Jakarta, Kowantaranews.com – Pemerintah Indonesia menetapkan target optimis untuk pertumbuhan ekonomi tahun 2026 pada kisaran 5,4 persen hingga 5,6 persen. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang banyak bertumpu pada sektor konsumsi perkotaan dan investasi besar, mesin pertumbuhan kali ini akan digerakkan langsung dari akar rumput melalui penguatan ekonomi kerakyatan. Tiga pilar utama yang menjadi penggeraknya adalah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), program Makan Bergizi Gratis (MBG), dan percepatan Swasembada Pangan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional saat ini sangat solid untuk mengejar target tersebut. Hal ini terlihat dari realisasi penerimaan pajak pada Januari 2026 yang tumbuh signifikan sebesar 30,8 persen secara tahunan, memberikan ruang fiskal yang cukup bagi pemerintah untuk menjalankan program-program prioritas. Fokus Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2026 sendiri diarahkan pada kedaulatan pangan, energi, dan transformasi ekonomi yang inklusif.
Koperasi Desa sebagai Penyerap Tenaga Kerja Masif
Salah satu instrumen strategis yang paling disorot adalah pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Pemerintah menargetkan sebanyak 30.008 unit koperasi sudah selesai dibangun dan beroperasi penuh pada tahun 2026 dari total target 80.000 unit hingga tahun 2029. Langkah ini diproyeksikan mampu menciptakan lapangan kerja bagi sedikitnya 1,6 juta orang, dengan asumsi setiap unit koperasi menyerap sekitar 20 tenaga kerja langsung dari masyarakat setempat.
Model keberhasilan koperasi ini telah terlihat di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, di mana implementasi KDKMP dilaporkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi desa hingga 11-12 persen. Koperasi di sana tidak hanya berperan sebagai pengumpul hasil tani, tetapi juga memangkas rantai pasok yang selama ini terlalu panjang, sehingga petani mendapatkan harga jual yang lebih adil dan konsumen memperoleh harga yang lebih terjangkau.
Makan Bergizi Gratis: Mesin Penggerak Konsumsi Domestik
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan alokasi anggaran mencapai Rp335 triliun pada tahun 2026 diposisikan sebagai “game changer” ekonomi nasional. Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat telah mencairkan dana sebesar Rp32,1 triliun hanya dalam 1,5 bulan pertama di tahun 2026 untuk menggerakkan program ini. Sekitar 93 persen dari total anggaran dialirkan langsung ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di tingkat provinsi hingga pelosok desa.
Setiap unit SPPG mendapatkan dana operasional rata-rata Rp1 miliar per bulan, di mana 70 persennya digunakan untuk membeli bahan baku dari petani dan peternak lokal. Dampak penggandanya sangat luar biasa; setiap Rp1 yang dikeluarkan pemerintah untuk MBG diperkirakan mampu menumbuhkan ekonomi hingga tujuh kali lipat di daerah tersebut. Selain meningkatkan kualitas nutrisi, program ini memicu permintaan masif terhadap komoditas lokal seperti susu, telur, dan daging ayam.
Swasembada Pangan dan Transformasi Modern
Pilar ketiga, Swasembada Pangan, diperkuat melalui deregulasi besar-besaran dan modernisasi pertanian. Kementerian Pertanian telah mencabut sekitar 500 regulasi yang dianggap menghambat dan menerbitkan 13 Peraturan Presiden untuk mempercepat distribusi sarana produksi, termasuk reformasi tata kelola pupuk bersubsidi yang kini langsung tersalurkan ke petani. Kebijakan ini berhasil menurunkan biaya produksi petani hingga 50 persen dan meningkatkan indeks pertanaman menjadi tiga kali tanam per tahun.
Di sektor protein, pemerintah melalui Danantara dan PT Berdikari (Persero) telah memulai proyek hilirisasi ayam terintegrasi senilai Rp20 triliun yang tersebar di enam lokasi awal, termasuk Malang, Bone, dan Gorontalo Utara. Proyek ini bertujuan menjamin stabilitas harga dan pasokan daging serta telur ayam secara nasional untuk mendukung kebutuhan program MBG.
Dengan sinergi antara penguatan kelembagaan desa, jaminan pasar melalui program nutrisi, serta modernisasi sektor pangan, pemerintah optimis bahwa pertumbuhan 5,4 persen di tahun 2026 akan menjadi pondasi kuat menuju Indonesia Maju yang lebih merata dan berdaulat.By Mukroni
- Berita Terkait :
Sinergi Bank Jakarta Syariah, STIAMI, dan KOWANTARA Perkuat Fondasi UMKM Lewat KUR dan Pendidikan
Kowantara Desak Pemerintah Mitigasi “Fatalitas” Lonjakan Harga Pangan Jelang Ramadan 2026
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11%, Moody’s Justru Ubah Prospek Jadi Negatif
Pemerintah Gelontorkan Stimulus Rp 12,83 Triliun untuk Jaga Daya Beli Jelang Lebaran 2026
OJK Siapkan 8 Rencana Aksi Reformasi Pasar Modal, Batas Free Float Resmi Naik Jadi 15 Persen
Benturan Oligarki vs Standar Global: Di Balik Mundurnya Petinggi OJK dan BEI
“Negara Leviathan Kembali: Saat Kritik Pangan Dibalas Gugatan Rp 200 Miliar dan Ancaman Pidana”
Impor Macet dan Stok Pemerintah Tipis, Bapanas dan Kemendag Didesak Ambil Langkah ‘Extraordinary’
Gejolak Awal Tahun: Alih Kelola Impor Pakan Ternak Picu Kelangkaan dan Lonjakan Harga
Target Operasional 2026 Terancam: Koperasi Merah Putih Terganjal Masalah Lahan dan Pembiayaan
Di Balik Surplus 2025: Krisis Iklim dan Bencana Mengintai Lumbung Pangan RI
Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut
Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit
Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi
Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli
Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025
Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026
Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra
Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan
Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA
Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah
UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok
Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II
“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS
Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis
Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar
UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”
Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop
Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!
IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!
Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!
Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!
Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!
Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!
Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!
TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!
Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!
Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!
Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?
Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!
Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!
Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!
Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

