Puluhan Ribu Pemuda Jerman Turun ke Jalan Protes Biaya Hidup dan Pemangkasan Anggaran

Sharing is caring

Puluhan Ribu Pemuda Jerman Turun ke Jalan Protes Biaya Hidup dan Pemangkasan Anggaran

Jakarta, Kowantaranews.com      — Puluhan ribu pemuda dan mahasiswa di berbagai penjuru Jerman menggelar aksi unjuk rasa serentak guna menyuarakan keresahan atas melonjaknya biaya hidup, pemangkasan anggaran publik di sektor pendidikan, serta penolakan terhadap rencana pemberlakuan kembali wajib militer. Mobilisasi massa yang digerakkan oleh generasi muda tersebut menandai salah satu gelombang protes pemuda paling masif di Jerman dalam beberapa tahun terakhir.

Aksi nasional ini diinisiasi oleh kelompok kampanye bernama Gen Z regelt (“Generasi Z Mengambil Kendali”) dan berlangsung di sedikitnya 34 kota besar, termasuk Berlin, Frankfurt am Main, München, Hamburg, dan Köln. Para peserta aksi menilai bahwa kebijakan fiskal pemerintahan federal di bawah Kanselir Friedrich Merz kian membebani generasi muda dan mengabaikan masa depan mereka di tengah perlambatan ekonomi negara.

Baca Juga : Gelar Demo Sumpah Pemuda di Jakarta, Mahasiswa Suarakan 5 Tuntutan Penting

Keresahan di sektor pendidikan menjadi salah satu pemicu utama aksi. Kendati biaya perkuliahan formal di Jerman sebagian besar gratis, mahasiswa menghadapi lonjakan biaya sewa tempat tinggal, kebutuhan pokok yang makin mahal, serta fasilitas kampus yang dinilai kian rusak akibat pemotongan anggaran rutin. Sean Baker, seorang mahasiswa di Technical University of Berlin yang turut berpartisipasi dalam kampanye Campus Sanieren, menuturkan bahwa kondisi ruang-ruang kuliah saat ini menyerupai gedung yang terbengkalai karena ketiadaan dana renovasi selama bertahun-tahun. Kondisi serupa juga dirasakan oleh para pelajar sekolah menengah yang mengeluhkan penurunan mutu sarana belajar dan berkurangnya tenaga pengajar.

Selain persoalan domestik, penolakan terhadap wacana reaktivasi wajib militer (Wehrpflicht) menjadi agenda krusial para pengunjuk rasa. Kelompok pemuda memandang pemaksaan dinas militer sebagai kebijakan yang bertentangan dengan kebebasan sipil, terlebih di saat pemerintah dinilai memprioritaskan belanja pertahanan dan industri persenjataan dibandingkan kebutuhan layanan dasar masyarakat.

Baca Juga : Akomodasi Suara Pemuda: Kunci Kedaulatan Pangan dan Regenerasi Petani di Desa

“Hal terpenting bagi kami adalah dukungan yang lebih baik bagi sistem kesehatan dan pendidikan. Kami berada di sini untuk memperjuangkan perdamaian, menolak wajib militer, dan menuntut pembagian beban fiskal yang lebih adil,” tegas Lina Friedrich (21), salah seorang juru bicara dan inisiator aksi di Berlin. Di ibu kota, konsentrasi massa di sekitar Platz des 18. März juga diwarnai aksi solidaritas kemanusiaan atas krisis di Jalur Gaza, di mana para demonstran mengkritik keras alokasi dana untuk ekspor senjata militer di tengah pemotongan anggaran bantuan sosial.

Terkait skala keterlibatan massa, otoritas kepolisian dan penyelenggara mencatatkan estimasi yang berbeda. Pihak penyelenggara sebelumnya mengklaim pendaftaran daring mencapai lebih dari 160.000 peserta di seluruh Jerman. Namun, laporan resmi kepolisian di kota-kota utama seperti Berlin, München, dan Frankfurt mencatat jumlah peserta berkisar 18.000 orang di masing-masing kota metropolitan tersebut, dengan total partisipasi nasional tetap mencapai puluhan ribu orang.

Baca Juga : Satgas PPA Kecewa, Kasus Pemerkosaan Gadis 15 Tahun Oleh 6 Pemuda di Brebes Berakhir Damai

Sebagian besar rangkaian unjuk rasa sepanjang siang hari berlangsung damai dan tertib. Namun, situasi keamanan memburuk menjelang larut malam di kawasan perbelanjaan pusat kota Frankfurt dan beberapa wilayah lain. Kelompok perusuh bertopeng dilaporkan memecahkan etalase pertokoan, melempar bom molotov ke arah aparat, hingga merusak toko senjata api. Menanggapi kericuhan tersebut, kepolisian mengerahkan meriam air (water cannon) dan menangkap ratusan orang. Menteri Dalam Negeri Jerman Alexander Dobrindt menyerukan pemberian hukuman berat bagi para pelaku kekerasan dan penjarahan, sembari mengapresiasi aparat yang dinilai berhasil mencegah eskalasi anarkis berskala luas.

Di sisi lain, organisasi payung resmi pelajar Jerman (Bundesschülerkonferenz/BSK) memilih mengambil jarak operasional dari gerakan Gen Z regelt, meskipun mengamini substansi keresahan yang dialami siswa. Sekretaris Jenderal BSK Amy Kirchhoff menyatakan bahwa pihaknya mendukung aspirasi pembenahan sektor pendidikan, namun menyiapkan aksi demonstrasi tersendiri secara independen yang dijadwalkan berlangsung pada 20 November 2026. By Mukroni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *