarya di desanya. Pembangunan yang adil harus mampu memantik kebanggaan kaum muda untuk memberdayakan tanah kelahirannya sendiri.

Tantangan yang dihadapi pemuda desa memang tidak ringan. Nadya Amelia, seorang pemuda anggota Himpunan Tani Ngudi Makmur (HTNM) di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menceritakan bagaimana fenomena keterbatasan lapangan kerja, minimnya akses pendidikan dan layanan publik, hingga persepsi sosial bahwa kesuksesan hanya bisa dicapai di kota, membuat banyak rekannya memilih pergi meninggalkan desa.

Namun, bagi Nadya, keterbatasan tersebut justru menjadi peluang untuk melahirkan inovasi. Setelah delapan tahun menempuh pendidikan dan bekerja di perkotaan, ia mengambil keputusan berani untuk kembali ke desa dan mengelola pertanian alami bersama keluarganya. Dengan mengandalkan kemampuannya dalam mengelola media sosial dan pemasaran digital, Nadya berhasil memperluas jangkauan pasar bagi produk-produk pertanian desa. Pengalamannya membuktikan bahwa pemuda tidak perlu meninggalkan sektor pertanian demi masa depan yang sejahtera; mereka justru bisa hadir membawa nilai tambah bagi desa jika diberi kepercayaan dan kesempatan untuk memimpin.

Bertani Berkelanjutan dan Menjaga Ruang Hidup

Kesadaran untuk membangun desa juga tumbuh kuat di kawasan pesisir. Suci Ramdhani dari Komunitas Perempuan Nelayan Sipitangari di Dusun Lassang-Lassang, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, aktif mendampingi perempuan nelayan dalam mempertahankan ruang hidup dari ancaman agenda pembangunan yang tidak berpihak pada lingkungan. Suci menilai, kontribusi generasi muda tidak selalu harus diawali dengan program-program besar yang muluk. Yang paling utama adalah keberanian dan kemauan untuk mau mendengarkan, belajar, serta memahami secara mendalam persoalan akar rumput. Membangun desa, menurutnya, adalah tentang komitmen dan kepedulian terhadap masa depan tempat tinggal mereka.

Di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, kekhawatiran serupa mengenai hilangnya generasi penerus petani disuarakan oleh Wahyudin, Ketua Serikat Petani Alami (SPA) Butta Toa. Wahyudin menekankan bahwa transformasi pertanian modern tidak boleh semata-mata mengejar ambisi peningkatan produksi secara instan. Aspek ekologis, ekonomi, dan sosial harus berjalan beriringan secara seimbang. Melalui konsep pertanian berkelanjutan, penggunaan bahan kimia sintetis dikurangi demi menekan biaya produksi dan menjaga kesehatan hara tanah. Di saat yang sama, pemuda dibina untuk membangun ruang belajar bersama, saling berbagi pengetahuan, serta menciptakan produk pertanian sehat yang memiliki nilai jual layak.

Mengikis Stigma dan Membuka Ruang Kepemimpinan

Akademisi dari Program Studi Kajian Gender Sekolah Pascasarjana Universitas Indonesia, Mia Siscawati, mengapresiasi kebangkitan gerakan pemuda pedesaan ini. Menurut Mia, inisiatif-inisiatif lokal tersebut membuktikan bahwa pemuda desa memiliki modal sosial, pemahaman masalah, serta kapasitas tindakan yang tidak kalah berkualitas dibanding masyarakat perkotaan. Sayangnya, hingga kini suara mereka masih sering terabaikan dalam proses perumusan kebijakan publik.

Masa depan generasi muda desa sejatinya berada di tanah tempat mereka berpijak. Ketika pemerintah, akademisi, dan masyarakat luas mau meruntuhkan stigma lama serta membuka ruang seluas-luasnya bagi kepemimpinan anak muda, kedaulatan pangan nasional dan regenerasi petani tidak lagi sekadar menjadi angan-angan, melainkan realitas berkelanjutan yang terus bertumbuh. By Mukroni

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *