Jakarta, Kowantaranews.com – Di penghujung tahun 2025, alarm ekonomi berbunyi nyaring dari wilayah barat Indonesia. Ketika sebagian besar masyarakat bersiap menyambut pergantian tahun, tiga provinsi di Sumatera—Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—justru bergulat dengan bencana hidrometeorologi yang melumpuhkan sendi-sendi produksi pangan. Dampaknya kini merambat ke indikator makroekonomi nasional; Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi tahunan pada 2025 merangkak naik ke angka 2,92 persen, sebuah lonjakan yang dipicu oleh terputusnya rantai pasok di salah satu lumbung pangan vital tanah air.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, dalam konferensi pers Senin (5/1/2026), mengungkapkan bahwa inflasi bulanan (month-to-month) Desember 2025 tercatat sebesar 0,64 persen. Angka ini jauh melampaui pola musiman biasanya. Pudji secara spesifik menunjuk “Guncangan Sumatera” sebagai biang keladinya.
“Tingkat inflasi bulanan secara nasional pada Desember 2025 turut dipicu kenaikan harga komoditas di tiga daerah yang terdampak bencana di Sumatera,” ujar Pudji. Data berbicara lebih keras: Aceh mengalami pembalikan nasib yang ekstrem. Setelah mencatat deflasi pada November, provinsi ini langsung mencatatkan inflasi bulanan tertinggi di Indonesia sebesar 3,60 persen pada Desember, dengan inflasi tahunan menembus angka 6,71 persen.
Petaka di Ladang Padi
Akar masalah lonjakan harga ini terletak pada kerusakan masif di sektor hulu pertanian. Banjir bandang dan tanah longsor yang dipicu oleh Siklon Tropis Senyar pada akhir November 2025 tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga menyapu ribuan hektare lahan sawah siap panen.
Data BPS menunjukkan risiko yang mengkhawatirkan: sebanyak 11,43 persen lahan padi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat berpotensi mengalami gagal panen total atau puso. Di Kabupaten Aceh Utara saja, laporan lapangan mengonfirmasi seluas 12.537 hektare tanaman padi hancur tak tersisa.
Kehancuran ini diperparah oleh penurunan drastis pada standing crop (tanaman yang masih berdiri di lahan). Pada November 2025, proporsi lahan yang ditanami padi di ketiga provinsi tersebut anjlok menjadi hanya 34,63 persen. Artinya, pasokan beras lokal dari wilayah ini dipastikan akan defisit parah pada awal 2026, tepat saat permintaan biasanya meningkat menjelang bulan Ramadhan.
Tidak hanya beras, komoditas hortikultura yang sensitif terhadap distribusi juga “terbakar” harganya. Di Sumatera Utara dan Sumatera Barat, harga cabai rawit dan bawang merah melambung tinggi. Pudji Ismartini mencatat bahwa cabai rawit memberikan andil inflasi 0,41 persen di Sumut, sementara kerusakan infrastruktur membuat biaya logistik meroket.
Jembatan Putus, Logistik Lumpuh
Krisis harga ini bukan semata soal produksi yang hilang, melainkan juga distribusi yang lumpuh. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kerusakan infrastruktur yang mencengangkan: sebanyak 271 jembatan rusak atau putus di wilayah terdampak.
Putusnya jembatan-jembatan vital ini mematikan akses truk pengangkut pangan. Stok barang menumpuk di satu titik, sementara kelangkaan terjadi di titik lain yang hanya berjarak beberapa kilometer. Di tengah kelangkaan ini, biaya angkut melonjak, memaksa pedagang menaikkan harga jual di tingkat konsumen. Fenomena ini menciptakan ironi di mana harga pangan naik gila-gilaan meskipun pemerintah pusat mengklaim stok nasional aman.
Paradoks Stok Melimpah dan Kebijakan “Nol Impor”
Di tengah situasi darurat di Sumatera, pemerintah pusat melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) justru menyampaikan narasi yang sangat optimis. Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, mengumumkan bahwa stok beras nasional pada awal 2026 mencapai rekor tertinggi dalam sejarah, yakni 12,53 juta ton.
Berpegang pada data stok jumbo tersebut, pemerintah mengambil langkah berani—dan berisiko—dengan memutuskan untuk menghentikan impor beras untuk keperluan konsumsi dan industri pada tahun 2026. “Stok beras nasional pada awal 2026 sangat tinggi. Stok tersebut masih mencukupi hingga Ramadhan-Lebaran,” tegas Amran.
Namun, kebijakan “pukul rata” ini menuai kritik tajam, terutama terkait pelarangan impor beras untuk kebutuhan industri. Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) memperingatkan bahwa menyamakan beras konsumsi dengan beras industri adalah kesalahan fatal. Industri makanan membutuhkan spesifikasi beras tertentu (seperti broken rice atau varietas khusus) yang seringkali tidak tersedia secara konsisten dari produksi lokal. Memaksa industri menggunakan beras lokal yang harganya sedang melambung akibat bencana hanya akan memicu gelombang kedua inflasi pada produk makanan olahan di tahun 2026.
Selain itu, klaim “stok aman” 12 juta ton terasa hampa bagi warga Aceh dan Sumut jika beras tersebut tertahan di gudang Bulog di Jawa karena kendala logistik. Realitas di lapangan menunjukkan adanya dispartias: gudang pusat penuh, namun pasar di daerah bencana kosong.
Emas dan Bayang-Bayang Perang
Selain pangan, inflasi 2025 juga didorong oleh faktor eksternal yang berada di luar kendali pemerintah: emas. Komoditas ini memberikan andil inflasi tahunan sebesar 0,79 persen, menjadikannya penyumbang inflasi non-pangan terbesar.
Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit
Kenaikan harga emas domestik adalah cerminan ketakutan global. Eskalasi konflik geopolitik pada akhir 2025, mulai dari peluncuran misil balistik baru oleh Rusia ke Ukraina hingga ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Venezuela pasca penangkapan Presiden Nicolas Maduro, memicu investor global memburu aset aman (safe haven). Akibatnya, harga emas dunia meroket, dan transmisi harganya langsung memukul daya beli kelas menengah Indonesia.
Memasuki tahun 2026, Indonesia kini berdiri di atas dua kaki yang rapuh: satu kaki tertatih akibat bencana alam yang menghancurkan basis produksi pangan di Sumatera, dan kaki lainnya gemetar menahan guncangan ketidakpastian geopolitik global. Kebijakan “Nol Impor” pemerintah akan menjadi pertaruhan besar. Jika distribusi gagal menembus isolasi daerah bencana, angka inflasi 2,92 persen di tahun 2025 mungkin hanyalah permulaan dari tren biaya hidup yang lebih mencekik di tahun yang baru. By Mukroni
- Berita Terkait :
Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit
Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi
Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli
Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025
Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026
Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra
Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan
Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA
Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah
UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok
Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II
“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS
Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis
Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar
UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”
Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop
Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!
IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!
Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!
Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!
Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!
Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!
Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!
TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!
Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!
Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!
Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?
Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!
Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!
Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!
Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

