Jakarta, Kowantaranews.com – Lampu kuning menyala bagi stabilitas pangan nasional hanya satu bulan menjelang Ramadan 2026. Di tengah ancaman inflasi volatile food, pemerintah dihadapkan pada realitas pahit: realisasi impor bawang putih hingga pekan ketiga Januari 2026 tercatat masih nol ton, sementara stok Cadangan Bawang Putih Pemerintah (CBPP) dilaporkan dalam kondisi sangat tipis, bahkan nyaris nihil untuk intervensi pasar yang efektif.
Kondisi ini memicu desakan keras agar Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) segera meninggalkan pola kerja rutinitas dan mengambil langkah extraordinary atau luar biasa guna menjebol sumbatan distribusi yang terjadi.
Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Tomsi Tohir, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (19/1/2026), secara terbuka menuding adanya “modus operandi” di balik kelangkaan ini. Ia mencurigai pola penundaan impor yang berulang setiap menjelang hari besar keagamaan bukanlah kendala teknis semata, melainkan strategi ekonomi segelintir importir untuk mendongkrak harga demi keuntungan maksimal.
“Kenapa dia tidak mau impor, kenapa dia terlambat impor, sementara dia punya izin impor? Ini namanya modus operandi. Supaya apa? Supaya harganya bisa naik,” tegas Tomsi dengan nada tinggi di hadapan peserta rapat.
Data di lapangan membenarkan kekhawatiran tersebut. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga bawang putih telah meluas ke 203 kabupaten/kota pada minggu ketiga Januari 2026. Di tingkat nasional, harga rata-rata telah merangkak naik mendekati Rp40.000 per kilogram, sementara di wilayah defisit ekstrem seperti Papua Tengah, harga dilaporkan telah menembus angka psikologis Rp100.000 per kilogram akibat rantai pasok yang terputus.
Kementerian Perdagangan berdalih bahwa kemacetan ini disebabkan oleh belum terbitnya Laporan Surveyor (LS) dari negara asal, Tiongkok, yang menjadi syarat mutlak penerbitan izin impor. Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kemendag, Nawandaru Dwi Putra, mengakui bahwa proses inspeksi di negara asal masih berlangsung, sehingga belum ada satu pun pengapalan yang dilakukan. Namun, argumen birokrasi ini dinilai tidak lagi relevan di tengah situasi darurat. Dengan waktu pengiriman laut (ocean freight) yang memakan waktu 2 hingga 3 minggu, jika hambatan LS tidak diterobos hari ini, pasokan fisik bawang putih dipastikan baru akan tiba saat Ramadan sudah berjalan, yang berarti momentum stabilisasi harga akan terlewat.
Gejolak Awal Tahun: Alih Kelola Impor Pakan Ternak Picu Kelangkaan dan Lonjakan Harga
Di sisi lain, posisi Bapanas terjepit. Berbeda dengan komoditas beras di mana Bulog berhasil mengamankan stok cadangan (CBP) hingga 3,36 juta ton per Januari 2026, Bapanas tidak memiliki “peluru” cadangan bawang putih yang memadai untuk melakukan operasi pasar secara mandiri. Ketergantungan mutlak pada impor swasta (95% dari total kebutuhan) membuat negara seolah tersandera oleh mekanisme pasar yang oligopolistik.
Oleh karena itu, langkah extraordinary menjadi satu-satunya opsi. Para pengamat dan pemangku kepentingan mendesak pemerintah untuk mempertimbangkan diskresi regulasi, seperti pengalihan pemeriksaan surveyor menjadi post-border (pemeriksaan di pelabuhan tujuan) untuk mempercepat pengiriman, serta penerapan sanksi pencabutan kuota seketika bagi importir yang terbukti menimbun atau menunda realisasi. Tanpa keberanian memotong birokrasi, masyarakat konsumen akan kembali menjadi korban inflasi pangan di momen paling sakral tahun ini. By Mukroni
- Berita Terkait :
Gejolak Awal Tahun: Alih Kelola Impor Pakan Ternak Picu Kelangkaan dan Lonjakan Harga
Target Operasional 2026 Terancam: Koperasi Merah Putih Terganjal Masalah Lahan dan Pembiayaan
Di Balik Surplus 2025: Krisis Iklim dan Bencana Mengintai Lumbung Pangan RI
Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut
Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit
Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi
Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli
Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025
Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026
Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra
Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan
Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA
Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah
UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok
Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II
“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS
Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis
Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar
UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”
Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop
Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!
IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!
Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!
Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!
Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!
Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!
Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!
TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!
Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!
Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!
Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?
Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!
Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!
Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!
Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

