Jakarta, Kowantaranews.com – Tahun 2026 baru berjalan dua pekan, namun industri perunggasan nasional sudah dihantam badai besar. Keputusan pemerintah mengalihkan kewenangan impor Soybean Meal (SBM) atau bungkil kedelai dari sektor swasta kepada BUMN, PT Berdikari (Persero), per 1 Januari lalu, terbukti memicu guncangan hebat di rantai pasok pakan ternak. Alih-alih menciptakan kedaulatan pangan, kebijakan yang dieksekusi tanpa masa transisi yang memadai ini justru melahirkan kelangkaan pasokan dan lonjakan harga yang mencekik peternak rakyat.
Data di lapangan menunjukkan realitas yang meresahkan. Di sentra peternakan seperti Kendal dan Blitar, harga SBM yang menjadi sumber protein utama pakan ayam melonjak tajam dalam hitungan hari. Dari kisaran normal Rp6.800 per kilogram pada akhir Desember 2025, harga meroket menyentuh level Rp8.000 per kilogram pada minggu pertama Januari. Kenaikan sebesar Rp1.200 per kilogram ini bukan sekadar angka statistik, melainkan lonceng kematian bagi margin keuntungan peternak mandiri yang sudah sangat tipis.
Suwardi, Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Jawa Tengah, mengungkapkan kepanikan anggotanya. “Ayam tidak bisa diminta puasa menunggu regulasi siap. Ketika swasta berhenti menyuplai karena izinnya dicabut, dan BUMN belum siap barangnya, kami yang terjepit. Stok di gudang menipis, harga digoreng spekulan,” ujarnya dengan nada getir.
Akar permasalahan ini terletak pada kesenjangan antara ambisi regulasi dan kesiapan infrastruktur. Kementerian Pertanian berargumen bahwa sentralisasi impor ke BUMN adalah amanat Pasal 33 UUD 1945 untuk menjaga stabilitas harga. Namun, para pengamat industri menilai langkah ini mengabaikan kompleksitas logistik. Mengelola impor 5,5 juta ton SBM per tahun dengan valuasi lebih dari Rp35 triliun membutuhkan modal kerja raksasa dan fasilitas pelabuhan curah yang canggih—kapasitas yang selama ini dimiliki swasta, namun belum sepenuhnya dikuasai oleh PT Berdikari.
Presiden Forum Peternak Layer Nasional (FPLN), Musbar Mehdi, memperingatkan potensi terciptanya “ekonomi biaya tinggi”. Jika BUMN harus menyewa gudang swasta atau gagal melakukan efisiensi bongkar muat di pelabuhan, biaya tambahan (overhead cost) tersebut pasti akan dibebankan ke harga jual pakan. “Rantai pasok yang bertambah panjang dengan masuknya perantara baru justru berisiko membebani peternak dan pada akhirnya konsumen,” tegasnya.
Merespons jeritan peternak, pemerintah akhirnya melunak. Pada 9 Januari 2026, Kementerian Pertanian memutuskan memberikan masa transisi selama tiga bulan hingga 31 Maret 2026, mengizinkan swasta kembali membantu pasokan sementara waktu. Langkah darurat ini berhasil meredam kepanikan sesaat, namun ketidakpastian jangka panjang masih membayangi.
Taruhannya kini sangat tinggi. Jika tata kelola impor ini tidak segera dibereskan sebelum masa transisi berakhir, inflasi harga telur dan daging ayam tidak akan terelakkan. Hal ini menjadi ironi besar, mengingat pemerintahan baru justru sedang gencar mempersiapkan program “Makan Bergizi Gratis” yang membutuhkan pasokan protein murah dan stabil. Gejolak awal tahun ini menjadi peringatan keras: kebijakan pangan tanpa kalkulasi logistik yang matang hanya akan menjadi bumerang bagi rakyat kecil. By Mukroni
- Berita Terkait :
Target Operasional 2026 Terancam: Koperasi Merah Putih Terganjal Masalah Lahan dan Pembiayaan
Di Balik Surplus 2025: Krisis Iklim dan Bencana Mengintai Lumbung Pangan RI
Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut
Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit
Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi
Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli
Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025
Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026
Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra
Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan
Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA
Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah
UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok
Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II
“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS
Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis
Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar
UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”
Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop
Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!
IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!
Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!
Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!
Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!
Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!
Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!
TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!
Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!
Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!
Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?
Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!
Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!
Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!
Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

