• Jum. Agu 21st, 2026

KowantaraNews

Jejak Warteg Warisan Lumbung Mataram, Semangat Sultan Agung dan Diplomasi Kyai Rangga

Suhu Ekstrem Melanda Jepang, Petani Terpaksa Ubah Jam Kerja Jadi Malam Hari

ByAdmin

Agu 21, 2026
Ilustrasi. Sejumlah lembaga meteorologi dunia memprediksi kemungkinan kemunculan La Nina usai fenomena El Nino berakhir. (Foto: dok Earthdata NASA)
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com -Anomali cuaca dan gelombang panas ekstrem yang melanda berbagai wilayah di Jepang telah mengubah ritme kehidupan harian para petani secara dramatis. Demi menghindari paparan suhu siang hari yang berisiko mematikan, para pelaku sektor pertanian terpaksa membalik jadwal kerja mereka—bekerja di bawah naungan kegelapan malam, menjelang fajar, atau bahkan memulai aktivitas pemanenan sejak pukul 02.00 dini hari. Fenomena pergeseran jam kerja ini menjadikan para petani layaknya “makhluk malam”, sebuah strategi bertahan hidup di tengah krisis iklim yang kian mengancam jiwa.

Di Kota Nikko, Prefektur Tochigi, petani bunga Motoaki Iijima (36) menjadi salah satu sosok yang terpaksa beradaptasi dengan kondisi ekstrem ini. Iijima merombak total jam kerja di perkebunan Nikko Engei miliknya setelah seorang pekerja paruh waktu tersungkur akibat sengatan panas (heatstroke) saat memetik bunga matahari di dalam rumah kaca tiga musim panas lalu. Ketika suhu udara di luar ruangan melampaui $35^\circ\text{C}$, suhu di dalam rumah kaca dapat melambung tinggi hingga menembus $40^\circ\text{C}$. Untuk melindungi keselamatan pekerjanya, Iijima mengalihkan proses pemanenan bunga gerbera dan aster ke malam hari hingga menjelang terbit matahari. Pekerja senior seperti Miyoko Asada (68) kini harus berpacu dengan waktu memotong tangkai bunga sebelum sengatan matahari pagi mulai membahayakan keselamatan fisik.

Perubahan pola kerja ini juga merambah komoditas hortikultura lainnya. Di Ibusuki, Prefektur Kagoshima, Hiroyuki Hatta (38) memulai panen okra pada pukul 02.00 dini hari setiap hari. Karakteristik tanaman okra yang tumbuh sangat cepat pada puncak musim panas membuat pemanenan tidak dapat ditunda; keterlambatan satu hari saja akan membuat ukuran okra terlalu besar dan tidak memenuhi kriteria jual pasar. Sementara itu, Sugiyama, seorang petani mentimun di Kumenan, Prefektur Okayama, harus memulai aktivitas pemanenan sejak pukul 05.00 pagi. Pada waktu tersebut, suhu di wilayahnya telah melewati $25^\circ\text{C}$ dan berlanjut hingga $38^\circ\text{C}$ pada siang hari. Stres panas yang melanda perakaran tanaman memaksa Sugiyama melakukan penyiraman ekstra dua kali sehari guna mencegah daun mengering dari bagian ujungnya.

Sektor peternakan pun tidak luput dari dampak buruk gelombang panas. Di Mashiko, Prefektur Tochigi, peternak unggas Tetsuya Usuba (48) menyalakan lampu kandang secara otomatis pada pukul 02.30 dini hari untuk membangunkan sekitar 4.400 ekor ayam bertelur jenis Boris Brown. Pengondisian jam makan pada dini hari dilakukan agar ternak mau mengonsumsi pakan saat suhu masih sejuk, sebelum hawa panas siang hari menekan nafsu makan mereka. Pengalaman pahit enam tahun lalu, saat Usuba kehilangan lebih dari 500 ekor ayam akibat serangan panas selama tiga hari berturut-turut, meninggalkan trauma mendalam yang memaksanya mengambil langkah proteksi ketat ini.

Ancaman gelombang panas ini terakselerasi oleh kondisi demografi pertanian Jepang yang kian mengkhawatirkan. Sekitar 70 persen petani di Jepang kini telah berusia 65 tahun atau lebih, dengan rata-rata usia pekerja mencapai 69 tahun—kelompok umur yang sangat rentan terhadap kegagalan thermoregulasi tubuh. Pada tahun 2024, tercatat rekor sebanyak 59 pekerja pertanian meninggal dunia akibat panas ekstrem, melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan angka kematian pada tahun 2021. Berdasarkan survei Asosiasi Cuaca Jepang (Japan Weather Association), sekitar 60 persen petani telah menggeser jam kerja mereka menjadi lebih awal atau lebih lambat. Tak hanya mengancam jiwa, paparan panas pada tahun 2024 saja telah menyebabkan hilangnya 926 juta jam kerja di sektor pertanian Jepang.

Selain membahayakan keselamatan jiwa, suhu tinggi mengancam kualitas hasil panen nasional. Menurut data Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang (MAFF), suhu udara di atas $27^\circ\text{C}$ mengganggu akumulasi pati pada tanaman padi, yang menyebabkan bulir beras menjadi putih keruh (chalky grains) dan menurunkan mutunya. Sebagai bentuk mitigasi, pemerintah Jepang mulai mendorong penggunaan varietas padi tahan panas seperti Niji no Kirameki, serta mempromosikan diversifikasi komoditas ke tanaman yang tahan suhu tinggi seperti okra di Kyoto dan pepaya hijau di Saitama. Melalui regulasi keselamatan kerja baru yang diperkenalkan pada 2025, pemerintah juga mewajibkan penyusunan prosedur darurat heatstroke bagi seluruh pelaku usaha guna melindungi tenaga kerja di tengah krisis iklim yang kian membara. By Mukroni

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *