• Jum. Feb 6th, 2026

KowantaraNews

Kowantara News: Berita tajam, warteg jaya, UMKM tak terjajah!

Paradoks Ekonomi Jakarta 2026: Di Balik Deflasi Januari, Beban Listrik dan Energi Justru Melonjak 9,71 Persen

ByAdmin

Feb 5, 2026
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (Foto Pikiran Rakyat)
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com – Memasuki bulan kedua tahun 2026, warga Jakarta dihadapkan pada situasi ekonomi yang membingungkan. Berdasarkan laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada awal Februari 2026, Ibu Kota mencatatkan fenomena paradoks: harga-harga kebutuhan pokok di pasar tradisional mulai melandai, namun beban biaya hidup tetap struktural justru melonjak tajam.

Secara bulanan (month-to-month/mtm), Jakarta mengalami deflasi sebesar 0,23 persen pada Januari 2026. Angka ini berbalik arah dibandingkan kondisi Desember 2025 yang masih mengalami inflasi sebesar 0,33 persen. Penurunan harga ini membawa angin segar bagi para ibu rumah tangga dan pekerja muda yang terbiasa berbelanja harian, karena kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat turun harga hingga 1,57 persen. Komoditas seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah menyumbang andil deflasi yang besar seiring dengan melimpahnya pasokan dari masa panen di daerah sentral produksi.

Namun, di balik kabar gembira penurunan harga pangan tersebut, tersimpan beban berat yang justru menghimpit dompet warga secara tahunan. Inflasi tahunan (yoy) DKI Jakarta justru menyentuh angka 3,96 persen, jauh melampaui rata-rata inflasi nasional yang berada di level 3,55 persen.

Anomali Biaya Energi dan Fenomena Low Base Effect

Penyebab utama dari tingginya inflasi tahunan ini adalah kelompok administered prices atau harga yang diatur pemerintah, yang melonjak sebesar 9,71 persen secara tahunan. Lonjakan ini terutama dipicu oleh biaya energi, khususnya tarif listrik rumah tangga.

Fenomena ini dijelaskan oleh para ekonom sebagai dampak dari low base effect atau efek basis rendah. Pada periode Januari hingga Februari 2025, pemerintah sempat menerapkan kebijakan diskon tarif listrik sebesar 50 persen untuk membantu masyarakat. Ketika diskon tersebut berakhir dan tarif kembali normal di tahun 2026, terjadi kenaikan persentase yang sangat mencolok saat dibandingkan dengan harga tahun lalu. Hal ini menjelaskan mengapa warga merasa tagihan listrik dan utilitas lainnya tetap “mencekik” meskipun harga cabai di pasar sedang murah-murahnya.

Selain listrik, normalisasi permintaan pasca libur Natal dan Tahun Baru memang sempat menurunkan tarif angkutan udara dan harga BBM non-subsidi per 1 Januari 2026. Namun, stabilitas ini diprediksi tidak akan bertahan lama. Memasuki Februari, harga pangan strategis seperti cabai rawit merah mulai merangkak naik lagi menuju level Rp68.850 per kilogram akibat dinamika menjelang bulan Ramadan.

Strategi Bertahan Hidup di Tengah Ketidakpastian

Menghadapi paradoks biaya energi yang tinggi dan inflasi pangan yang dinamis, pekerja muda di Jakarta dipaksa untuk lebih cerdas mengelola arus kas. Para ahli keuangan merekomendasikan penggunaan rumus penganggaran 40-30-20-10 sebagai instrumen bertahan hidup yang paling realistis saat ini.

Dalam rumus ini, 40 persen pendapatan dialokasikan mutlak untuk kebutuhan pokok (makan, transportasi, dan utilitas). Mengingat biaya energi naik hampir 10 persen, efisiensi di pos ini menjadi harga mati. Alokasi 30 persen ditujukan untuk kewajiban atau cicilan agar skor kredit tetap terjaga. Sementara itu, 20 persen harus dipaksakan masuk ke tabungan atau investasi mikro—seperti emas digital atau reksa dana yang kini bisa dimulai dari Rp10.000 melalui berbagai aplikasi fintech legal OJK. Sisa 10 persen dialokasikan untuk kegiatan sosial atau dana darurat tambahan.

