Jakarta, Kowantaranews.com – Pemerintah Indonesia boleh saja bernapas lega setelah menutup tahun 2025 dengan catatan gemilang: swasembada beras kembali dalam genggaman. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi bahwa produksi beras nasional pada 2025 mencapai angka 34,77 juta ton, menciptakan surplus sekitar 3,5 juta ton di atas kebutuhan konsumsi tahunan. Namun, di balik seremonial keberhasilan menihilkan impor beras medium untuk konsumsi masyarakat umum, alarm bahaya tengah berbunyi nyaring dari tiga penjuru sekaligus: anomali iklim global, bencana hidrometeorologi di lumbung pangan regional, dan kerusakan struktural tanah yang kian kritis.
Euforia swasembada ini menghadapi ujian pertamanya justru pada awal tahun 2026. Di saat pemerintah menargetkan kelanjutan tren positif, alam memberikan respons berbeda di wilayah Sumatera. Laporan BPS per Januari 2026 mencatat kerusakan masif pada lahan pertanian di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akibat banjir dan longsor. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengungkapkan data yang mengkhawatirkan: sebanyak 11,43 persen lahan padi di ketiga provinsi lumbung pangan tersebut berisiko mengalami puso atau gagal panen total.
Dampak bencana ini bukan sekadar statistik di atas kertas. Proporsi tanaman padi yang siap panen (standing crop) di wilayah tersebut anjlok menjadi hanya 34,63 persen pada November 2025, jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Gangguan pasokan dari Sumatera ini berpotensi mengguncang stabilitas harga beras di wilayah barat Indonesia, memaksa Perum Bulog untuk memobilisasi stok cadangan lebih awal dari yang direncanakan.
Namun, ancaman terbesar bagi ambisi pangan Presiden Prabowo Subianto bukanlah banjir sesaat, melainkan “raksasa tidur” bernama El Niño yang diprediksi bangun kembali pada pertengahan 2026. Berdasarkan analisis model iklim dari Severe Weather Europe dan Climate Prediction Center (CPC) NOAA, masa transisi dari La Niña menuju kondisi netral akan terjadi pada awal tahun, namun probabilitas kembalinya El Niño meningkat drastis menjadi di atas 35 persen memasuki kuartal ketiga (Juli-September) 2026.
Jika El Niño 2026 menguat, Indonesia berisiko mengulang mimpi buruk kekeringan 2023. Guru Besar IPB University, Dwi Andreas Santosa, memproyeksikan bahwa fenomena ini dapat memangkas produksi beras nasional hingga 1,73 juta ton pada 2026. Penurunan produksi sebesar ini setara dengan hilangnya konsumsi beras seluruh penduduk Indonesia selama hampir tiga minggu. Risiko ini diperparah oleh fakta bahwa El Niño sering kali memundurkan awal musim tanam raya berikutnya hingga ke awal 2027, menciptakan periode paceklik yang panjang dan melelahkan.
Di sisi lain, kemampuan lahan pertanian Indonesia untuk menahan guncangan iklim ternyata sangat rapuh. Hasil Survei Ekonomi Pertanian (SEP) 2024 menyingkap fakta pahit bahwa 66,49 persen lahan pertanian di Indonesia masuk dalam kategori “tidak berkelanjutan”. Praktik eksploitasi lahan yang berlebihan demi mengejar target indeks pertanaman (IP) 300, ditambah penggunaan pupuk kimia yang masif, telah mematikan biologi tanah. Tanah yang sakit tidak mampu menyimpan air dengan baik saat kemarau dan rentan tergerus saat banjir, menjadikan fondasi swasembada Indonesia berdiri di atas tanah yang “lelah.”
Merespons konvergensi ancaman ini, Kementerian Pertanian di bawah komando Andi Amran Sulaiman telah menyiapkan strategi agresif dengan anggaran jumbo. Untuk tahun 2026, pemerintah mengalokasikan dana sekitar Rp 10 triliun khusus untuk program cetak sawah baru seluas 400.000 hektar. Strategi ekstensifikasi ini menyasar wilayah di luar Jawa seperti Papua Selatan, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan, dengan dukungan penuh dari “Brigade Swasembada Pangan”—satuan tugas gabungan yang melibatkan TNI dan Kementerian Pekerjaan Umum. Selain itu, program pompanisasi terus digenjot untuk mengairi sawah tadah hujan, sebuah langkah taktis untuk melawan kekeringan.
Pertanyaannya kini, apakah pembukaan lahan baru dan pompanisasi mampu berpacu melawan kecepatan perubahan iklim dan degradasi lahan? Tahun 2026 akan menjadi pembuktian apakah surplus 2025 adalah awal dari kemandirian pangan yang abadi, atau sekadar jeda singkat sebelum krisis kembali melanda. Yang pasti, dengan impor beras khusus industri (broken rice) yang masih berjalan , definisi swasembada Indonesia masih menyisakan catatan kaki yang perlu diperhatikan dengan seksama. By Mukroni
- Berita Terkait :
Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut
Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit
Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi
Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli
Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025
Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026
Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra
Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan
Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA
Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah
UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok
Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II
“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS
Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis
Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar
UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”
Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop
Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!
IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!
Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!
Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!
Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!
Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!
Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!
TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!
Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!
Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!
Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?
Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!
Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!
Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!
Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

