Jakarta, Kowantaranews.com – Sebuah langkah strategis untuk memperkuat struktur ekonomi akar rumput baru saja diresmikan di jantung ibu kota. Bertempat di Gedung Prasada Sasana Karya, Kantor Pusat Bank Jakarta, telah berlangsung penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Bank Jakarta Syariah, Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI, dan Komunitas Warung Nusantara (Kowantara). Sinergi tripartit ini mengusung misi besar untuk mendorong transformasi warung tegal (warteg) agar bisa “naik kelas” melalui integrasi akses permodalan syariah, literasi keuangan, dan pendidikan tinggi.
Pendidikan sebagai Eskalator Ekonomi: Inovasi “Kampus Rakyat”
Rektor Institut STIAMI, Prof. Dr. Hj. Sylviana Murni, S.H., M.Si., menegaskan bahwa kampus tidak boleh menjadi menara gading yang jauh dari realitas sosial. Melalui kolaborasi ini, STIAMI memperkenalkan gagasan inovatif berupa “Kampus Rakyat”. Program ini dirancang untuk mendekatkan akses ilmu pengetahuan langsung ke pusat-pusat kegiatan ekonomi rakyat, seperti pasar tradisional dan sentra UMKM.
“Kita naikkan tingkatnya, bukan hanya sekolah rakyat, tapi kampus rakyat. Kami ingin mendampingi pelaku warteg agar memiliki tata kelola usaha yang profesional dan berkelanjutan,” ujar Sylviana Murni . Sebagai bentuk dukungan nyata, Institut STIAMI juga memberikan kemudahan berupa potongan biaya pendidikan bagi para pengusaha warteg anggota Kowantara serta keluarganya yang ingin melanjutkan kuliah. Dengan dukungan 417 staf akademik dan jaringan delapan lokasi kampus di wilayah Jabodetabek, STIAMI berkomitmen menjadikan pendidikan sebagai eskalator bagi mobilitas sosial para pelaku usaha mikro .
Modernisasi Warteg: Dari “Seduluran” Menuju Manajemen Profesional
Ketua Kowantara, Ir. Mukroni, menjelaskan bahwa sektor warteg kini berada di titik persimpangan antara tradisi dan modernisasi. Secara historis, warteg dikelola dengan asas seduluran atau kekerabatan keluarga. Namun, tantangan zaman menuntut adanya efisiensi manajemen dan adaptasi teknologi. Mukroni mengakui bahwa saat ini tingkat adopsi digital di kalangan anggotanya masih sangat minim, yakni di bawah lima persen.
Melalui program “Warteg Berseri” (Bersih, Sehat, dan Mandiri), Kowantara berusaha mengubah citra warteg dari usaha tradisional yang kumuh menjadi entitas bisnis yang higienis dan modern. Sinergi dengan STIAMI diharapkan mampu memberikan pelatihan teknis terkait pemasaran digital dan manajemen inventaris. Selain itu, aspek kemandirian ditekankan melalui pengelolaan distribution center yang menghubungkan pemilik warung langsung dengan produsen bahan pangan untuk memotong rantai distribusi yang panjang.
Akses Modal Syariah yang Inklusif dan Berkeadilan
Dari sisi pembiayaan, Bank Jakarta Syariah hadir memberikan solusi permodalan yang sesuai dengan prinsip keadilan. Perwakilan Bank Jakarta Syariah, Dedy Akhmadi, mengumumkan target penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Syariah sebesar Rp300 miliar untuk tahun 2026 guna memperkuat akses pembiayaan UMKM.
Program KUR Syariah ini menawarkan plafon hingga Rp500 juta dengan jangka waktu maksimal 60 bulan. Keunggulan utamanya terletak pada margin yang sangat kompetitif, yakni setara 3% hingga 6% efektif per tahun, tanpa biaya administrasi tambahan. Bagi pelaku usaha kecil di pasar, tersedia pula program “Jak Ema” dengan plafon hingga Rp25 juta tanpa agunan. Dedy menekankan filosofi “cemu-muah” (cepat, mudah, murah, aman, dan handal) untuk memastikan penyaluran modal tepat sasaran dan membantu UMKM terlepas dari jeratan pinjaman informal yang memberatkan.
Sinergi Bank Jakarta Syariah, STIAMI, dan KOWANTARA Perkuat Fondasi UMKM Lewat KUR dan Pendidikan
Sinkronisasi dengan Visi Strategis Asta Cita
Kolaborasi lintas sektor ini merupakan implementasi nyata dari visi “Asta Cita” yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Khususnya pada misi ketiga yang berfokus pada penciptaan lapangan kerja dan pengembangan kewirausahaan, serta misi keenam mengenai pembangunan ekonomi dari desa dan pasar rakyat untuk pemerataan kesejahteraan .
Hilirisasi ekonomi yang digalakkan pemerintah kini diharapkan benar-benar dirasakan oleh rakyat kecil, di mana UMKM lokal diberikan dukungan pembiayaan dan pembinaan untuk terlibat dalam rantai nilai industri nasional. Dengan fondasi yang diperkuat melalui KUR Syariah dan pendidikan dari program “Kampus Rakyat”, ekosistem warteg di Jabodetabek diharapkan mampu menjadi mesin penggerak ekonomi yang mandiri dan berdaya saing tinggi menuju Indonesia Emas 2045. By Mukroni
- Berita Terkait :
Sinergi Bank Jakarta Syariah, STIAMI, dan KOWANTARA Perkuat Fondasi UMKM Lewat KUR dan Pendidikan
Kowantara Desak Pemerintah Mitigasi “Fatalitas” Lonjakan Harga Pangan Jelang Ramadan 2026
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11%, Moody’s Justru Ubah Prospek Jadi Negatif
Pemerintah Gelontorkan Stimulus Rp 12,83 Triliun untuk Jaga Daya Beli Jelang Lebaran 2026
OJK Siapkan 8 Rencana Aksi Reformasi Pasar Modal, Batas Free Float Resmi Naik Jadi 15 Persen
Benturan Oligarki vs Standar Global: Di Balik Mundurnya Petinggi OJK dan BEI
“Negara Leviathan Kembali: Saat Kritik Pangan Dibalas Gugatan Rp 200 Miliar dan Ancaman Pidana”
Impor Macet dan Stok Pemerintah Tipis, Bapanas dan Kemendag Didesak Ambil Langkah ‘Extraordinary’
Gejolak Awal Tahun: Alih Kelola Impor Pakan Ternak Picu Kelangkaan dan Lonjakan Harga
Target Operasional 2026 Terancam: Koperasi Merah Putih Terganjal Masalah Lahan dan Pembiayaan
Di Balik Surplus 2025: Krisis Iklim dan Bencana Mengintai Lumbung Pangan RI
Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut
Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit
Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi
Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli
Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025
Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026
Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra
Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan
Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA
Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah
UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok
Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II
“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS
Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis
Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar
UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”
Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop
Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!
IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!
Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!
Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!
Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!
Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!
Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!
TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!
Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!
Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!
Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?
Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!
Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!
Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!
Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

