Jakarta, Kowantaranews.com — Setiap kali peringatan hari kemerdekaan tiba, narasi bahwa Indonesia telah dijajah oleh Belanda selama 350 tahun hampir selalu digaungkan kembali di tengah masyarakat. Narasi ini, meski berulang kali difungsikan sebagai pemantik jiwa nasionalisme dan solidaritas, menyimpan beban psikologis yang mendalam bagi cara pandang masyarakat pascakolonial. Historiografi modern melalui kajian hukum internasional G.J. Resink sejatinya telah membongkar klaim tiga setengah abad tersebut sebagai mitos historis yang ahistoris. Namun, pertanyaan mendasar yang tersisa adalah: mengapa memori sebagai bangsa yang terus-menerus terjajah begitu sukar dilepaskan dari kesadaran kolektif?
Untuk menjawab teka-teki psikososial ini, kerangka pemikiran psikiater dan filsuf antikolonial asal Martinik, Frantz Fanon, menawarkan analisis yang sangat krusial. Dalam karya-karya utamanya seperti Black Skin, White Masks dan The Wretched of the Earth, Fanon menggarisbawahi bahwa kolonialisme tidak pernah berhenti pada perampasan kekayaan alam, dominasi ekonomi, atau penaklukan militer semata. Lebih dari itu, kolonialisme adalah sebuah operasi psikopatologis yang bertujuan menguasai paradigma manusia—cara masyarakat yang dijajah memandang dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya.
Konstruksi Hierarki dan Penjajahan Pikiran
Fanon menjelaskan bahwa sistem kolonial bekerja secara sistematis membangun hierarki peradaban. Penjajah menempatkan diri mereka sebagai pihak yang rasional, modern, superior, dan beradab, sementara masyarakat terjajah dikondisikan pada posisi inferior, terbelakang, dan tidak berdaya. Ketika struktur kekuasaan asimetris ini berlangsung dalam kurun waktu yang lama, norma-norma kolonial terinternalisasi ke dalam ruang bawah sadar masyarakat yang dijajah.
Internalisasi ini melahirkan apa yang disebut sebagai coloniality of mind atau penjajahan kesadaran. Akibatnya, ketika kemerdekaan fisik berhasil diraih dan bendera penjajah diturunkan, penjajahan dalam ranah psikologis belum sepenuhnya usai. Subjek dari narasi keterjajahan itu kini diucapkan sendiri oleh masyarakat yang telah merdeka melalui pengakuan terselubung: “kami adalah bangsa yang lemah karena pernah dijajah selama 350 tahun”.
Bahaya Mentalitas Korban (Victimhood Mentality)
Pemeliharaan narasi mitos 350 tahun penjajahan secara tidak sadar memperkuat kompleks inferioritas (inferiority complex) dalam pranata sosial bangsa pascakolonial. Fanon mengamati bahwa masyarakat yang terus-menerus memelihara ingatan keterjajahan yang dilebih-lebihkan rentan terjebak dalam mentalitas korban (victimhood mentality). Mentalitas ini cenderung melumpuhkan inisiatif mandiri dan mendorong masyarakat untuk menyalahkan masa lalu atas ketertinggalan di masa kini.
Di samping itu, coloniality of mind bermanifestasi dalam kecenderungan mengagungkan standar-standar luar secara berlebihan (inlander mentality), di mana segala sesuatu yang berasal dari Barat atau mantan penjajah dianggap lebih valid, beradab, dan superior. Dalam konteks tata kelola berbangsa, penjajahan paradigma ini juga kerap membuat birokrasi dan elit pascakolonial meniru gaya kepemimpinan otoriter dan hierarkis yang dahulu diterapkan oleh pemerintah kolonial terhadap rakyatnya sendiri.
Dekolonisasi Kesadaran: Menjadi Subjek Berdaulat
Lantas, bagaimana bangsa yang telah merdeka dapat melepaskan diri dari cengkeraman psikologi kolonial tersebut? Fanon tidak pernah menganjurkan amnesia sejarah atau mengabaikan luka penderitaan masa lalu. Sebaliknya, pengalaman kolonialisme harus tetap dicatat sebagai bagian penting dari proses pembentukan identitas nasional.
Akan tetapi, Fanon menekankan pentingnya melakukan dekolonisasi pikiran (decolonization of the mind). Membuka belenggu mental ini berarti mengubah posisi bangsa dari subjek pasif yang meratapi takdir sejarah menjadi subjek aktif (sovereign agency) yang memegang kendali penuh atas masa depannya sendiri.
Mengoreksi narasi mitos 350 tahun dijajah—sebagaimana yang ditunjukkan oleh penelitian G.J. Resink mengenai fakta bahwa berbagai kerajaan di Nusantara tetap mempertahankan kedaulatannya hingga awal abad ke-20—adalah langkah epistemologis yang sangat penting. Memahami bahwa bangsa ini tidak ditaklukkan secara mudah dan mutlak selama tiga setengah abad membantu meruntuhkan klaim keperkasaan kolonial yang selama ini diyakini secara naif.
Mengenal Sejarah Warteg: Strategi Ketahanan Pangan Abad ke-17 yang Kini Jadi Ikon Kuliner Merakyat
Menuju Kemerdekaan Epistemologis Hakiki
Kemerdekaan sejati yang diimpikan Frantz Fanon bukan sekadar peralihan kekuasaan politik di atas kertas, melainkan sebuah transformasi kesadaran manusia. Bangsa Indonesia perlu berani menentukan tolok ukur kemajuannya sendiri tanpa harus selalu mengekor pada standar pascakolonial.
Melepaskan diri dari inferioritas masa lalu berarti menumbuhkan kepercayaan diri kebudayaan, mengapresiasi inovasi lokal, serta membangun tata kelola kemasyarakatan yang memanusiakan seluruh warga negara. Sudah saatnya bangsa ini melangkah keluar dari bayang-bayang mitos keterjajahan, menanggalkan mentalitas inferior, dan berdiri tegak sebagai nation yang benar-benar merdeka secara fisik, politik, dan pikiran. By Mukroni
- Berita Terkait :
Mengenal Sejarah Warteg: Strategi Ketahanan Pangan Abad ke-17 yang Kini Jadi Ikon Kuliner Merakyat
Transformasi Lumbung Mataraman: Warisan Ketahanan Pangan Sultan Agung dalam Gastronomi Indonesia
Layar Lebar “Jejak Warteg”: Mengurai Memori Kolektif dan Resiliensi Perantau di Rimba Beton Jakarta
Menelusuri Jejak Warteg: Dari Strategi Logistik Sultan Agung hingga Jaringan Pangan Urban Jakarta
Evolusi Kuliner Pantura: Akulturasi Budaya Tionghoa-Jawa dalam Logistik Perang Abad ke-17
Mitos atau Fakta? Menjawab Hubungan Bupati Kyai Rangga dan Sejarah Berdirinya Warung Tegal
Jejak Logistik Mataram 1628: Mengungkap Peran Kyai Rangga dalam Genealogi Warung Tegal
Menelusuri Sidakaton dan Sidapurna: Desa Para ‘Jenderal’ Warteg dan Jejak Pelarian Pasukan 1628
Warisan Kyai Rangga: Bagaimana Kegagalan Pengepungan Batavia Menciptakan Pahlawan Kuliner Rakyat
Operasi Senyap Sultan Agung: Menelusuri Jejak Logistik Perang di Balik Misi Damai Bupati Tegal
Stasiun Jakarta Kota dan Bogor: Saksi Bisu Era Kolonial Hindia Belanda
Mobilisasi Penduduk Tegal ke Jakarta: Jejak Sejarah di Masa Sultan Agung Menyerang VOC 1628 M
Lokasi Taman Eden dalam Tradisi Yahudi: Antara Geografi, Alegori, dan Mistisisme
Hutan Orang Rimba Jadi Kebun Sawit: Berondolan Dicuri, Pemerintah Sibuk Selfie ?
Buruh Bersuara, Monas Jadi Panggung Prabowo, Warteg Tetep Jadi Pelarian!
Mengerikan! Sindikat Internasional Ekspor Kulit Mangrove Ilegal, Laut Maluku Menjerit!
BENCANA MEGA-DEFORESTASI: PUNCAK BOGOR JADI KUBURAN HUTAN, JAKARTA LUMPUH OLEH AIR MATA ALAM!
Dilema Besar! Pembangunan IKN atau Kesejahteraan Rakyat?
Retakan Tanah Mengintai: Perlombaan Melawan Waktu di Tengah Ancaman Longsor Pekalongan
Di Balik Obsesi Swasembada Pangan: Lingkungan dan Masyarakat yang Terlupakan
Makan Bergizi Gratis Ngebut! 82,9 Juta Pelajar Siap Disantuni di 2025!
Kemiskinan Menyusut, Tapi Jurang Kesenjangan Kian Menganga!
Jeritan Nelayan: Terjebak di Balik Tembok Laut, Rezeki Kian Terkikis
Menimbang Makna di Balik Perayaan Tahun Baru
Insiden di Mahkamah Internasional: Pengacara Israel Disebut ‘Pembohong’ oleh Pengamat Selama Sidang
Raja Saudi Salman Dirawat karena Radang Paru-paru di Istana Al Salam
Helikopter dalam Konvoi yang Membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi Jatuh di Azerbaijan Timur
JPMorgan Chase Tarik Investasi dari Elbit Systems di Tengah Tekanan Kampanye Boikot
76 Tahun Nakba: Peringatan Sejarah dan Bencana yang Berkepanjangan di Gaza
Hakim Kanada Tolak Pembubaran Demo Pro-Palestina di Universitas McGill
Blokade Bantuan ke Gaza: Protes, Krisis Kelaparan, dan Konsekuensi Global
Netanyahu Tegaskan Israel Bukan “Negara Bawahan” AS di Tengah Ketegangan dengan Biden
Mayor Angkatan Darat AS Mengundurkan Diri untuk Memprotes Dukungan Amerika terhadap Israel di Gaza

