Belajar Mandiri Lewat Sepiring Makanan: Praktik Prasmanan MBG Adopsi Budaya Jepang

Kepala Badan Gizi Nasional: 32% Mitra Program Makan Bergizi Gratis Adalah UMKM | tvOne
Sharing is caring

Belajar Mandiri Lewat Sepiring Makanan: Praktik Prasmanan MBG Adopsi Budaya Jepang

Jakarta, Kowantaranews.com    — Lonceng istirahat sekolah berdentang, namun suasana di ruang kelas tidak serta-merta riuh oleh kegaduhan anak-anak yang berlarian keluar. Sejumlah siswa bergegas merapikan meja, lalu mengenakan perlengkapan khusus: celemek putih, sarung tangan plastik, dan masker penutup mulut. Di sudut ruangan, aroma sedap mengepul hangat dari wadah-wadah besar berbahan baja nirkarat yang baru saja diantarkan dari dapur pengolah. Regu piket cilik yang terdiri atas lima hingga enam siswa ini bersiap dengan rapi, menyendokkan nasi, sayur berkuah, lauk berprotein, dan buah ke atas nampan bersekat (food tray) milik teman-teman sekelas serta guru mereka.

Pemandangan tersebut menandai fase baru pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah diuji coba oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Menggantikan pola lama berupa paket kotak individual tertutup (meal box) yang selama ini jamak dibagikan langsung, BGN mulai menguji coba sistem prasmanan terpusat di dalam ruang kelas. Skema ini secara terbuka meniru dan mengadaptasi tradisi makan siang sekolah di Jepang yang telah berakar kuat, yakni Kyūshoku, sebuah integrasi antara pemenuhan nutrisi anak dan implementasi Shokuiku atau pendidikan karakter berbasis kebiasaan pangan.

Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, menjelaskan bahwa pergeseran menuju model prasmanan dirancang untuk menjawab dua tantangan besar sekaligus, yakni mempertahankan mutu fisik makanan dan menumbuhkan dimensi edukasi bagi para penerima manfaat. Selama ini, distribusi paket boks tertutup kerap terkendala oleh rentang waktu penahanan suhu yang panjang (extended holding time) antara proses penyiapan di dapur dan waktu santap siswa di sekolah. Udara panas yang terkurung di dalam wadah kedap uap tak jarang mempercepat penurunan kualitas hidangan serta memicu risiko kerusakan mikrobiologis. Melalui mekanisme prasmanan, makanan dimasak secara terjadwal di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), lalu dikirim dalam wadah insulasi termal berkapasitas besar agar tiba di sekolah dalam kondisi tetap hangat dan segar.

RUU Pengendalian Perubahan Iklim yang Berkeadilan: Payungi Nelayan Pesisir hingga Lansia

Selain faktor kesegaran dan higienitas, keunggulan krusial dari mekanisme prasmanan adalah kemampuannya menekan timbulan limbah makanan (food waste). Kapasitas biologis lambung anak pada jenjang usia tertentu memiliki variasi tersendiri; pemorsian boks yang disamaratakan kerap berujung pada sisa makanan yang terbuang sia-sia. Di meja prasmanan, para siswa memiliki otonomi untuk menentukan porsi makanan sesuai daya tampung masing-masing. Namun, apabila porsi awal telah habis disantap dan mereka masih merasa lapar sementara sisa makanan di meja saji masih mencukupi, siswa diperkenankan mengambil porsi tambahan secara tertib.

“Sejauh ini tadi saya dapat laporan, tingkat kehabisan makanannya bagus. Jadi lebih fresh, kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa bisa nambah. Dan, waste (sampah)-nya lebih sedikit karena prasmanan,” ujar Sudaryono.

Keterlibatan siswa dalam regu pelayanan bergilir membawa nilai pedagogis yang tak kalah penting. Anak-anak tidak lagi sekadar diposisikan sebagai konsumen pasif penerima bantuan negara, melainkan dilatih memikul tanggung jawab sosial, menumbuhkan empati, serta menghargai kerja keras rantai penyediaan makanan. Mengadopsi tata kelola kebersihan sekolah di Jepang, anak-anak yang bertugas membagikan makanan diajarkan mempraktikkan protokol sanitasi personal yang ketat sebelum menyentuh wadah hidangan orang lain. Interaksi sederhana saat seorang anak menyajikan piring makan untuk temannya secara perlahan meruntuhkan sekat sosial dan membangun solidaritas di ruang kelas.

Hingga saat ini, tahap percontohan model prasmanan telah bergulir di lebih dari 60 dapur SPPG yang tersebar di berbagai provinsi, mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga wilayah timur seperti Papua. Di DI Yogyakarta, percontohan yang dipantau oleh Kedeputian Sistem dan Tata Kelola BGN berlangsung di SPPG Turi Bangunkerto 2 untuk siswa SDN Soprayan dan SPPG Polda DIY bagi siswa SD Muhammadiyah Bantar. Hasil evaluasi di kedua sekolah tersebut menunjukkan tingkat kepuasan siswa dan tenaga pendidik mencapai skor maksimal 5/5, kelayakan uji organoleptik makanan terpenuhi, serta kepatuhan siswa bertugas dalam mengenakan alat pelindung diri mencapai 99 persen. Simulasi serupa juga diterapkan di SPPG Cibunar 1 di MTs Negeri 4 Garut dan SPPG Ngawen di SDN 5 Ngawen, Blora.

Meskipun menuai antusiasme tinggi, Sudaryono menegaskan bahwa implementasi sistem prasmanan membutuhkan kesiapan infrastruktur dan pembiasaan yang disiplin dari kedua belah pihak. Pelatihan operasional tidak hanya ditujukan bagi juru masak di dapur sentral, tetapi juga mencakup pihak sekolah dan dewan guru agar alur penyajian serta pembersihan nampan bersekat dapat berjalan tertib tanpa menyita jam belajar efektif. Di sisi lain, pengawasan akuntabilitas tetap berjalan beriringan, di mana Ombudsman Republik Indonesia melalui Investigasi Atas Prakarsa Sendiri (IAPS) terus memantau standarisasi keamanan pangan guna memastikan insiden keracunan tidak terulang kembali.

Sepiring makanan hangat yang dibagikan dari tangan seorang siswa kepada teman sebangkunya kini menjelma menjadi ruang pembelajaran nyata. Melalui denting nampan baja nirkarat dan kebiasaan santap bersama secara mandiri, program MBG tidak hanya berupaya mengisi kebutuhan kalori peserta didik, tetapi juga menanamkan benih peradaban tentang kedisiplinan, kebersihan, dan kebersamaan sejak dini. By Mukroni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *