• Jum. Feb 20th, 2026

KowantaraNews

Kowantara News: Berita tajam, warteg jaya, UMKM tak terjajah!

Wujudkan Asta Cita, Bank Jakarta Syariah dan STIAMI Gandeng KOWANTARA Transformasi Ekosistem Warteg

ByAdmin

Feb 16, 2026
Bertempat di Kantor Pusat Bank Jakarta, Gedung Prasada Sasana Karya lantai 8, Jakarta Pusat, sebuah sinergi besar resmi dijalin antara Bank Jakarta Syariah, Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI, dan Komunitas Warung Nusantara (Kowantara) (Foto Kowantaranews.com)
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com – Dalam upaya nyata mewujudkan visi besar pembangunan nasional yang tertuang dalam Asta Cita, sebuah kolaborasi strategis lintas sektor resmi diluncurkan untuk mentransformasi ekosistem warung tegal (warteg) di Indonesia. Bank Jakarta Syariah, Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI, dan Komunitas Warung Nusantara (Kowantara) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) di Gedung Prasada Sasana Karya, Jakarta Pusat, guna memperkuat pondasi UMKM melalui akses pembiayaan syariah dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Penyelarasan dengan Asta Cita: Menuju Ekonomi Berdikari

Sinergi tripartit ini merupakan implementasi langsung dari delapan misi strategis pemerintah yang dikenal sebagai Asta Cita. Fokus utama kerja sama ini selaras dengan misi ketiga, yaitu penciptaan lapangan kerja berkualitas dan pengembangan kewirausahaan melalui akses permodalan bagi UMKM. Selain itu, inisiatif ini mendukung misi keenam mengenai pembangunan dari tingkat akar rumput untuk pemerataan ekonomi, serta misi keempat yang menekankan peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan.

Pemerintah menempatkan UMKM sebagai motor ekonomi rakyat yang harus terintegrasi dengan rantai nilai industri nasional. Kebijakan hilirisasi yang sedang digalakkan diharapkan menjadi “eskalator” bagi pengusaha kecil agar manfaat ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada korporasi besar. Melalui kolaborasi ini, warteg didorong untuk tidak lagi sekadar bertahan sebagai usaha informal, melainkan bertransformasi menjadi entitas bisnis yang modern dan profesional.

Pilar Pendidikan: “Kampus Rakyat” dan Akses Mobilitas Sosial

Rektor Institut STIAMI, Prof. Dr. Hj. Sylviana Murni, S.H., M.Si., menekankan bahwa transformasi UMKM harus dimulai dari peningkatan literasi dan kapasitas manajerial. STIAMI menggagas konsep “Kampus Rakyat” yang bertujuan mendesentralisasikan pendidikan tinggi ke lokasi-lokasi strategis ekonomi rakyat, seperti pasar tradisional. Langkah ini diambil untuk mendekatkan akses ilmu pengetahuan bagi pelaku usaha yang selama ini memiliki keterbatasan waktu dan biaya untuk menempuh pendidikan formal.

Sebagai wujud kepedulian sosial, Institut STIAMI memberikan potongan biaya pendidikan dan akses beasiswa bagi para pengusaha warteg serta anggota keluarga mereka. Upaya ini dipandang sebagai instrumen mobilitas sosial vertikal yang krusial. Dengan 417 staf akademik dan jaringan kampus yang luas, STIAMI berkomitmen mendampingi anggota Kowantara dalam bidang tata kelola usaha, akuntansi sederhana, hingga pengurusan sertifikasi halal yang kini menjadi syarat mutlak bagi produk kuliner untuk bersaing di pasar global .

Pilar Finansial: Akses KUR Syariah yang Inklusif

Transformasi ekosistem warteg juga didukung dengan penguatan modal kerja melalui instrumen keuangan syariah. Bank Jakarta Syariah menargetkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Syariah sebesar Rp300 miliar pada tahun 2026 yang dikhususkan bagi pelaku UMKM. Program ini menawarkan plafon pembiayaan hingga Rp500 juta dengan jangka waktu maksimal 60 bulan.

Margin yang ditawarkan dalam skema ini sangat kompetitif, yakni setara 3% hingga 6% efektif per tahun, yang jauh lebih rendah dibandingkan pinjaman informal yang sering kali menjerat pedagang kecil. Perwakilan Bank Jakarta Syariah, Dedy Akhmadi, menjelaskan bahwa pihaknya mengusung filosofi “cemu-muah”—cepat, mudah, murah, aman, dan handal—dalam penyaluran modal tersebut. Persyaratan pengajuan telah disederhanakan, di mana nasabah cukup menyiapkan dokumen identitas, legalitas usaha seperti NIB, serta bukti kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan untuk memastikan perlindungan jaminan sosial bagi para pekerja di sektor informal tersebut.

