• Jum. Feb 20th, 2026

KowantaraNews

Kowantara News: Berita tajam, warteg jaya, UMKM tak terjajah!

Target Pertumbuhan Ekonomi 5,4% di 2026: Ekonomi Kerakyatan Jadi Motor Utama

ByAdmin

Feb 16, 2026
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam dialog Economic Outlook 2026 di Kompas TV, Selasa, 16 Desember 2025 lalu. Pakar UGM menilai target pertumbuhan ekonomi 5,4 persen pada 2026 seperti diungkapkan Menkeu Purbaya sulit tercapai. Foto:Dok Kemenkeu
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com – Pemerintah Indonesia menetapkan target optimis untuk pertumbuhan ekonomi tahun 2026 pada kisaran 5,4 persen hingga 5,6 persen. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang banyak bertumpu pada sektor konsumsi perkotaan dan investasi besar, mesin pertumbuhan kali ini akan digerakkan langsung dari akar rumput melalui penguatan ekonomi kerakyatan. Tiga pilar utama yang menjadi penggeraknya adalah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), program Makan Bergizi Gratis (MBG), dan percepatan Swasembada Pangan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional saat ini sangat solid untuk mengejar target tersebut. Hal ini terlihat dari realisasi penerimaan pajak pada Januari 2026 yang tumbuh signifikan sebesar 30,8 persen secara tahunan, memberikan ruang fiskal yang cukup bagi pemerintah untuk menjalankan program-program prioritas. Fokus Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2026 sendiri diarahkan pada kedaulatan pangan, energi, dan transformasi ekonomi yang inklusif.

Koperasi Desa sebagai Penyerap Tenaga Kerja Masif

Salah satu instrumen strategis yang paling disorot adalah pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Pemerintah menargetkan sebanyak 30.008 unit koperasi sudah selesai dibangun dan beroperasi penuh pada tahun 2026 dari total target 80.000 unit hingga tahun 2029. Langkah ini diproyeksikan mampu menciptakan lapangan kerja bagi sedikitnya 1,6 juta orang, dengan asumsi setiap unit koperasi menyerap sekitar 20 tenaga kerja langsung dari masyarakat setempat.

Model keberhasilan koperasi ini telah terlihat di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, di mana implementasi KDKMP dilaporkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi desa hingga 11-12 persen. Koperasi di sana tidak hanya berperan sebagai pengumpul hasil tani, tetapi juga memangkas rantai pasok yang selama ini terlalu panjang, sehingga petani mendapatkan harga jual yang lebih adil dan konsumen memperoleh harga yang lebih terjangkau.

Makan Bergizi Gratis: Mesin Penggerak Konsumsi Domestik

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan alokasi anggaran mencapai Rp335 triliun pada tahun 2026 diposisikan sebagai “game changer” ekonomi nasional. Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat telah mencairkan dana sebesar Rp32,1 triliun hanya dalam 1,5 bulan pertama di tahun 2026 untuk menggerakkan program ini. Sekitar 93 persen dari total anggaran dialirkan langsung ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di tingkat provinsi hingga pelosok desa.

Setiap unit SPPG mendapatkan dana operasional rata-rata Rp1 miliar per bulan, di mana 70 persennya digunakan untuk membeli bahan baku dari petani dan peternak lokal. Dampak penggandanya sangat luar biasa; setiap Rp1 yang dikeluarkan pemerintah untuk MBG diperkirakan mampu menumbuhkan ekonomi hingga tujuh kali lipat di daerah tersebut. Selain meningkatkan kualitas nutrisi, program ini memicu permintaan masif terhadap komoditas lokal seperti susu, telur, dan daging ayam.

Swasembada Pangan dan Transformasi Modern

Pilar ketiga, Swasembada Pangan, diperkuat melalui deregulasi besar-besaran dan modernisasi pertanian. Kementerian Pertanian telah mencabut sekitar 500 regulasi yang dianggap menghambat dan menerbitkan 13 Peraturan Presiden untuk mempercepat distribusi sarana produksi, termasuk reformasi tata kelola pupuk bersubsidi yang kini langsung tersalurkan ke petani. Kebijakan ini berhasil menurunkan biaya produksi petani hingga 50 persen dan meningkatkan indeks pertanaman menjadi tiga kali tanam per tahun.

