Jakarta, Kowantaranews.com – Di tengah kegelapan total yang menyelimuti Banda Aceh pascabencana hidrometeorologi dahsyat Desember 2025, sebuah anomali sosial muncul di setiap sudut kota. Ketika infrastruktur vital negara lumpuh, kedai-kedai kopi tradisional justru tetap menyala terang, bertransformasi menjadi oase produktivitas bagi para penyintas yang berjuang menjaga denyut kehidupan profesional mereka di tengah kepungan krisis.
Bencana yang dipicu curah hujan ekstrem ini telah melanda 18 kabupaten/kota di seluruh Aceh, merusak lebih dari 164.000 rumah warga dan merenggut 430 nyawa. Hingga pertengahan Desember, sekitar 60 persen jaringan listrik di provinsi tersebut masih padam total, sementara pemulihan menara BTS telekomunikasi baru menyentuh angka 40 persen akibat banyaknya kabel fiber optik yang terputus. Dalam situasi “lubang hitam” informasi ini, warga berbondong-bondong memadati kedai kopi yang mengoperasikan generator set (genset) mandiri demi mendapatkan aliran listrik pengisi daya perangkat.
Bagi para jurnalis, kedai kopi kini bukan sekadar tempat bersantai, melainkan newsroom darurat yang sangat vital. Dengan deretan kabel rol yang menjuntai di antara meja, mereka berpacu dengan waktu untuk mengisi daya laptop serta kamera guna melaporkan kondisi banjir kepada dunia luar. Pemilik kedai kopi, seperti yang terjadi di wilayah Bener Meriah dan Banda Aceh, seringkali membuka akses internet satelit Starlink lebih lama bagi para pekerja media, menciptakan nadi komunikasi krusial di saat jaringan seluler terputus total selama berhari-hari.
Ketangguhan serupa terlihat di sektor pendidikan tinggi. Sejak Universitas Syiah Kuala (USK) secara resmi meliburkan perkuliahan tatap muka hingga 13 Desember 2025, dosen dan mahasiswa terpaksa mencari ruang alternatif untuk tetap menjalankan tugas akademik mereka. Pengajar seperti Izarul Machdar mengakui kesulitan mengerjakan laporan administratif di rumah tanpa energi listrik, sementara mahasiswa semester lima seperti Ahyar menghabiskan waktu hingga delapan jam di warkop untuk mengakses jurnal internasional dan menggunakan perangkat lunak khusus laporan praktikum.
Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra
Namun, cahaya di “oase” ini menuntut pengorbanan ekonomi yang tidak sedikit bagi semua pihak. Para pengelola kedai kopi harus menghadapi biaya operasional yang membengkak hingga dua kali lipat akibat penggunaan BBM untuk genset. Di wilayah terisolasi seperti Aceh Tengah, harga bahan bakar bahkan sempat melambung hingga Rp 50.000 per liter. Selain itu, krisis pasokan elpiji yang menyebabkan antrean warga hingga 14 hari memaksa pengusaha warkop beralih menggunakan kayu bakar untuk memasak. Beban operasional ini kemudian dialihkan melalui kenaikan harga kopi dan makanan di kedai, yang tetap dibayar warga demi akses utilitas energi yang langka.
Juru Bicara Pos Komando Tanggap Darurat, Murthalamuddin, menyatakan bahwa kelumpuhan infrastruktur ini telah menciptakan tekanan sosial yang sangat berat, bahkan memicu aksi pengibaran bendera putih di beberapa wilayah sebagai simbol permintaan bantuan mendesak. Di tengah situasi tersebut, kedai kopi berdiri kokoh sebagai benteng terakhir resiliensi komunal. Prof. Izarul Machdar menegaskan bahwa fenomena ini adalah pengingat penting bagi pemerintah pusat untuk segera memulihkan fasilitas dasar tanpa terjebak prosedur birokrasi, karena keselamatan dan produktivitas rakyat adalah prioritas utama dari penyelamatan negara. Warkop di Aceh kini bukan sekadar ruang publik, melainkan infrastruktur kritis organik yang menyelamatkan harapan di tengah bencana. By Mukroni
- Berita Terkait :
Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra
Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan
Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA
Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah
UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok
Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II
“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS
Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis
Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar
UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”
Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop
Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!
IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!
Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!
Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!
Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!
Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!
Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!
TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!
Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!
Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!
Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?
Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!
Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!
Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!
Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

