Jakarta, Kowantaranews.com – Euforia swasembada pangan yang didengungkan pemerintah pada awal tahun 2026 kini menghadapi ujian realitas yang brutal. Di atas kertas, Indonesia memang memasuki tahun 2026 dengan posisi cadangan beras yang monumental—mencapai 12,5 juta ton, angka tertinggi dalam sejarah republik ini. Namun, para ahli klimatologi dan agronomi memperingatkan bahwa angka statistik tersebut berpotensi tergerus cepat oleh fenomena “Perfect Storm” atau badai sempurna: kombinasi mematikan antara kerusakan infrastruktur akibat bencana hidrometeorologi di wilayah barat dan ancaman kekeringan ekstrem El Nino yang diprediksi menyergap mulai pertengahan tahun.
Judul besar “Kepungan Bencana Hidrometeorologi dan El Nino 2026: Ujian Berat bagi Pertahanan Swasembada Pangan RI” bukan sekadar peringatan kosong, melainkan cerminan dari data lapangan yang mengkhawatirkan.
Pukulan Awal: Babak Belur di Sumatera
Sebelum sempat menghadapi musim kemarau, lumbung pangan di wilayah Sumatera—khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—telah lebih dulu lumpuh akibat bencana banjir dan tanah longsor pada akhir 2025 hingga awal 2026. Data Kementerian Pertanian mencatat bahwa dari sekitar 80.000 hektare lahan yang terdampak, terdapat 11.000 hektare sawah yang mengalami puso atau gagal panen total.
Kerusakan ini bukan sekadar genangan air yang akan surut dalam sepekan. Ribuan hektare sawah tersebut mengalami kerusakan fisik pada jaringan irigasi dan struktur tanah yang membutuhkan waktu rehabilitasi berbulan-bulan, sehingga dipastikan absen berproduksi pada musim tanam awal tahun ini. Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, bahkan harus mengerahkan tim khusus dan anggaran kontingensi sebesar Rp 300 miliar hingga Rp 400 miliar untuk mencetak ulang sawah-sawah yang hancur tersebut.
Dampak bencana ini meluas hingga menghancurkan aset modal petani. Sebanyak 778.922 ekor ternak dilaporkan terdampak, dengan kematian massal pada unggas yang menghilangkan sumber pendapatan harian petani kecil. Hilangnya modal ini mempersulit petani untuk bangkit dan menanam kembali, menciptakan potensi kekosongan suplai beras dari wilayah Sumatera justru di saat wilayah Jawa nantinya akan memasuki musim kering.
Bayang-Bayang El Nino: Ancaman Defisit 1,7 Juta Ton
Ketika pemulihan di Sumatera belum tuntas, radar iklim global telah menangkap sinyal bahaya yang lebih besar. Lembaga meteorologi Eropa, Severe Weather Europe dan ECMWF, memproyeksikan kembalinya fenomena El Nino mulai Juli 2026 yang berpotensi bertahan hingga awal 2027. Analisis suhu bawah permukaan laut memperlihatkan adanya “kolam panas” di Pasifik Barat yang siap memicu anomali iklim, menggeser curah hujan menjauh dari Indonesia.
Guru Besar IPB University, Dwi Andreas Santosa, memberikan kalkulasi yang menohok: jika antisipasi tidak dilakukan secara radikal, produksi beras nasional pada 2026 berpotensi terkoreksi turun sekitar 5 persen. Dengan basis produksi tahun 2025 sebesar 34,71 juta ton, penurunan 5 persen ini setara dengan hilangnya pasokan beras sebanyak 1,73 juta ton dari pasar.
Risiko terbesar dari El Nino kali ini bukan hanya pada gagal panen di musim kemarau (MT II), melainkan mundurnya awal musim hujan di akhir 2026. Jika hujan terlambat turun hingga Desember atau Januari 2027, maka musim tanam utama akan mundur, memperpanjang masa paceklik dan menguras stok cadangan beras nasional secara drastis di awal tahun depan.
Pertaruhan Kebijakan “Nol Impor”
Di tengah kepungan ancaman ini, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) tetap berpegang teguh pada kebijakan “Nol Impor” untuk beras umum pada tahun 2026. Optimisme ini didasarkan pada surplus produksi 2025 dan stok awal tahun yang melimpah. Bapanas meyakini stok 12,5 juta ton cukup untuk menopang kebutuhan hingga 5 bulan.
Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut
Namun, strategi mitigasi pemerintah yang sangat mengandalkan program “pompanisasi” dinilai memiliki keterbatasan teknis. Pompa air hanya efektif jika sumber air baku (sungai atau air tanah dangkal) masih tersedia. Dalam skenario El Nino kuat di mana debit sungai mengering, ribuan pompa yang dibagikan berpotensi menjadi besi tua yang tidak berguna. Selain itu, laporan USDA menyoroti risiko serangan hama dan penyakit yang meningkat akibat pemaksaan pola tanam terus-menerus tanpa jeda untuk mengejar target produksi.
Kondisi ini menempatkan Indonesia pada titik persimpangan krusial. Jika pemerintah gagal mengelola dampak bencana di Sumatera dan terlambat merespons kekeringan El Nino, stok “historis” 12,5 juta ton itu bisa menguap lebih cepat dari perkiraan, memicu inflasi pangan yang dapat mengguncang stabilitas ekonomi dan program strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis. Tahun 2026 bukan lagi sekadar soal menjaga swasembada, melainkan ujian ketahanan pangan yang sesungguhnya di tengah anomali iklim yang kian ekstrem. By Mukroni
- Berita Terkait :
Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut
Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit
Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi
Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli
Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025
Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026
Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra
Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan
Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA
Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah
UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok
Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II
“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS
Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis
Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar
UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”
Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop
Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!
IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!
Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!
Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!
Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!
Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!
Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!
TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!
Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!
Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!
Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?
Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!
Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!
Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!
Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

