• Jum. Feb 6th, 2026

KowantaraNews

Kowantara News: Berita tajam, warteg jaya, UMKM tak terjajah!

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11%, Moody’s Justru Ubah Prospek Jadi Negatif

ByAdmin

Feb 6, 2026
Bank Indonesia (BI) (Bloomberg)
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com -Perekonomian Indonesia pada awal Februari 2026 menyajikan sebuah anomali yang mencolok antara data makroekonomi domestik yang positif dengan penilaian risiko dari lembaga internasional. Pada tanggal 5 Februari 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa ekonomi nasional sepanjang tahun 2025 tumbuh sebesar 5,11 persen secara tahunan (y-on-y). Angka ini menunjukkan percepatan dibandingkan pertumbuhan tahun 2024 yang tercatat sebesar 5,03 persen. PDB per kapita Indonesia pun meningkat mencapai Rp83,7 juta atau setara dengan USD 5.083,4.

Penguatan ekonomi ini terutama didorong oleh performa luar biasa pada triwulan IV-2025 yang tumbuh sebesar 5,39 persen, capaian tertinggi untuk periode akhir tahun sejak pandemi COVID-19. Dari sisi produksi, sektor Jasa Lainnya menjadi motor penggerak utama dengan ekspansi sebesar 9,93 persen, sementara dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa mencatatkan pertumbuhan solid sebesar 7,03 persen. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan menyatakan optimismenya bahwa arah ekonomi sudah membalik dan menargetkan pertumbuhan mendekati 6 persen pada tahun 2026.

Namun, kegembiraan atas angka pertumbuhan tersebut dibayangi oleh rilis mengejutkan dari Moody’s Ratings pada hari yang sama. Lembaga pemeringkat kredit internasional tersebut secara resmi menurunkan proyeksi (outlook) peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski tetap mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia pada level Baa2—satu tingkat di atas investment grade—perubahan prospek ini merupakan sinyal bahaya adanya potensi penurunan peringkat di masa depan.

Moody’s menjelaskan bahwa penurunan prospek tersebut didorong oleh berkurangnya prediktabilitas dalam pengambilan kebijakan pemerintah yang berisiko mengganggu efektivitas dan melemahkan tata kelola negara. Lembaga ini menyoroti adanya risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama dibangun, yang jika terus berlanjut, dapat merusak stabilitas fiskal dan keuangan. Penilaian Moody’s ini muncul hanya beberapa hari setelah indeks MSCI memberikan peringatan keras mengenai masalah transparansi kepemilikan dan perdagangan saham yang sempat memicu kepanikan pasar hingga menghapus nilai pasar lebih dari USD 80 miliar.

Salah satu faktor spesifik yang menjadi sorotan adalah pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Sebagai super holding yang memegang kendali atas aset BUMN senilai lebih dari USD 900 miliar atau setara 60 persen dari PDB nominal 2025, Danantara dinilai meningkatkan ketidakpastian terkait prioritas investasi dan tata kelola keuangan negara. Kebijakan seperti “Patriot Bond” yang menawarkan bunga hanya 2 persen—jauh di bawah bunga pasar sebesar 6 persen—dianggap oleh para analis lebih sebagai instrumen politik atau “uji loyalitas” bagi elit bisnis ketimbang langkah komersial yang independen.

Paradoks Ekonomi Jakarta 2026: Di Balik Deflasi Januari, Beban Listrik dan Energi Justru Melonjak 9,71 Persen

Selain tata kelola, beban fiskal akibat perluasan program sosial yang masif turut memicu kekhawatiran. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang anggarannya melonjak menjadi Rp335 triliun pada tahun 2026 dianggap memberikan tekanan berat pada basis pendapatan negara yang masih sempit. HSBC Global Investment Research mencatat bahwa kombinasi belanja tinggi untuk program kesejahteraan dan pendapatan pajak yang belum optimal telah menyebabkan defisit APBN 2025 melebar hingga 2,92 persen terhadap PDB, melewati target awal pemerintah sebesar 2,78 persen.

Menanggapi penilaian Moody’s, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto berpendapat bahwa lembaga pemeringkat dan pasar global kemungkinan belum sepenuhnya memahami esensi dari reformasi yang sedang dilakukan Indonesia. Pemerintah berkomitmen untuk memberikan penjelasan lebih detail mengenai peran Danantara serta alokasi belanja prioritas untuk memastikan bahwa risiko fiskal tetap terkendali melalui langkah-langkah debottlenecking hambatan usaha. Meski data pertumbuhan 5,11 persen memberikan modal kepercayaan diri, tantangan sesungguhnya bagi Indonesia di tahun 2026 adalah membuktikan bahwa akselerasi ekonomi ini didukung oleh institusi yang transparan dan kebijakan yang dapat diprediksi oleh investor internasional. By Mukroni

  • Berita Terkait :

Paradoks Ekonomi Jakarta 2026: Di Balik Deflasi Januari, Beban Listrik dan Energi Justru Melonjak 9,71 Persen

Pemerintah Gelontorkan Stimulus Rp 12,83 Triliun untuk Jaga Daya Beli Jelang Lebaran 2026

OJK Siapkan 8 Rencana Aksi Reformasi Pasar Modal, Batas Free Float Resmi Naik Jadi 15 Persen

Benturan Oligarki vs Standar Global: Di Balik Mundurnya Petinggi OJK dan BEI

“Negara Leviathan Kembali: Saat Kritik Pangan Dibalas Gugatan Rp 200 Miliar dan Ancaman Pidana”

Impor Macet dan Stok Pemerintah Tipis, Bapanas dan Kemendag Didesak Ambil Langkah ‘Extraordinary’

Gejolak Awal Tahun: Alih Kelola Impor Pakan Ternak Picu Kelangkaan dan Lonjakan Harga

Target Operasional 2026 Terancam: Koperasi Merah Putih Terganjal Masalah Lahan dan Pembiayaan

Di Balik Surplus 2025: Krisis Iklim dan Bencana Mengintai Lumbung Pangan RI

Indonesia Raih Swasembada Beras 2025: Analisis Capaian, Surplus, dan Peta Jalan Ketahanan Pangan 2026

“Kepungan Bencana Hidrometeorologi dan El Nino 2026: Ujian Berat bagi Pertahanan Swasembada Pangan RI”

Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut

Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit

Paradoks Pasar Kerja 2026: Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Penciptaan Lapangan Kerja dan Dampak Distorsi Kebijakan Nasional

Paradoks Pangan Akhir 2025: Stok Nasional Pecah Rekor, Harga Beras di Pedalaman Papua Tembus Rp50.000

Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi

Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli

Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025

Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026

Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra

Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan

Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA

Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah

UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok

Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II

“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS

Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis

Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar

UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”

Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop

Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!

IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!

Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!

Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!

Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!

Indonesia-Rusia Kolplay Digital: 5G Ngegas, Warteg Go Online, Tapi Awas Jangan Kejebak Vodka Virtual!

Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!

Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!

TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!

Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!

Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!

Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?

Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!

Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!

Bank Dunia Bikin Panik: 194 Juta Orang Indonesia Jadi ‘Miskin’, Warteg Jadi Penutup atau Penutup Dompet?

Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!

Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *