Ratusan Ribu Pelajar di Eropa Turun ke Jalan, Protes Krisis Biaya Hidup dan Fasilitas Sekolah
Jakarta, Kowantaranews.com — Gelombang unjuk rasa berskala masif yang dimotori oleh ratusan ribu pelajar dan mahasiswa terus meluas di berbagai kota besar di Eropa. Mengusung kemarahan atas merosotnya daya beli, krisis perumahan perkotaan, serta memburuknya sarana pendidikan, generasi muda di negara-negara seperti Prancis, Portugal, Italia, Spanyol, Yunani, hingga Albania mengarahkan perlawanan terbuka terhadap para pengambil kebijakan yang dinilai mengabaikan masa depan mereka.
Di Prancis, aksi unjuk rasa teranyar yang diikuti antara 410.000 orang menurut estimasi otoritas hingga mendekati 800.000 peserta menurut perhitungan serikat demonstran kembali diwarnai ketegangan keras di sejumlah kota. Pawai raksasa di sepanjang Cours de Vincennes, Paris, berujung bentrokan saat aparat kepolisian menembakkan gas air mata dan mengerahkan meriam air guna membubarkan konsentrasi massa. Kementerian Dalam Negeri Prancis mengerahkan sekitar 70.000 personel keamanan bersenjata lengkap, dibantu pengawasan helikopter Gendarmerie. Sedikitnya 1.000 orang ditangkap dalam satu hari, dengan laporan aparat mencatat angka kumulatif penahanan mencapai lebih dari 1.300 orang.
Baca Juga : Anak Muda Berbondong-bondong ke Luar Negeri, Indonesia Krisis Harapan?
Frustrasi generasi muda di Prancis berakar pada himpitan ekonomi yang kian tak tertahankan. “Orang-orang sangat marah, mereka sudah muak. Bekerja keras sepanjang hari, tetapi tetap tidak sanggup mengisi keranjang belanjaan,” ujar Eddy (20), seorang mahasiswa yang berdemonstrasi di Bordeaux. Ia menegaskan bahwa para pemuda kehilangan kepercayaan terhadap institusi elektoral tradisional karena kotak suara tak lagi mampu menjembatani aspirasi mereka.
Pemandangan serupa mewarnai ibu kota Portugal, Lisbon. Ribuan pengunjuk rasa memprotes melonjaknya harga sewa tempat tinggal dan rancangan undang-undang yang mempermudah penggusuran sepihak serta mencabut batas atas sewa kontrak baru. Para pemuda sempat mendirikan perkampungan lebih dari 100 tenda di Rossio Square sebelum dibongkar paksa aparat bersenjata dan anjing pelacak pada Ahad dini hari. “Spekulasi perumahan, pemusatan kekayaan, dan ketimpangan yang terus meningkat membuat saya pesimistis terhadap masa depan. Kami punya kewajiban moral untuk memperjuangkan apa yang kami yakini,” tutur Vitor Gomes (21), salah seorang mahasiswa yang ikut bertahan di perkemahan tersebut. Rekannya, Luis Marques (19), menilai bahwa para politisi saat ini memberikan jawaban yang absurd dan sepenuhnya terputus dari kenyataan hidup generasi muda.
Di Italia, aksi perlawanan bermutasi menjadi pendudukan puluhan sekolah menengah (liceo) di kota-kota besar. Dimulai dari SMA Cavour di Roma, para siswa membarikade pintu masuk dengan meja belajar untuk menolak pemotongan anggaran pendidikan dan fasilitas sekolah yang rusak parah. “Kami akan terus bertahan di jalanan untuk merebut kembali masa depan dari kelas penguasa yang telah merampasnya dari kami. Tidak ada satu pun elite politik yang mewakili kami,” kecam Damiano Fusa (18), siswa SMA Cavour. Pemerintah Perdana Menteri Giorgia Meloni merespons gerakan pelajar ini dengan pendekatan keamanan ketat, termasuk mengirimkan 500 tentara tambahan ke Milan serta menerapkan aturan penahanan preventif selama 24 jam bagi anak di bawah umur yang terindikasi terlibat huru-hara.
Baca Juga : Anak Muda Terhalang Masuk Pilkada 2024: Politik Elitis dan Biaya Selangit Jadi Penghambat!
Kerusakan sarana dan prasarana fisik belajar juga memicu amarah di Yunani. Nikos Mavroudis (17), seorang siswa di distrik Exarchia, Athena, membeberkan ancaman keselamatan yang dihadapi siswa setiap hari. “Sangat tidak dapat diterima bahwa ruang kelas justru menjadi tempat yang berbahaya karena runtuhnya bongkahan plester dari langit-langit sekolah,” tegasnya. Kondisi ini kian memantik kecaman karena terjadi di tengah lonjakan anggaran pertahanan militer pasca-meletusnya perang Rusia-Ukraina pada 2022.
Baca Juga : Dari Arena Hingga Media Sosial: Panjat Tebing Menjadi Tren Baru di Kalangan Anak Muda
Data Eurostat memperlihatkan kontras yang tajam antara negara-negara di Eropa. Swedia mencatatkan belanja pendidikan tertinggi sebesar 7,3 persen dari PDB pada 2024, disusul Islandia (7,0 persen) serta Belgia, Estonia, dan Finlandia (masing-masing 6,3 persen). Sebaliknya, negara-negara Eropa Selatan tertinggal di barisan terbawah, seperti Spanyol (4,1 persen), Italia (4,0 persen), Rumania (4,0 persen), dan Yunani (3,9 persen). Pada saat bersamaan, belanja militer rata-rata Uni Eropa justru merangkak naik menjadi 1,5 persen dari PDB, dengan nilai belanja militer murni melonjak hingga €227 miliar.
Para sosiolog menilai gejolak ini merupakan letupan sosiopolitik yang tak terhindarkan. Profesor sejarah kontemporer Universitas Luiss Roma, Rosario Forlenza, mendefinisikan fenomena ini sebagai “révolte générationnelle européenne” (pemberontakan antargenerasi Eropa). Menurutnya, penyusutan demografi kaum muda di tengah masyarakat Eropa yang menua secara drastis telah melemahkan bobot elektoral mereka di mata para pengambil kebijakan. Presiden Asosiasi Sosiologi Internasional (ISA), Geoffrey Pleyers, turut menggarisbawahi bahwa para pemuda saat ini tidak hanya merasa tersisih dari panggung kekuasaan, melainkan meyakini bahwa suara mereka sama sekali tidak didengar oleh sistem perwakilan yang ada.