Pilar Komunitas: Digitalisasi dan “Warteg Berseri”

Ketua Kowantara, Ir. Mukroni, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah rendahnya adopsi teknologi di kalangan pengusaha warteg, yang masih berada di bawah angka 5%. Untuk menjawab hal ini, Kowantara mendorong penggunaan aplikasi manajemen digital seperti Digikopin untuk meningkatkan efisiensi operasional harian.

Warteg Naik Kelas: Kolaborasi Tripartit Hadirkan Akses Pembiayaan Syariah dan Program “Kampus Rakyat” 

Selain digitalisasi, Kowantara terus mempromosikan program Warteg Berseri (Bersih, Sehat, Mandiri). Konsep “mandiri” di sini mencakup penguatan rantai pasok melalui distribution center yang dikelola komunitas, sehingga pemilik warung bisa mendapatkan bahan baku langsung dari produsen atau petani dengan harga yang lebih stabil. Transformasi ini diharapkan mampu menjaga ketahanan pangan di wilayah Jabodetabek, mengingat warteg adalah penyedia makanan bergizi yang terjangkau bagi jutaan pekerja setiap harinya.

Sinergi antara akademisi, perbankan syariah, dan komunitas usaha ini menjadi prototipe pembangunan ekonomi inklusif. Dengan permodalan yang kuat dan pendidikan yang mumpuni, ekosistem warteg Indonesia kini siap melangkah menuju transformasi yang lebih maju, mandiri, dan berdaya saing dalam kerangka besar Indonesia Emas 2045. By Mukroni

  • Berita Terkait :

Warteg Naik Kelas: Kolaborasi Tripartit Hadirkan Akses Pembiayaan Syariah dan Program “Kampus Rakyat” 

Sinergi Bank Jakarta Syariah, STIAMI, dan KOWANTARA Perkuat Fondasi UMKM Lewat KUR dan Pendidikan 

Kowantara Desak Pemerintah Mitigasi “Fatalitas” Lonjakan Harga Pangan Jelang Ramadan 2026

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11%, Moody’s Justru Ubah Prospek Jadi Negatif

Paradoks Ekonomi Jakarta 2026: Di Balik Deflasi Januari, Beban Listrik dan Energi Justru Melonjak 9,71 Persen

Pemerintah Gelontorkan Stimulus Rp 12,83 Triliun untuk Jaga Daya Beli Jelang Lebaran 2026

OJK Siapkan 8 Rencana Aksi Reformasi Pasar Modal, Batas Free Float Resmi Naik Jadi 15 Persen

Benturan Oligarki vs Standar Global: Di Balik Mundurnya Petinggi OJK dan BEI

“Negara Leviathan Kembali: Saat Kritik Pangan Dibalas Gugatan Rp 200 Miliar dan Ancaman Pidana”

Impor Macet dan Stok Pemerintah Tipis, Bapanas dan Kemendag Didesak Ambil Langkah ‘Extraordinary’

Gejolak Awal Tahun: Alih Kelola Impor Pakan Ternak Picu Kelangkaan dan Lonjakan Harga

Target Operasional 2026 Terancam: Koperasi Merah Putih Terganjal Masalah Lahan dan Pembiayaan

Di Balik Surplus 2025: Krisis Iklim dan Bencana Mengintai Lumbung Pangan RI

Indonesia Raih Swasembada Beras 2025: Analisis Capaian, Surplus, dan Peta Jalan Ketahanan Pangan 2026

“Kepungan Bencana Hidrometeorologi dan El Nino 2026: Ujian Berat bagi Pertahanan Swasembada Pangan RI”

Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut

Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit

Paradoks Pasar Kerja 2026: Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Penciptaan Lapangan Kerja dan Dampak Distorsi Kebijakan Nasional

Paradoks Pangan Akhir 2025: Stok Nasional Pecah Rekor, Harga Beras di Pedalaman Papua Tembus Rp50.000

Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi

Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli

Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025

Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026

Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra

Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan

Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA

Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah

UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok

Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II

“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS

Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis

Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar

UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”

Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop

Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!

IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!

Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!

Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!

Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!

Indonesia-Rusia Kolplay Digital: 5G Ngegas, Warteg Go Online, Tapi Awas Jangan Kejebak Vodka Virtual!

Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!

Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!

TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!

Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!

Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!

Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?

Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!

Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!

Bank Dunia Bikin Panik: 194 Juta Orang Indonesia Jadi ‘Miskin’, Warteg Jadi Penutup atau Penutup Dompet?

Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!

Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *