Jakarta, Kowantaranews.com – Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya ekosistem warung tegal (warteg), mendapat angin segar melalui sinergi strategis antara Bank Jakarta Syariah, Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI, dan Komunitas Warung Nusantara (Kowantara). Dalam acara penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang berlangsung di Kantor Pusat Bank Jakarta, Gedung Prasada Sasana Karya, Jakarta Pusat, diumumkan dua program utama yang menjadi tulang punggung kolaborasi ini: target penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Syariah sebesar Rp300 miliar dan pemberian beasiswa pendidikan bagi anggota Kowantara.
Akses Permodalan Syariah yang Masif
Perbankan syariah mengambil peran sentral dalam memperkuat struktur permodalan pelaku usaha mikro. Bank Jakarta Syariah secara resmi menargetkan penyaluran KUR Syariah senilai Rp300 miliar sepanjang tahun 2026 untuk mendukung pertumbuhan UMKM, termasuk puluhan ribu pengusaha warteg yang tergabung dalam jaringan Kowantara. Penyaluran ini didesain dengan skema yang inklusif, mengedepankan prinsip keadilan, dan bebas riba.
Dedy Akhmadi, perwakilan dari Bank Jakarta Syariah, menegaskan bahwa proses pengajuan modal kini dipermudah melalui filosofi “cemu-muah”—cepat, mudah, murah, aman, dan handal. Program ini menawarkan plafon hingga Rp500 juta dengan margin yang sangat kompetitif, yakni setara 3% hingga 6% efektif per tahun. Bagi pedagang kecil di pasar-pasar tradisional, tersedia pula skema khusus “Jak Ema” dengan plafon hingga Rp25 juta tanpa agunan untuk memudahkan mereka menjaga likuiditas harian. Persyaratan utamanya meliputi legalitas usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) dan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan sebagai bentuk perlindungan sosial bagi pekerja mandiri.
Pendidikan Tinggi bagi Keluarga Warteg
Di sisi lain, Institut STIAMI membawa misi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Rektor Institut STIAMI, Prof. Dr. Hj. Sylviana Murni, menyatakan komitmen kampus untuk memberikan potongan biaya pendidikan dan beasiswa khusus bagi para pengusaha warteg serta anggota keluarga mereka. Program ini bertujuan untuk menciptakan mobilitas sosial vertikal, di mana anak-anak pengusaha warteg dapat memperoleh pendidikan sarjana (S1) maupun pascasarjana (S2) untuk kemudian mengelola bisnis keluarga dengan manajemen yang lebih modern.
Selain beasiswa, STIAMI juga memperkenalkan konsep inovatif “Kampus Rakyat”. Konsep ini membawa aktivitas pembelajaran langsung ke pusat ekonomi rakyat, seperti pasar tradisional, agar para pelaku usaha tetap bisa belajar tanpa harus meninggalkan jam operasional dagangnya. Dengan dukungan 417 staf akademik dan jaringan kampus yang luas di Jabodetabek, STIAMI bertindak sebagai pendamping manajerial yang membantu UMKM dalam menyusun laporan keuangan sederhana dan melakukan digitalisasi bisnis.
Transformasi Digital dan Modernisasi
Ketua Kowantara, Ir. Mukroni, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah rendahnya literasi digital di kalangan pengusaha warteg, yang tercatat masih di bawah lima persen. Transformasi dari model tradisional berbasis kekerabatan (seduluran) menuju organisasi modern sangat diperlukan agar warteg tidak tergerus oleh persaingan global .
Melalui program Warteg Berseri (Bersih, Sehat, Mandiri), Kowantara bersama mitra strategisnya mendorong standarisasi higienitas dan efisiensi operasional . Modernisasi ini mencakup penggunaan aplikasi manajemen bisnis seperti Digikopin untuk memantau stok dan transaksi secara digital. Selain itu, kemandirian bahan baku diupayakan melalui distribution center yang dikelola komunitas untuk memangkas rantai distribusi pangan yang selama ini memberatkan pemilik warung .
Wujudkan Asta Cita, Bank Jakarta Syariah dan STIAMI Gandeng KOWANTARA Transformasi Ekosistem Warteg
Mewujudkan Visi Asta Cita
Kolaborasi tripartit ini merupakan langkah nyata dalam mengimplementasikan misi “Asta Cita” Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Secara spesifik, inisiatif ini mendukung misi ketiga tentang penciptaan lapangan kerja dan pengembangan kewirausahaan melalui akses permodalan UMKM, serta misi keempat tentang pengembangan kualitas SDM melalui pendidikan .
Pemerintah terus mendorong agar hilirisasi ekonomi dapat menjadi “eskalator” bagi UMKM daerah untuk terlibat dalam rantai pasok industri nasional . Dengan penguatan fondasi lewat modal KUR Syariah Rp300 miliar dan akses pendidikan tinggi, ekosistem warteg diharapkan mampu naik kelas menjadi usaha yang profesional, mandiri, dan berdaya saing tinggi dalam memperkokoh ketahanan ekonomi nasional menuju Indonesia Emas 2045. By Mukroni
- Berita Terkait :
Wujudkan Asta Cita, Bank Jakarta Syariah dan STIAMI Gandeng KOWANTARA Transformasi Ekosistem Warteg
Sinergi Bank Jakarta Syariah, STIAMI, dan KOWANTARA Perkuat Fondasi UMKM Lewat KUR dan Pendidikan
Kowantara Desak Pemerintah Mitigasi “Fatalitas” Lonjakan Harga Pangan Jelang Ramadan 2026
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11%, Moody’s Justru Ubah Prospek Jadi Negatif
Pemerintah Gelontorkan Stimulus Rp 12,83 Triliun untuk Jaga Daya Beli Jelang Lebaran 2026
OJK Siapkan 8 Rencana Aksi Reformasi Pasar Modal, Batas Free Float Resmi Naik Jadi 15 Persen
Benturan Oligarki vs Standar Global: Di Balik Mundurnya Petinggi OJK dan BEI
“Negara Leviathan Kembali: Saat Kritik Pangan Dibalas Gugatan Rp 200 Miliar dan Ancaman Pidana”
Impor Macet dan Stok Pemerintah Tipis, Bapanas dan Kemendag Didesak Ambil Langkah ‘Extraordinary’
Gejolak Awal Tahun: Alih Kelola Impor Pakan Ternak Picu Kelangkaan dan Lonjakan Harga
Target Operasional 2026 Terancam: Koperasi Merah Putih Terganjal Masalah Lahan dan Pembiayaan
Di Balik Surplus 2025: Krisis Iklim dan Bencana Mengintai Lumbung Pangan RI
Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut
Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit
Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi
Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli
Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025
Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026
Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra
Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan
Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA
Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah
UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok
Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II
“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS
Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis
Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar
UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”
Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop
Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!
IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!
Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!
Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!
Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!
Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!
Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!
TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!
Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!
Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!
Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?
Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!
Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!
Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!
Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

