Jakarta, Kowantaranews.com – Ambisi pemerintah untuk mewujudkan swasembada gula konsumsi pada tahun 2026 menghadapi realitas paradoksal di lapangan. Di satu sisi, pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyuarakan optimisme penghentian impor Gula Kristal Putih (GKP). Namun di sisi lain, kalangan pengamat dan asosiasi petani memproyeksikan bahwa produksi domestik tahun ini akan mengalami stagnasi, bergerak di garis datar yang nyaris sama dengan capaian tahun sebelumnya. Kunci dari klaim “swasembada” tahun ini ternyata bukan terletak pada lonjakan produktivitas tebu yang signifikan, melainkan pada tumpukan stok sisa (carry-over stock) tahun 2025 yang melimpah ruah di gudang.
Berdasarkan analisis data dan proyeksi lapangan, produksi Gula Kristal Putih (GKP) nasional pada tahun 2026 diperkirakan hanya akan berada di kisaran 2,6 juta hingga 2,7 juta ton. Angka ini tidak menunjukkan pergerakan berarti jika dibandingkan dengan realisasi produksi tahun 2025 yang tercatat sebesar 2,67 juta ton. Pengamat pergulaan, Yadi Yusriyadi, menegaskan bahwa potensi produksi GKP tahun 2026 relatif stagnan meskipun secara statistik ada pencatatan penambahan luas area tanam. Stagnasi ini terjadi akibat kombinasi faktor agronomis yang tidak optimal dan penurunan animo petani pasca-musim giling yang mengecewakan pada tahun sebelumnya.
Meskipun produksi diramal jalan di tempat, kalkulasi neraca pangan pemerintah menunjukkan bahwa Indonesia secara teknis dapat menutup keran impor gula konsumsi tahun ini. Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyatakan keyakinannya bahwa stok akhir tahun 2025 yang menjadi stok awal 2026 mencapai angka fantastis, yakni sekitar 1,44 juta ton. Jika stok awal ini ditambahkan dengan proyeksi produksi moderat sebesar 2,7 juta ton, maka total ketersediaan gula nasional akan mencapai lebih dari 4,1 juta ton. Dengan asumsi kebutuhan konsumsi nasional yang terkoreksi turun ke angka 2,84 juta ton per tahun, Indonesia akan memiliki surplus neraca tanpa perlu mendatangkan sebutir pun gula konsumsi dari luar negeri.
Namun, di balik kenyamanan statistik tersebut, terdapat ancaman klimatologi yang nyata. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memperingatkan adanya fenomena La Niña lemah yang berlangsung hingga kuartal pertama 2026. Curah hujan yang tinggi diprediksi akan mengguyur sentra-sentra tebu, terutama di Jawa Timur yang menyumbang hampir separuh produksi nasional. Bagi tanaman tebu, hujan yang turun terus-menerus selama fase pematangan adalah berita buruk. Air hujan akan memacu pertumbuhan vegetatif (daun dan batang) namun menghambat pembentukan sukrosa (gula). Akibatnya, bobot tebu mungkin berat karena kandungan air, namun rendemen atau kadar gulanya anjlok. Inilah yang disebut sebagai “perangkap rendemen” yang membuat volume tebu tidak berbanding lurus dengan produksi gula kristal.
Selain faktor cuaca, mentalitas petani tebu rakyat sedang berada di titik nadir. Sepanjang tahun 2025, petani menghadapi situasi ekonomi yang pelik. Harga lelang gula petani seringkali jatuh mendekati atau bahkan di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) Rp 14.500 per kilogram akibat pasar yang jenuh. Situasi diperparah dengan anjloknya harga tetes tebu (molase) dari kisaran Rp 3.000 menjadi hanya Rp 1.500 per kilogram, yang memangkas pendapatan sampingan petani secara drastis.
Target Operasional 2026 Terancam: Koperasi Merah Putih Terganjal Masalah Lahan dan Pembiayaan
Kondisi pasar yang lesu ini diduga kuat akibat “rembesan” gula rafinasi industri ke pasar konsumsi rumah tangga, yang mendesak posisi gula petani lokal. Meskipun pemerintah telah mengintervensi dengan dana talangan Rp 1,5 triliun melalui ID Food dan skema Danantara untuk menyerap gula petani, trauma kerugian finansial telah membuat banyak petani enggan melakukan perawatan maksimal atau peremajaan tanaman (bongkar ratoon) untuk musim tanam 2026.
Dengan demikian, narasi swasembada gula tahun 2026 dapat dikategorikan sebagai “swasembada statistik” yang rapuh. Ketahanan stok tahun ini lebih disebabkan oleh sisa impor masa lalu yang belum terserap, bukan karena kedaulatan produksi. Jika masalah fundamental seperti stagnasi rendemen akibat cuaca basah dan kebocoran gula rafinasi tidak segera dibenahi, “bantalan” stok 1,44 juta ton tersebut akan habis tergerus, dan Indonesia berpotensi kembali menghadapi kerawanan pasokan gula pada tahun 2027 mendatang. By Mukroni
- Berita Terkait :
Target Operasional 2026 Terancam: Koperasi Merah Putih Terganjal Masalah Lahan dan Pembiayaan
Di Balik Surplus 2025: Krisis Iklim dan Bencana Mengintai Lumbung Pangan RI
Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut
Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit
Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi
Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli
Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025
Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026
Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra
Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan
Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA
Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah
UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok
Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II
“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS
Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis
Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar
UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”
Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop
Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!
IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!
Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!
Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!
Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!
Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!
Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!
TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!
Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!
Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!
Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?
Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!
Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!
Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!
Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

