Jakarta, Kowantaranews.com – Kunjungan Ratu Máxima dari Belanda dalam kapasitasnya sebagai Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kesehatan Finansial (UNSGSA) ke Surakarta pada akhir November 2025 membawa angin segar bagi peta jalan ekonomi kerakyatan Indonesia. Momentum ini memperkuat sinergi antara pemerintah dan sektor swasta untuk merealisasikan target ambisius tahun 2025: mendorong 1,1 juta debitur Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk “naik kelas” melalui skema graduasi.
Dalam kunjungannya di Kampung Batik Laweyan, Ratu Máxima menyoroti pergeseran paradigma dari sekadar inklusi keuangan menuju “kesehatan finansial” (financial health). Saat berdialog dengan Eny Zaqiyah, pemilik Enza Batik, serta para pengusaha perempuan mitra Amartha, Ratu Belanda tersebut menyaksikan bagaimana kombinasi teknologi finansial dan pendampingan lapangan mampu menciptakan ketahanan ekonomi keluarga.
Merespons momentum global ini, Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM, Riza Damanik, menegaskan bahwa tahun 2025 akan menjadi titik balik transformasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pemerintah menetapkan target penyaluran KUR sebesar Rp 300 triliun, dengan mandat khusus: 60 persen dari alokasi tersebut wajib disalurkan ke sektor produktif, seperti pertanian dan kerajinan, bukan sekadar perdagangan jual-beli.
“Target kita jelas, ada 2,4 juta debitur baru dan 1,1 juta debitur yang harus graduasi. Artinya, mereka yang tadinya berada di level mikro harus tumbuh kapasitas usahanya sehingga layak mendapatkan plafon pembiayaan yang lebih besar atau beralih ke skema komersial,” ujar Riza.
Sinergi antara target pemerintah dan eksekusi sektor swasta terlihat nyata di lapangan. Gusti Ian, pemilik “Kebaya Mbok Dhe” di Pasar Triwindu, Surakarta, menjadi representasi keberhasilan model ini. Bermula dari bantuan modal mikro sebesar Rp 3 juta dari Amartha saat titik terendah pasca-pandemi, Gusti Ian kini berhasil melakukan ekspansi dengan menyewa kios pasar dan melayani pesanan digital. Begitu pula dengan Yuanita Komalasari lewat usaha “Wedang Mbok Puci”, yang membuktikan adanya efek pengganda (multiplier effect); suntikan modal tidak hanya mengembangkan bisnis, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi perempuan di lingkungan sekitarnya.
Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah
CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, menyebut bahwa kunjungan Ratu Máxima adalah pengakuan atas ketangguhan UMKM perempuan yang mendominasi 64,5 persen dari total pelaku usaha di Indonesia. Namun, tantangan menuju digitalisasi penuh masih membayangi. Direktur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, mengingatkan pentingnya literasi agar akses keuangan digital tidak disalahgunakan untuk perilaku konsumtif atau terjerat judi daring, sebuah kerentanan yang dapat menggerus modal usaha.
Kolaborasi pasca-kunjungan UNSGSA ini diharapkan menjadi fondasi kokoh bagi ekonomi nasional. Kesehatan finansial kini bukan lagi jargon global semata, melainkan realitas yang sedang dibangun dari gang-gang kecil di Surakarta untuk menopang stabilitas ekonomi Indonesia di masa depan. By Mukroni
- Berita Terkait :
Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah
UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok
Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II
“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS
Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis
Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar
UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”
Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop
Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!
IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!
Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!
Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!
Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!
Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!
Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!
TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!
Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!
Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!
Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?
Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!
Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!
Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!
Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