Pilihan hunian juga menjadi kunci. Dengan harga kost di Jakarta Timur yang rata-rata berada di angka Rp1 juta per bulan (turun 16,7 persen dari kuartal sebelumnya), wilayah seperti Cipayung dan Rawamangun menjadi pilihan logis. Kedekatan dengan akses LRT Ciracas atau LRT Velodrome menjadi nilai tambah yang dapat memangkas biaya transportasi bulanan secara signifikan.

Era Karier Baru: AI Literacy dan Side Hustle

Di sisi pendapatan, pasar tenaga kerja 2026 menunjukkan tren “job hugging,” di mana banyak pekerja memilih bertahan di posisi saat ini demi stabilitas meskipun kenaikan gaji terasa lambat. Untuk meningkatkan daya tawar, literasi AI kini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi hampir semua divisi, mulai dari pemasaran hingga keuangan.

Pemerintah Gelontorkan Stimulus Rp 12,83 Triliun untuk Jaga Daya Beli Jelang Lebaran 2026

Bagi mereka yang membutuhkan penghasilan tambahan, era digital 2026 menawarkan peluang side hustle yang luas. Jasa integrasi AI untuk UMKM, affiliate marketing di TikTok, hingga penjualan produk digital berupa template atau e-book menjadi jalan keluar bagi banyak pekerja kantoran untuk menutup celah inflasi tahunan yang terus membayangi Ibu Kota.

Pada akhirnya, resiliensi ekonomi warga Jakarta di tahun 2026 bukan ditentukan oleh seberapa besar gaji yang diterima, melainkan seberapa tangkas mereka menavigasi paradoks antara penurunan harga pasar harian dengan kenaikan biaya hidup struktural yang telah ditetapkan oleh kebijakan pemerintah. By Mukroni

  • Berita Terkait :

Pemerintah Gelontorkan Stimulus Rp 12,83 Triliun untuk Jaga Daya Beli Jelang Lebaran 2026

OJK Siapkan 8 Rencana Aksi Reformasi Pasar Modal, Batas Free Float Resmi Naik Jadi 15 Persen

Benturan Oligarki vs Standar Global: Di Balik Mundurnya Petinggi OJK dan BEI

“Negara Leviathan Kembali: Saat Kritik Pangan Dibalas Gugatan Rp 200 Miliar dan Ancaman Pidana”

Impor Macet dan Stok Pemerintah Tipis, Bapanas dan Kemendag Didesak Ambil Langkah ‘Extraordinary’

Gejolak Awal Tahun: Alih Kelola Impor Pakan Ternak Picu Kelangkaan dan Lonjakan Harga

Target Operasional 2026 Terancam: Koperasi Merah Putih Terganjal Masalah Lahan dan Pembiayaan

Di Balik Surplus 2025: Krisis Iklim dan Bencana Mengintai Lumbung Pangan RI

Indonesia Raih Swasembada Beras 2025: Analisis Capaian, Surplus, dan Peta Jalan Ketahanan Pangan 2026

“Kepungan Bencana Hidrometeorologi dan El Nino 2026: Ujian Berat bagi Pertahanan Swasembada Pangan RI”

Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut

Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit

Paradoks Pasar Kerja 2026: Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Penciptaan Lapangan Kerja dan Dampak Distorsi Kebijakan Nasional

Paradoks Pangan Akhir 2025: Stok Nasional Pecah Rekor, Harga Beras di Pedalaman Papua Tembus Rp50.000

Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi

Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli

Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025

Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026

Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra

Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan

Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA

Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah

UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok

Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II

“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS

Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis

Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar

UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”

Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop

Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!

IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!

Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!

Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!

Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!

Indonesia-Rusia Kolplay Digital: 5G Ngegas, Warteg Go Online, Tapi Awas Jangan Kejebak Vodka Virtual!

Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!

Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!

TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!

Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!

Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!

Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?

Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!

Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!

Bank Dunia Bikin Panik: 194 Juta Orang Indonesia Jadi ‘Miskin’, Warteg Jadi Penutup atau Penutup Dompet?

Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!

Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *