Jakarta, Kowantaranews.com -Dunia menyaksikan transformasi fundamental dalam sejarah militer saat Operasi Epic Fury diluncurkan pada 28 Februari 2026. Kampanye militer Amerika Serikat terhadap Iran ini bukan sekadar pamer kekuatan konvensional, melainkan debut besar-besaran dari peperangan yang digerakkan oleh algoritma. Di pusat revolusi ini terdapat integrasi antara Maven Smart System (MSS) milik Palantir dengan model bahasa besar Claude dari Anthropic, sebuah kemitraan teknologi yang telah memangkas waktu pengambilan keputusan dari hitungan hari menjadi hanya beberapa detik.
Kecepatan di Luar Nalar Manusia
Laporan intelijen mengungkapkan bahwa penggunaan Claude dalam sistem Maven memungkinkan militer AS untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan lebih dari 1.000 target hanya dalam 24 jam pertama operasi. Sistem ini bekerja dengan menyerap data multi-modal dalam jumlah masif—mulai dari citra satelit, umpan pengawasan drone, hingga intersepsi sinyal—dan menyusunnya menjadi daftar target yang terperinci dengan koordinat GPS presisi serta rekomendasi senjata yang paling efektif.
Craig Jones, ahli geografi politik dari Newcastle University, mencatat bahwa mesin AI ini memberikan rekomendasi penargetan yang bekerja lebih cepat daripada “kecepatan berpikir” manusia. Fenomena ini telah mengubah “kill chain” tradisional menjadi “kill web” yang dinamis, di mana sensor dan penembak dihubungkan secara instan oleh lapisan kecerdasan buatan yang terus-menerus melakukan penalaran terhadap data medan perang.
Tragedi Minab dan Kegagalan Data
Namun, efisiensi algoritmik ini segera dibayangi oleh tragedi kemanusiaan yang memilukan. Pada hari pertama serangan, rudal Tomahawk AS menghantam Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di kota Minab, menewaskan sedikitnya 175 orang, sebagian besar adalah anak-anak. Investigasi awal menunjukkan bahwa sekolah tersebut masuk dalam daftar target karena penggunaan data intelijen usang dari Defense Intelligence Agency (DIA) yang masih mencatat bangunan tersebut sebagai bagian dari kompleks militer.
Meskipun sekolah itu memiliki indikator sipil yang jelas secara visual—seperti mural warna-warni dan lapangan bermain—sistem AI gagal melakukan verifikasi ulang terhadap status bangunan tersebut. Para ahli memperingatkan tentang bahaya “bias otomasi,” di mana operator manusia cenderung terlalu percaya pada rekomendasi mesin tanpa melakukan tinjauan mendalam, terutama ketika waktu perencanaan dipangkas begitu drastis.
Selat Hormuz Terkunci: Aliran 20 Juta Barel Minyak Dunia Terhenti Akibat Konflik Timur Tengah
Perselisihan Etika di Koridor Kekuasaan
Di balik layar, penggunaan teknologi ini memicu perselisihan sengit antara Pentagon dan Anthropic. CEO Anthropic, Dario Amodei, menetapkan “garis merah” yang melarang penggunaan Claude untuk senjata otonom yang mematikan atau surveilans massal. Ketegasan ini memicu kemarahan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, yang kemudian menetapkan Anthropic sebagai “risiko rantai pasokan” dan memerintahkan penghentian penggunaan teknologinya dalam waktu enam bulan.
Ironisnya, meski dilarang, Claude tetap menjadi inti dari operasi penargetan di Iran karena dianggap terlalu krusial dan belum memiliki pengganti yang sebanding. Di saat yang sama, kebijakan Hegseth yang memangkas hingga 90% tim mitigasi kerugian sipil (CHMR) dinilai telah menghilangkan lapisan perlindungan terakhir bagi warga sipil di lapangan.
Masa Depan Konflik Otonom
Operasi Epic Fury telah membuktikan bahwa AI dapat memberikan keunggulan taktis yang luar biasa, termasuk dalam serangan dekapitasi terhadap kepemimpinan tertinggi Iran. Namun, insiden di Minab menjadi pengingat bahwa tanpa akuntabilitas yang jelas dan pengawasan manusia yang substansial, peperangan algoritma berisiko menjadi instrumen kekerasan yang tidak terkendali. Dunia kini berada di ambang era di mana algoritma tidak hanya menyaring data, tetapi mungkin segera menentukan sendiri kapan harus menarik pelatuknya. By Mukroni
- Berita Terkait :
Selat Hormuz Terkunci: Aliran 20 Juta Barel Minyak Dunia Terhenti Akibat Konflik Timur Tengah
Timur Tengah Membara: AS-Israel Luncurkan “Operation Epic Fury” ke Jantung Iran
Menimbang Untung-Rugi Perjanjian ART: Antara “Jerat” Impor dan Karpet Merah Ekspor RI
Harga Cabai Rawit di Nduga Papua Tembus Rp 200.000 per Kg, Tertinggi di Indonesia
Bukan Sekadar Menu Berbuka, Pasar Takjil Indonesia Jadi Katalis Sirkulasi Kapital Musiman
Bank Jakarta Syariah Targetkan KUR Rp300 Miliar, STIAMI Siapkan Beasiswa bagi Anggota KOWANTARA
Wujudkan Asta Cita, Bank Jakarta Syariah dan STIAMI Gandeng KOWANTARA Transformasi Ekosistem Warteg
Sinergi Bank Jakarta Syariah, STIAMI, dan KOWANTARA Perkuat Fondasi UMKM Lewat KUR dan Pendidikan
Kowantara Desak Pemerintah Mitigasi “Fatalitas” Lonjakan Harga Pangan Jelang Ramadan 2026
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11%, Moody’s Justru Ubah Prospek Jadi Negatif
Pemerintah Gelontorkan Stimulus Rp 12,83 Triliun untuk Jaga Daya Beli Jelang Lebaran 2026
OJK Siapkan 8 Rencana Aksi Reformasi Pasar Modal, Batas Free Float Resmi Naik Jadi 15 Persen
Benturan Oligarki vs Standar Global: Di Balik Mundurnya Petinggi OJK dan BEI
“Negara Leviathan Kembali: Saat Kritik Pangan Dibalas Gugatan Rp 200 Miliar dan Ancaman Pidana”
Impor Macet dan Stok Pemerintah Tipis, Bapanas dan Kemendag Didesak Ambil Langkah ‘Extraordinary’
Gejolak Awal Tahun: Alih Kelola Impor Pakan Ternak Picu Kelangkaan dan Lonjakan Harga
Target Operasional 2026 Terancam: Koperasi Merah Putih Terganjal Masalah Lahan dan Pembiayaan
Di Balik Surplus 2025: Krisis Iklim dan Bencana Mengintai Lumbung Pangan RI
Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut
Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit
Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi
Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli
Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025
Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026
Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra
Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan
Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA
Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah
UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok
Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II
“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS
Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis
Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar
UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”
Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop
Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!
IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!
Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!
Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!
Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!
Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!
Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!
TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!
Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!
Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!
Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?
Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!
Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!
Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!
Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

