Jakarta, Kowantaranews.com — Tahun 2026 tidak disambut dengan pesta pora euforia pasca-pandemi, melainkan dengan pragmatisme yang dingin dan penuh perhitungan. Di balik gemerlap kembang api yang baru saja usai, tersimpan pergeseran psikologis mendalam pada masyarakat Indonesia. Hasil jajak pendapat terbaru Litbang Kompas yang digelar pada 10-13 November 2025 menyingkap sebuah realitas baru: bagi mayoritas warga, tahun ini bukan lagi tentang mengejar kebahagiaan abstrak, melainkan pertarungan nyata untuk mengamankan neraca keuangan keluarga.
Data berbicara lantang. Sebanyak 32,93 persen responden—angka tertinggi dalam survei—menjadikan “penguatan ekonomi dan finansial” sebagai resolusi utama mereka. Angka ini jauh melampaui keinginan untuk hidup lebih bahagia (12,38 persen) atau pengembangan spiritual yang kini terpuruk di bawah 5 persen. Namun, jika dibedah lebih dalam, angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah jeritan sunyi dari kelas menengah yang sedang terhimpit.
Paradoks Kelas Menengah: Terlalu Kaya untuk Dibantu, Terlalu Miskin untuk Tenang
Narasi yang sering beredar adalah bahwa kelompok masyarakat miskinlah yang paling terobsesi dengan uang. Namun, temuan Litbang Kompas mematahkan asumsi tersebut. Justru kelompok menengah atas (37,7 persen) dan kelas atas (37,44 persen) yang paling agresif menetapkan target finansial sebagai prioritas hidup mati mereka di 2026. Sebaliknya, kelas bawah (37,45 persen) lebih memilih resolusi “lebih dekat dengan keluarga”.
Mengapa orang berduit justru lebih cemas? Eko Endarto, pendiri Finansia Consulting, menyebut fenomena ini sebagai structural anxiety atau kecemasan struktural. Kelas menengah Indonesia kini hidup dalam posisi “sandwich” yang brutal. Mereka tidak menikmati jaring pengaman sosial atau subsidi pemerintah layaknya kelas bawah, namun mereka juga tidak memiliki ketahanan aset tak terbatas layaknya konglomerat. Mereka berjalan sendirian di titian tali ekonomi tanpa jaring pengaman.
Kisah Yedida Rani (41), seorang pemilik apotek di Surabaya, adalah monumen hidup dari kecemasan ini. Meski suaminya bekerja di perusahaan multinasional—posisi yang diidamkan jutaan orang—Rani telah menetapkan mode “austerity” atau penghematan ketat bagi keluarganya di 2026. “Bahkan, kalau diperlukan, kami akan jual rumah yang tidak terpakai,” ujarnya. Keputusan untuk melikuidasi aset properti demi dana pendidikan anak ke luar negeri menandakan hilangnya kepercayaan pada stabilitas pendapatan jangka pendek. Bagi Rani dan jutaan kelas menengah lainnya, 2026 adalah tahun pertahanan, bukan ekspansi.
Ilusi Makroekonomi dan Kontraksi Upah Riil
Kecemasan di tingkat mikro ini memiliki basis kuat pada fundamental makroekonomi. Meskipun pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi ambisius sebesar 5,4 persen untuk 2026 , realitas di lapangan terasa berbeda. Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, memproyeksikan pertumbuhan yang lebih moderat di kisaran 4,9–5,1 persen. Yang lebih mengkhawatirkan, Yusuf menyoroti adanya kontraksi upah riil di sektor-sektor vital seperti manufaktur, perdagangan, dan konstruksi.
Artinya, meskipun seseorang masih bekerja, nilai gaji mereka secara efektif menyusut tergerus inflasi biaya hidup. Ditambah lagi, ruang fiskal pemerintah di tahun 2026 diprediksi menyempit, yang berpotensi mengurangi bantalan stimulus bagi konsumsi rumah tangga. Inilah “badai sempurna” yang diantisipasi oleh kelas menengah: pendapatan stagnan, biaya hidup naik, dan bantuan negara yang minim.
Gen Z: Generasi Paling Rapuh yang Ingin Jadi “Staff Ekspor Impor”
Kecemasan ini bermutasi menjadi bentuk yang unik pada Generasi Z. Menurut survei Sun Life Financial Resilience Index, Gen Z adalah generasi dengan tingkat keamanan finansial terendah, di mana hanya 49 persen yang merasa aman, bandingkan dengan 63 persen pada generasi Baby Boomers. Ketidakamanan ini memicu obsesi karir yang spesifik.
Di media sosial X (Twitter), akun @nocturnhumaan mencuitkan keinginan menjadi “staff ekspor impor” sebagai resolusi 2026. Ini bukan sekadar cita-cita acak. Di tengah maraknya gig economy dan pekerjaan informal yang tidak menentu, Gen Z kini merindukan stabilitas korporasi formal. Namun ironisnya, data Apindo menunjukkan tingkat pengangguran Gen Z masih berada di angka 17 persen, dengan penyerapan tenaga kerja formal yang kian seret akibat investasi yang lebih padat modal ketimbang padat karya.
Sosiologi Survival: Runtuhnya Romantisme Sosial
Sosiolog Universitas Nasional, Nia Elvina, memberikan analisis menohok mengenai fenomena ini. Ia melihat bahwa tekanan ekonomi telah memaksa masyarakat kembali ke basis paling purba: bertahan hidup. “Ekonomi merupakan basis struktur sosial,” tegas Nia. Ketika basis ini goyang, suprastruktur sosial seperti hobi, seni, bahkan keharmonisan keluarga menjadi korban.
Data memperlihatkan bahwa keinginan untuk “meningkatkan spiritualitas” dan “pengembangan diri” kini menjadi barang mewah yang tak terjangkau oleh pikiran rakyat kebanyakan. Bahkan, Nia memperingatkan potensi retaknya kohesi sosial. Tekanan untuk mencari uang tambahan (side hustles) mengurangi waktu interaksi berkualitas antaranggota keluarga. Bagi kelas menengah, keluarga kini menjadi “biaya” yang harus dikelola, berbeda dengan kelas bawah yang menjadikan keluarga sebagai “aset” sosial satu-satunya saat krisis menerpa.
Memasuki 2026, wajah Indonesia bukan lagi wajah yang penuh senyum optimisme buta. Ini adalah wajah yang waspada, penuh perhitungan, dan sangat pragmatis. Resolusi tahun ini adalah cermin dari sebuah bangsa yang sedang bersiap menghadapi ketidakpastian, di mana dompet yang tebal dianggap sebagai satu-satunya perisai yang masuk akal.
- Berita Terkait :
Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi
Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli
Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025
Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026
Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra
Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan
Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA
Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah
UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok
Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II
“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS
Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis
Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar
UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”
Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop
Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!
IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!
Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!
Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!
Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!
Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!
Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!
TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!
Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!
Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!
Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?
Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!
Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!
Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!
Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

