• Sab. Sep 19th, 2026

KowantaraNews

Jejak Warteg Warisan Lumbung Mataram, Semangat Sultan Agung dan Diplomasi Kyai Rangga

Menelusuri Jalur Sutra Maritim Guangxi: Narasi 2.000 Tahun Perdagangan Kuno Menuju Integrasi Ekonomi ASEAN

ByAdmin

Sep 19, 2026
“Pertemuan Kyai Rangga dan J.P.Coen” Ink on Paper, 1973 Pertemuan Kyai Rangga dan JP Coen. Sketsa ini merupakan bagian dari kajian S. Sudjojono untuk lukisan "Sejarah Pertempuran Sultan Agung" berukuran 3 x 10 m
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com — Jauh sebelum inisiatif sabuk ekonomi modern diperkenalkan ke panggung diplomasi global, perairan selatan Tiongkok telah menjadi saksi bisu denyut niaga lintas samudra. Sejak masa Dinasti Han sekitar 2.000 tahun silam, kapal-kapal dagang kayu telah bertolak dari pesisir Daerah Otonom Guangxi Zhuang, membelah ombak Teluk Beibu menuju bandar-bandar niaga di Asia Tenggara hingga Asia Selatan. Ekspedisi pulang-pergi pada masa purba tersebut bukanlah perjalanan singkat; para pelaut dan saudagar harus mengarungi lautan selama dua hingga tiga tahun untuk mencapai wilayah seperti Sri Lanka dan India sebelum kembali berlabuh ke tanah kelahirannya.

Jejak peradaban bahari purba ini terekam utuh di Museum Guangxi, Nanning. Pemandu museum memperlihatkan salah satu artefak monumental berupa batangan emas berbobot hampir 250 kilogram dengan tingkat kemurnian mencapai 98 persen. Batangan emas murni ini berfungsi sebagai alat tukar paling berharga dan tepercaya di sepanjang rute Jalur Sutra Maritim kuno. Dokumentasi peninggalan tersebut membuktikan bahwa kawasan pelabuhan Hepu di pesisir Teluk Beibu kala itu telah bertransformasi menjadi simpul kosmopolitan. Di sanalah terjalin percampuran budaya dan persahabatan bangsa-bangsa, terbukti dari catatan kehadiran saudagar dari wilayah Burma (kini Myanmar), India, Pashtun, hingga peradaban Afrika.

Keterhubungan historis antara Guangxi dan Asia Tenggara tidak hanya bertumpu pada pertukaran komoditas fisik, melainkan juga berakar kuat pada diplomasi kebudayaan. Resonansi kultural ini terdokumentasi secara komprehensif di Museum Musik Etnik Guangxi yang bernaung di bawah naungan Guangxi Arts University. Di lantai dasar museum, terpajang koleksi gendang perunggu yang memiliki rentang sejarah hingga 2.600 tahun. Guangxi sendiri menjadi rumah bagi lebih dari 700 temuan gendang perunggu, yang kerap dijuluki sebagai fosil hidup tradisi masyarakat adat setempat.

Artefak gendang perunggu serupa juga tersebar di enam negara Asia Tenggara, yaitu Vietnam, Thailand, Laos, Myanmar, Malaysia, dan Indonesia. Tiansheng Li, dosen Center of International Education and Exchange Guangxi Arts University, menegaskan bahwa kemiripan bentuk dan ornamen ini mencerminkan karakteristik budaya bersama yang melintasi sekat geografis. Bukti interaksi lainnya tampak pada ziter satu senar (duxianqin), instrumen khas suku Jing—satu-satunya etnis maritim resmi di Guangxi yang bermukim di Dongxing, kawasan perbatasan dengan Vietnam. Berkerabat dekat dengan đàn bầu khas Vietnam, instrumen ini terus berevolusi hingga mengadopsi sistem akustik-elektrik terintegrasi.

Sejak diresmikan pada 2018, museum etnomusikologi ini telah menghimpun lebih dari 600 alat musik Asia Tenggara—jumlah terbesar di Tiongkok—termasuk 70 instrumen hibah dari konsulat jenderal, perguruan tinggi, dan kelompok kesenian negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia. Direktur Center of International Education and Exchange Guangxi Arts University, Zhao Ke, menyampaikan kesiapannya untuk memperluas kerja sama pendidikan seni dan musik bersama mitra di Asia Tenggara guna memperkuat proses pembelajaran budaya bersama.

Perspektif Frantz Fanon: Melawan Coloniality of Mind dan Melepaskan Diri dari Inferioritas Masa Lalu

Menelusuri Identitas Bahira: Narasi Mantan Yahudi yang Menjadi Rahib Kristen Nestorian di Negeri Syam

Mengenal Sejarah Warteg: Strategi Ketahanan Pangan Abad ke-17 yang Kini Jadi Ikon Kuliner Merakyat

Kesinambungan sejarah peradaban maritim tersebut kini memperoleh relevansi baru di Kota Qinzhou, pelabuhan kuno yang masyhur dengan kerajinan tembikar di Museum Nixing Pottery. Berbekal garis pantai daratan sepanjang 1.628,59 kilometer dan wilayah seluas 237.600 kilometer persegi, Guangxi memegang posisi unik sebagai satu-satunya provinsi di Tiongkok yang memiliki akses darat sekaligus laut langsung menuju negara-negara ASEAN.

Posisi strategis Qinzhou kian diperkuat oleh pembangunan proyek raksasa Terusan Pinglu. Saluran air antarmoda sungai-laut ini dirancang memangkas rute distribusi dari wilayah pedalaman barat daya Tiongkok langsung menuju Teluk Beibu, menciptakan koridor logistik yang lebih cepat, efisien, dan ekonomis ke pasar regional Asia Tenggara. Wakil Wali Kota Qinzhou, Zhao Chuang, menyatakan bahwa kehadiran terusan ini memantapkan peran kota sebagai simpul integrasi perdagangan regional.

Dampak transformasi geoekonomi tersebut tercermin nyata pada indikator makro kawasan. Memasuki paruh pertama 2026, Produk Domestik Bruto (PDB) Qinzhou tumbuh 7,2 persen, mencatatkan laju pertumbuhan tertinggi di seluruh Daerah Otonom Guangxi Zhuang. Geliat ekonomi ini ditopang oleh rencana investasi lebih dari 10 miliar yuan dari 12 korporasi manufaktur untuk mempercepat pengembangan tiga kluster industri utama, yakni petrokimia hijau, material energi baru, dan manufaktur peralatan presisi.

Dari etalase museum di Nanning hingga proyek kanal modern di Qinzhou, Guangxi membuktikan bahwa konektivitas maritim kontemporer bukanlah konstruksi baru, melainkan kelanjutan dari jalinan sejarah dua ribu tahun yang merekatkan persahabatan, perdagangan, dan kebudayaan antara Tiongkok dan Asia Tenggara. By Mukroni

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *