Jakarta, Kowantaranews.com -Kota Medan sering kali disebut oleh warganya memiliki standar rasa yang sangat tinggi, di mana kuliner lokal hanya mengenal dua kategori rasa: enak atau enak sekali. Aforisme ini bukan sekadar kebanggaan tanpa dasar, melainkan cerminan dari sejarah panjang kota ini sebagai pusat kosmopolitan sejak era kolonial. Menelusuri jalanan Medan, terutama saat momen libur Lebaran, adalah sebuah ekspedisi rasa yang mempertemukan tradisi suku-suku di Sumatera Utara dengan warisan kuliner Eropa klasik yang tetap terjaga selama hampir satu abad.
Pilar utama dari kuliner tradisional Medan dapat ditemukan di rumah makan khas Mandailing dan Tapanuli Selatan, seperti Rumah Makan Padang Sidempuan di Jalan Sei Belutu atau deretan rumah makan di Jalan Sisingamangaraja. Di sini, Ikan Mas Arsik menjadi menu yang sangat dicari. Keunikannya terletak pada penggunaan bumbu dasar kunyit dan santan, dengan taburan irisan bawang Batak (Samosir onion) yang memberikan aroma getir-asam yang menyegarkan. Selain arsik, menu Ikan Sale Gulai juga menjadi ikon. Ikan limbat atau lele rawa yang digunakan didatangkan langsung dari sungai-sungai di Tapanuli Selatan setelah melalui proses pengasapan tradisional menggunakan sabut kelapa kering selama tiga jam. Teknik ini menghasilkan daging ikan yang renyah dan manis dengan wangi asap yang khas, yang menurut tradisi Mandailing, dahulu merupakan hidangan istimewa bagi para raja.
Beranjak dari kekentalan tradisi etnik, pengunjung dapat beralih ke kawasan Kesawan untuk merasakan pengalaman “lorong waktu” di Restoran Tip Top di Jalan Jenderal Ahmad Yani. Didirikan sejak tahun 1929 oleh Jang Kie Yap dengan nama awal Toko Roti Jangkie, restoran ini adalah salah satu bukti nyata sejarah kosmopolitan Medan. Tip Top bukan hanya sekadar tempat makan, melainkan sebuah museum hidup yang masih mengoperasikan tungku kayu api tradisional dari tahun 1934 untuk memanggang roti dan kuenya. Aroma kayu mahoni yang terbakar memberikan karakteristik tekstur roti yang padat dan aroma yang tajam, sebuah rasa yang tidak bisa direplikasi oleh teknologi modern.
Menu andalan yang menjadi simbol percampuran budaya di Tip Top adalah Bistik Lidah Lembu (Ox Tongue Steak). Sajian ini menggunakan lidah sapi yang dimasak sangat lembut dan dipadukan dengan saus rempah yang mengandung pala serta cengkeh, memberikan nuansa rasa Eropa klasik yang beradaptasi dengan kekayaan rempah lokal. Keasentikan rasa tetap terjaga karena pengelolaan dapur kini telah dipegang oleh generasi ketiga koki aslinya, sementara peralatan ikonik seperti mesin es krim slagroom dari tahun 1930-an masih digunakan untuk menghasilkan es krim Moorkop yang legendaris.
Eksistensi keragaman ini berakar dari status Medan sebagai kota perkebunan yang makmur sejak akhir abad ke-19. Sejarawan Jan Breman dalam bukunya Menjinakkan Sang Kuli mencatat bahwa pada masa itu, sering kali dalam satu meja makan di Medan terdapat tujuh tamu yang mewakili bangsa yang berbeda, mulai dari Belanda, Jerman, hingga Inggris. Kondisi sosiologis inilah yang memaksa kuliner di Medan untuk beradaptasi dengan lidah para pendatang, menciptakan fusi rasa antara tradisi Melayu, Mandailing, Toba, India, Cina, dan Eropa.
Bukan Sekadar Menu Berbuka, Pasar Takjil Indonesia Jadi Katalis Sirkulasi Kapital Musiman
Bagi masyarakat urban Medan, dinamika ini juga melahirkan kuliner cepat saji lokal yang dikenal dengan nama Mi Balap. Dijual di sepanjang jalan setiap pagi, seperti Mi Balap Mail di Jalan Gunung Krakatau, sajian ini mencerminkan ritme hidup warga yang serba cepat. Juru masak akan mengolah mi goreng dengan bumbu pedas dan telur dalam jumlah besar—bahkan hingga 40 butir telur untuk 16 porsi—dengan kecepatan tinggi layaknya sedang berbalap.
Sebagai penutup hari, warga Medan biasanya berkumpul di kedai TST (Teh Susu Telur), seperti TST Pak Haji di Jalan Puri, yang menjadi simbol kebersamaan lintas kelas sosial. Minuman ini, yang dibuat dari kocokan kuning telur ayam kampung atau bebek, dipercaya sebagai penambah stamina dan menjadi teman bagi diskusi-diskusi hangat di malam hari. Dari Ikan Arsik yang sakral hingga bistik yang elegan, Medan menawarkan narasi gastronomi yang utuh tentang bagaimana sebuah kota mampu merayakan masa lalunya melalui setiap suapan hidangan yang disajikan. By Mukroni
- Berita Terkait :
Bukan Sekadar Menu Berbuka, Pasar Takjil Indonesia Jadi Katalis Sirkulasi Kapital Musiman
Bank Jakarta Syariah Targetkan KUR Rp300 Miliar, STIAMI Siapkan Beasiswa bagi Anggota KOWANTARA
Wujudkan Asta Cita, Bank Jakarta Syariah dan STIAMI Gandeng KOWANTARA Transformasi Ekosistem Warteg
Sinergi Bank Jakarta Syariah, STIAMI, dan KOWANTARA Perkuat Fondasi UMKM Lewat KUR dan Pendidikan
Kowantara Desak Pemerintah Mitigasi “Fatalitas” Lonjakan Harga Pangan Jelang Ramadan 2026
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11%, Moody’s Justru Ubah Prospek Jadi Negatif
Pemerintah Gelontorkan Stimulus Rp 12,83 Triliun untuk Jaga Daya Beli Jelang Lebaran 2026
OJK Siapkan 8 Rencana Aksi Reformasi Pasar Modal, Batas Free Float Resmi Naik Jadi 15 Persen
Benturan Oligarki vs Standar Global: Di Balik Mundurnya Petinggi OJK dan BEI
“Negara Leviathan Kembali: Saat Kritik Pangan Dibalas Gugatan Rp 200 Miliar dan Ancaman Pidana”
Impor Macet dan Stok Pemerintah Tipis, Bapanas dan Kemendag Didesak Ambil Langkah ‘Extraordinary’
Gejolak Awal Tahun: Alih Kelola Impor Pakan Ternak Picu Kelangkaan dan Lonjakan Harga
Target Operasional 2026 Terancam: Koperasi Merah Putih Terganjal Masalah Lahan dan Pembiayaan
Di Balik Surplus 2025: Krisis Iklim dan Bencana Mengintai Lumbung Pangan RI
Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut
Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit
Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi
Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli
Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025
Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026
Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra
Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan
Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA
Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah
UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok
Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II
“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS
Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis
Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar
UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”
Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop
Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!
IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!
Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!
Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!
Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!
Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!
Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!
TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!
Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!
Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!
Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?
Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!
Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!
Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!
Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