Warteg Naik Kelas: Kolaborasi Tripartit Hadirkan Akses Pembiayaan Syariah dan Program “Kampus Rakyat” 

Di sektor protein, pemerintah melalui Danantara dan PT Berdikari (Persero) telah memulai proyek hilirisasi ayam terintegrasi senilai Rp20 triliun yang tersebar di enam lokasi awal, termasuk Malang, Bone, dan Gorontalo Utara. Proyek ini bertujuan menjamin stabilitas harga dan pasokan daging serta telur ayam secara nasional untuk mendukung kebutuhan program MBG.

Dengan sinergi antara penguatan kelembagaan desa, jaminan pasar melalui program nutrisi, serta modernisasi sektor pangan, pemerintah optimis bahwa pertumbuhan 5,4 persen di tahun 2026 akan menjadi pondasi kuat menuju Indonesia Maju yang lebih merata dan berdaulat.By Mukroni

  • Berita Terkait :

Warteg Naik Kelas: Kolaborasi Tripartit Hadirkan Akses Pembiayaan Syariah dan Program “Kampus Rakyat” 

Sinergi Bank Jakarta Syariah, STIAMI, dan KOWANTARA Perkuat Fondasi UMKM Lewat KUR dan Pendidikan 

Kowantara Desak Pemerintah Mitigasi “Fatalitas” Lonjakan Harga Pangan Jelang Ramadan 2026

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11%, Moody’s Justru Ubah Prospek Jadi Negatif

Paradoks Ekonomi Jakarta 2026: Di Balik Deflasi Januari, Beban Listrik dan Energi Justru Melonjak 9,71 Persen

Pemerintah Gelontorkan Stimulus Rp 12,83 Triliun untuk Jaga Daya Beli Jelang Lebaran 2026

OJK Siapkan 8 Rencana Aksi Reformasi Pasar Modal, Batas Free Float Resmi Naik Jadi 15 Persen

Benturan Oligarki vs Standar Global: Di Balik Mundurnya Petinggi OJK dan BEI

“Negara Leviathan Kembali: Saat Kritik Pangan Dibalas Gugatan Rp 200 Miliar dan Ancaman Pidana”

Impor Macet dan Stok Pemerintah Tipis, Bapanas dan Kemendag Didesak Ambil Langkah ‘Extraordinary’

Gejolak Awal Tahun: Alih Kelola Impor Pakan Ternak Picu Kelangkaan dan Lonjakan Harga

Target Operasional 2026 Terancam: Koperasi Merah Putih Terganjal Masalah Lahan dan Pembiayaan

Di Balik Surplus 2025: Krisis Iklim dan Bencana Mengintai Lumbung Pangan RI

Indonesia Raih Swasembada Beras 2025: Analisis Capaian, Surplus, dan Peta Jalan Ketahanan Pangan 2026

“Kepungan Bencana Hidrometeorologi dan El Nino 2026: Ujian Berat bagi Pertahanan Swasembada Pangan RI”

Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut

Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit

Paradoks Pasar Kerja 2026: Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Penciptaan Lapangan Kerja dan Dampak Distorsi Kebijakan Nasional

Paradoks Pangan Akhir 2025: Stok Nasional Pecah Rekor, Harga Beras di Pedalaman Papua Tembus Rp50.000

Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi

Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli

Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025

Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026

Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra

Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan

Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA

Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah

UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok

Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II

“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS

Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis

Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar

UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”

Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop

Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!

IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!

Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!

Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!

Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!

Indonesia-Rusia Kolplay Digital: 5G Ngegas, Warteg Go Online, Tapi Awas Jangan Kejebak Vodka Virtual!

Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!

Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!

TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!

Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!

Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!

Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?

Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!

Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!

Bank Dunia Bikin Panik: 194 Juta Orang Indonesia Jadi ‘Miskin’, Warteg Jadi Penutup atau Penutup Dompet?

Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!

Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *