Banjir Investasi Asing Capai 50,4 Miliar Dolar AS, Ekonomi Vietnam Melesat Cepat
Jakarta, Kowantaranews.com — Arus deras penanaman modal asing (foreign direct investment/FDI) dan lonjakan performa perdagangan internasional berhasil memacu laju perekonomian Vietnam melesat kencang. Berdasarkan catatan perkembangan ekonomi sepanjang tahun 2026, nilai kesepakatan investasi asing yang masuk ke negara tersebut menembus angka fantastis 50,4 miliar dolar AS. Nilai tersebut mencatatkan lonjakan tajam sebesar 76,4 persen jika dibandingkan dengan capaian pada tahun 2025. Guyuran modal internasional ini sebagian besar terkonsentrasi pada sektor industri manufaktur serta ekspansi sektor pengembang perumahan, yang secara langsung menggerakkan kapasitas produksi nasional.
Dampak masuknya modal secara masif tersebut terlihat nyata pada performa produk domestik bruto (PDB). Berdasarkan data resmi yang dirilis badan statistik Vietnam, NSO, pada 3 Oktober 2026, ekonomi Vietnam pada kuartal ketiga (Juli–September) 2026 melesat tumbuh sebesar 9,95 persen secara tahunan (year on year). Pertumbuhan ini menunjukkan akselerasi yang signifikan dari kuartal kedua 2026 yang sebesar 8,81 persen, sekaligus menorehkan rekor pertumbuhan kuartalan tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Secara kumulatif, rata-rata pertumbuhan ekonomi Vietnam dalam sembilan bulan pertama tahun 2026 mencapai 9,01 persen. Angka tersebut menjadi pertumbuhan sembilan bulan tertinggi dalam 15 tahun terakhir, melampaui capaian ekonomi tahun sebelumnya yang tumbuh di level 8 persen. Di tengah ekspansi produksi yang agresif, stabilitas makroekonomi tetap terjaga dengan inflasi inti periode Januari hingga September 2026 yang terkendali di angka 4,26 persen.
Beras Fortifikasi Ditarik, Beras Premium Menghilang: Apa yang Terjadi di Balik Rantai Pasok Pangan Kita?
Kinerja perdagangan luar negeri turut menjadi motor penggerak utama. Ekspor Vietnam melonjak 24,5 persen (year on year), sementara laju impor meningkat 36,7 persen seiring tingginya kebutuhan bahan baku industri. Menariknya, daya saing produk Vietnam tetap tangguh di tengah hantaman perang tarif dari Amerika Serikat yang merupakan pasar ekspor utamanya. Surplus neraca perdagangan Vietnam dengan Negeri Paman Sam justru naik 23,8 persen hingga menyentuh 122,6 miliar dolar AS dalam sembilan bulan pertama tahun 2026. Capaian ini kian memantapkan posisi Vietnam sebagai salah satu “keajaiban ekonomi” di kawasan Asia.
Peta Jalan Bawang Putih 2026–2029: Pemerintah Siapkan Eskalasi Lahan hingga 120.000 Hektar
Pengajar Jurusan Sejarah dan Hubungan Internasional Universitas Ilmu Sosial dan Humaniora Ho Chi Minh City, Hoang Manh Huyen, menilai bahwa kunci keberhasilan Vietnam terletak pada iklim politik yang stabil serta dukungan penuh pemerintah untuk mencapai target ambisius, yakni pertumbuhan ekonomi dua digit dalam lima tahun ke depan. Dukungan tersebut diwujudkan melalui reformasi struktural di berbagai lini.
Paceklik Tiba dan Beras Kian Mahal, Beban Dapur Masyarakat Kian Menghimpit
Secara khusus, terobosan Partai Komunis Vietnam bertumpu pada empat pilar utama: reformasi kelembagaan, pembangunan infrastruktur strategis secara terarah, pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta sikap selektif dalam menerima investasi yang berorientasi pada keberlanjutan. Selain itu, keunggulan letak geografis yang berbatasan langsung dengan Provinsi Guangxi, China, menjadikan Vietnam magnet utama bagi pemindahan basis operasi korporasi global maupun pelaku bisnis asal China yang mencari basis manufaktur lebih kompetitif di kawasan Asia Tenggara.
Guna memastikan proyek-proyek strategis tidak terhambat birokrasi, pemerintah Vietnam turut melakukan perombakan regulasi pembebasan lahan yang direncanakan disahkan pada Oktober 2026. Kebijakan percepatan ini membolehkan proses pengadaan lahan dan pembangunan fisik dimulai mendahului penyelesaian kompensasi. Namun, hal tersebut diimbangi dengan kepastian hak warga; aturan baru menerapkan penilaian harga ganti rugi berbasis data ilmiah yang transparan, skema pemulihan kehidupan warga terdampak, serta hak prioritas kepemilikan tanah di kawasan yang sama setelah ditata ulang.
Menteri Pertanian dan Lingkungan Vietnam, Trinh Viet Hung, menegaskan bahwa reformasi ini ditujukan untuk mengawal target pertumbuhan ekonomi minimal 10 persen per tahun hingga 2030. Salah satu megaproyek yang sedang digalakkan adalah revitalisasi koridor delta Sungai Merah di Hanoi yang melibatkan penataan wilayah pemukiman sekitar 200.000 warga.
Langkah ekspansif Vietnam menuai optimisme dari dunia internasional. Pada Juli 2026, Bank Pembangunan Asia (ADB) telah merevisi naik proyeksi pertumbuhan PDB Vietnam dari 7,2 persen menjadi 7,8 persen. ADB menilai kokohnya konsumsi domestik, ketahanan manufaktur, dan derasnya modal asing akan terus menjaga momentum pertumbuhan Vietnam di jalur cepat By Mukroni

