• Ming. Jan 18th, 2026

KowantaraNews

Kowantara News: Berita tajam, warteg jaya, UMKM tak terjajah!

Simfoni Industri Tembakau: Dari Ladang Petani hingga Sumbangan Triliunan bagi Negara

ByAdmin

Jan 18, 2026
Ilustrasi - Petani tembakau di Desa Ngale, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, Jatim sedang beraktivitas. ANTARA/HO-Diskominfo Kabupaten Madiun
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com -Di hamparan tanah vulkanis lereng Gunung Sumbing dan Sindoro, Jawa Tengah, hingga dataran kering berkapur di Madura, Jawa Timur, sebuah “simfoni” ekonomi sedang dimainkan setiap harinya. Instrumen utamanya bukanlah alat musik, melainkan lembaran daun hijau yang perlahan menguning keemasan di bawah terik matahari tropis. Inilah tembakau, komoditas yang sering dijuluki “Emas Hijau” Nusantara, yang perjalanannya merajut nasib jutaan petani kecil hingga bermuara pada sumbangan triliunan rupiah bagi kas negara.

Narasi tentang tembakau di Indonesia adalah kisah tentang skala yang masif dan dampak yang nyata. Berdasarkan data terbaru, industri hasil tembakau (IHT) telah membuktikan dirinya sebagai salah satu pilar penyangga ekonomi nasional yang tangguh. Pada tahun 2023, penerimaan negara dari Cukai Hasil Tembakau (CHT) mencatatkan angka fantastis sebesar Rp213,48 triliun. Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan kontribusi nyata yang menopang sekitar 12 persen dari total penerimaan negara, mendanai berbagai sektor pembangunan mulai dari kesehatan hingga infrastruktur.

Namun, gemerincing uang di kas negara hanyalah babak akhir dari simfoni panjang ini. Babak pertamanya dimulai jauh di ladang-ladang petani. Jawa Timur berdiri sebagai “dirigen” utama dalam orkestra produksi ini, dengan luas lahan tembakau yang mencapai lebih dari 90.000 hektare pada tahun 2023, menjadikannya provinsi dengan perkebunan tembakau terluas di Indonesia. Di sinilah, varietas-varietas unggulan dibudidayakan dengan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Di Temanggung, misalnya, para petani menanti munculnya “Srintil”, sebuah fenomena kualitas tembakau istimewa yang menggumpal dan memiliki kadar nikotin tinggi, yang harganya bisa melambung drastis dan menjadi rebutan pabrikan rokok kretek. Sementara itu, di Nusa Tenggara Barat, khususnya Lombok, pola kemitraan antara petani tembakau Virginia dengan perusahaan rokok global telah menciptakan ekosistem agribisnis yang lebih terstruktur. Melalui sistem ini, petani mendapatkan kepastian pasar dan alih teknologi, meskipun tetap menghadapi tantangan iklim yang tak menentu.

Sejarah mencatat bahwa denyut nadi industri ini telah berdetak jauh sebelum Indonesia merdeka. Sosok legendaris seperti M. Nitisemito, sang Raja Kretek dari Kudus, telah meletakkan dasar-dasar industrialisasi rokok sejak awal abad ke-20. Dengan jenama “Bal Tiga”, Nitisemito tidak hanya memproduksi rokok, tetapi juga melakukan revolusi pemasaran—mulai dari menyewa pesawat Fokker untuk menyebar pamflet hingga memberikan hadiah keramik Jepang kepada pelanggan setianya. Semangat kewirausahaan inilah yang kemudian diteruskan oleh raksasa-raksasa industri modern seperti Djarum dan Gudang Garam, yang kini menjadi penggerak ekonomi di kota-kota seperti Kudus dan Kediri.

Dampak dari rantai pasok yang panjang ini menciptakan efek berantai (multiplier effect) yang luar biasa dalam penyerapan tenaga kerja. Wakil Menteri Perindustrian mencatat bahwa sektor ini menyerap sekitar 5,9 juta pekerja, mulai dari buruh tani yang menanam bibit, pekerja sortir di gudang, hingga ribuan wanita pelinting sigaret kretek tangan (SKT) yang menggantungkan hidupnya dari setiap batang yang mereka produksi. Mereka adalah elemen manusia yang menjaga roda industri ini tetap berputar di tengah gempuran regulasi kesehatan yang semakin ketat.

Kedai Kopi Aceh: Oase Produktivitas di Tengah Kelumpuhan Infrastruktur Bencana 2025

Tidak hanya berjaya di kandang sendiri, aroma tembakau Nusantara juga tercium harum di pasar internasional. Meskipun volume ekspor bahan mentah mengalami fluktuasi, nilai ekspor produk olahan tembakau justru menunjukkan tren yang menggembirakan. Pada tahun 2024, nilai ekspor hasil pengolahan tembakau melonjak hingga mencapai US$ 1,7 miliar atau sekitar Rp 28,17 triliun. Tembakau cerutu dari Jember (Besuki Na-Oogst) dan Deli (Sumatera Wrapper) menjadi primadona yang diburu di pasar lelang Eropa, menegaskan posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam peta tembakau dunia, khususnya untuk cerutu kelas premium.

Simfoni industri tembakau ini memang kompleks, penuh dengan dinamika antara keuntungan ekonomi dan isu kesehatan. Namun, data dan fakta di lapangan menunjukkan bahwa dari selembar daun yang dipetik di lereng gunung, mengalir kehidupan bagi jutaan rakyat dan kekuatan finansial bagi negara. Tembakau, dengan segala kontroversinya, tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas sejarah dan ekonomi Indonesia. By Mukroni

  • Berita Terkait :

Kedai Kopi Aceh: Oase Produktivitas di Tengah Kelumpuhan Infrastruktur Bencana 2025

Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra

Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan

Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA

Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah

UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok

Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II

“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS

Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis

Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar

UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”

Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop

Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!

IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!

Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!

Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!

Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!

Indonesia-Rusia Kolplay Digital: 5G Ngegas, Warteg Go Online, Tapi Awas Jangan Kejebak Vodka Virtual!

Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!

Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!

TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!

Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!

Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!

Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?

Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!

Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!

Bank Dunia Bikin Panik: 194 Juta Orang Indonesia Jadi ‘Miskin’, Warteg Jadi Penutup atau Penutup Dompet?

Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!

Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *