Jakarta, Kowantaranews.com -Industri perbankan Indonesia tengah menghadapi tantangan intermediasi yang cukup kontradiktif pada awal tahun 2026. Di satu sisi, likuiditas tersedia sangat melimpah, namun di sisi lain, minat dunia usaha untuk menyerap dana tersebut justru menunjukkan kelesuan yang mendalam. Fenomena ini tecermin dari melonjaknya angka fasilitas pinjaman yang belum digunakan oleh nasabah atau undisbursed loan yang kini menembus angka Rp 2.506,47 triliun per Januari 2026.
Data terbaru dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa jumlah kredit menganggur tersebut setara dengan 22,65% dari total plafon kredit yang disediakan oleh perbankan nasional. Angka ini mencatatkan kenaikan signifikan dibandingkan posisi Desember 2025 yang berada di level Rp 2.439,2 triliun. Kondisi ini menjadi sinyal peringatan bahwa kucuran likuiditas dari otoritas moneter belum mampu menggerakkan roda ekspansi di sektor riil secara maksimal.
Paradoks Likuiditas: Penawaran Kuat, Permintaan Lemah
Penyebab utama dari menumpuknya kredit nganggur ini bukan berasal dari ketidakmampuan bank dalam menyediakan dana. Sebaliknya, sisi penawaran (supply) perbankan berada dalam kondisi yang sangat kokoh. Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) perbankan mencapai 27,54% pada Januari 2026, jauh di atas ambang batas regulasi. Selain itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh subur sebesar 13,48% secara tahunan (yoy).
Masalah fundamental justru terletak pada sisi permintaan (demand). Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Hery Gunardi, menjelaskan bahwa kenaikan undisbursed loan mencerminkan sikap “wait and see” yang meluas di kalangan pelaku usaha dan rumah tangga. Dunia usaha cenderung menahan diri untuk melakukan ekspansi kapasitas meskipun mereka telah mengantongi persetujuan kredit dari bank.
Rendahnya kepercayaan diri ini terlihat dari penurunan drastis pada permintaan kredit baru. Survei Bank Indonesia mencatat permintaan kredit baru di segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) anjlok dari 78,4% menjadi hanya 58,8%. Kondisi yang lebih parah terjadi pada segmen kredit konsumsi, di mana minat pengajuan kredit baru merosot tajam dari 62,9% menjadi 13,4%.
Sektor Padat Karya Terjepit Daya Beli
Struktur kredit perbankan Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada tiga sektor utama penyumbang PDB yang bersifat padat karya, yakni manufaktur, perdagangan, dan pertanian. Ketiga sektor ini memiliki sensitivitas yang sangat tinggi terhadap fluktuasi daya beli masyarakat. Ketika konsumsi domestik melambat, para pelaku usaha di sektor-sektor ini akan langsung menghentikan rencana penarikan pinjaman mereka guna menghindari penumpukan beban bunga di tengah omzet yang tidak pasti.
Selain faktor daya beli, kebijakan eksternal seperti pengetatan aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) turut memberikan tekanan pada likuiditas korporasi. Kewajiban penahanan 50% DHE selama satu tahun memaksa banyak eksportir besar mencari pembiayaan tambahan hanya untuk menutupi kebutuhan operasional harian, bukan untuk ekspansi produktif. Hal ini menciptakan struktur biaya baru bagi perusahaan yang pada akhirnya semakin menurunkan minat untuk mengambil utang jangka panjang.
Tantangan Transmisi dan Efisiensi
Hambatan lain yang membuat kredit sulit tumbuh adalah lambatnya transmisi penurunan suku bunga acuan ke suku bunga kredit. Walaupun BI telah memangkas suku bunga sebesar 125 basis poin sepanjang tahun 2025, rata-rata suku bunga kredit hanya turun sekitar 40 basis poin menjadi 8,80% pada Januari 2026.
Tingginya margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) perbankan yang berada di kisaran 4,57% juga mendapat sorotan tajam. Suku bunga pinjaman yang dianggap masih mahal bagi pelaku usaha menjadi salah satu alasan mengapa fasilitas kredit yang sudah tersedia lebih banyak didiamkan saja. Kondisi risiko kredit (NPL) yang masih tinggi di segmen UMKM, yakni sebesar 4,33% per Desember 2025, juga membuat bank cenderung berhati-hati dan lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan baru.
Upaya Memecah Kebuntuan
Untuk mengatasi kelesuan ini, pemerintah merencanakan stimulus melalui percepatan belanja negara yang ditargetkan mencapai Rp 809 triliun pada kuartal pertama tahun 2026. Langkah ini diharapkan dapat menyuntikkan daya beli ke masyarakat sehingga permintaan terhadap produk industri meningkat, yang pada gilirannya akan mendorong pengusaha untuk mulai menarik kredit mereka.
Realisasi DMO Minyakita Lewat BUMN Masih Seret, Target 35 Persen Belum Tercapai
Bank Indonesia juga tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% pada Februari 2026 guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sambil terus memberikan insentif likuiditas bagi bank yang menyalurkan pembiayaan ke sektor prioritas. Namun, para ahli mengingatkan bahwa kucuran likuiditas tambahan tidak akan efektif jika tidak disertai dengan perbaikan fundamental pada keyakinan pelaku usaha dan kepastian iklim investasi di lapangan. Tanpa penguatan permintaan, tumpukan Rp 2.506 triliun kredit nganggur tersebut hanya akan menjadi angka mati dalam laporan keuangan perbankan. By Mukroni
- Berita Terkait :
Realisasi DMO Minyakita Lewat BUMN Masih Seret, Target 35 Persen Belum Tercapai
Bank Jakarta Syariah Targetkan KUR Rp300 Miliar, STIAMI Siapkan Beasiswa bagi Anggota KOWANTARA
Wujudkan Asta Cita, Bank Jakarta Syariah dan STIAMI Gandeng KOWANTARA Transformasi Ekosistem Warteg
Sinergi Bank Jakarta Syariah, STIAMI, dan KOWANTARA Perkuat Fondasi UMKM Lewat KUR dan Pendidikan
Kowantara Desak Pemerintah Mitigasi “Fatalitas” Lonjakan Harga Pangan Jelang Ramadan 2026
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11%, Moody’s Justru Ubah Prospek Jadi Negatif
Pemerintah Gelontorkan Stimulus Rp 12,83 Triliun untuk Jaga Daya Beli Jelang Lebaran 2026
OJK Siapkan 8 Rencana Aksi Reformasi Pasar Modal, Batas Free Float Resmi Naik Jadi 15 Persen
Benturan Oligarki vs Standar Global: Di Balik Mundurnya Petinggi OJK dan BEI
“Negara Leviathan Kembali: Saat Kritik Pangan Dibalas Gugatan Rp 200 Miliar dan Ancaman Pidana”
Impor Macet dan Stok Pemerintah Tipis, Bapanas dan Kemendag Didesak Ambil Langkah ‘Extraordinary’
Gejolak Awal Tahun: Alih Kelola Impor Pakan Ternak Picu Kelangkaan dan Lonjakan Harga
Target Operasional 2026 Terancam: Koperasi Merah Putih Terganjal Masalah Lahan dan Pembiayaan
Di Balik Surplus 2025: Krisis Iklim dan Bencana Mengintai Lumbung Pangan RI
Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut
Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit
Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi
Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli
Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025
Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026
Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra
Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan
Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA
Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah
UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok
Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II
“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS
Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis
Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar
UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”
Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop
Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!
IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!
Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!
Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!
Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!
Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!
Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!
TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!
Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!
Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!
Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?
Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!
Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!
Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!
Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

