Jakarta, Kowantaranews.com – Fenomena pasar takjil di Indonesia pada Ramadhan 1447 Hijriah (2026) telah bergeser jauh dari sekadar pusat jajanan tradisional menjadi mesin penggerak ekonomi regional yang masif. Di balik deretan gerobak kolak dan gorengan, terdapat sirkulasi kapital yang mencapai angka ratusan juta hingga miliaran rupiah setiap harinya, menjadikannya katalisator vital bagi ketahanan ekonomi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Data lapangan di Kota Malang menunjukkan betapa besarnya perputaran uang di titik-titik pasar takjil strategis. Di kawasan Jalan Surabaya yang menjadi primadona mahasiswa, tercatat sekitar 261 pedagang yang beroperasi setiap sore. Dengan estimasi omzet rata-rata Rp 500.000 hingga Rp 1.000.000 per individu, uang yang mengalir di satu titik ini saja diperkirakan mencapai Rp 130 juta hingga Rp 261 juta per hari. Angka yang lebih fantastis ditemukan di sentra Taman Krida Budaya Jawa Timur (TKBJ), di mana omzet harian para pelaku usaha bisa menyentuh angka Rp 3.000.000 per lapak, menghasilkan total sirkulasi kapital sebesar Rp 75 juta hingga Rp 300 juta dalam satu hari.

Di mana Ttotal adalah total perputaran uang, Nj jumlah pedagang di lokasi, dan Oj adalah rata-rata omzet harian. Pertumbuhan ini dianggap sebagai instrumen redistribusi pendapatan yang sangat efektif, karena mengalihkan pengeluaran konsumsi masyarakat dari sektor formal ke sektor informal kerakyatan.
Pemerintah Kota Malang merespons fenomena ini dengan pendekatan regulasi melalui Surat Edaran (SE) Wali Kota Nomor 5 Tahun 2026. Kebijakan ini menekankan pada penataan ruang publik agar aktivitas ekonomi tidak melumpuhkan mobilitas kota. Strategi “lokalisasi” atau pemindahan pedagang dari bahu jalan ke dalam halaman TKBJ terbukti efektif menciptakan ekosistem bisnis yang lebih rapi. Di lokasi ini, pedagang membayar biaya operasional sekitar Rp 2.000.000 untuk fasilitas tenda dan listrik selama Ramadhan—sebuah investasi musiman yang sangat diminati dengan jumlah pendaftar melebihi kuota 150 lapak yang tersedia.
Keunikan pasar takjil di Indonesia juga terletak pada inklusivitasnya yang memicu tren “War Takjil.” Fenomena ini melibatkan partisipasi aktif komunitas non-Muslim dalam memburu kuliner takjil, yang secara tidak langsung memperkuat solidaritas sosial sekaligus mendongkrak omzet pedagang karena lonjakan permintaan yang tak terduga. Hal ini membedakan Indonesia dengan negara lain seperti Malaysia, di mana “Bazaar Ramadan” lebih bersifat festival kuliner terencana dengan tingkat kunjungan dua kali lipat lebih tinggi, atau Jepang yang mengandalkan toko kelontong modern (konbini) karena ketiadaan pasar pinggir jalan.
Bank Jakarta Syariah Targetkan KUR Rp300 Miliar, STIAMI Siapkan Beasiswa bagi Anggota KOWANTARA
Selain itu, digitalisasi menjadi faktor kunci dalam percepatan sirkulasi kapital tahun 2026. Dengan 77% konsumen di Indonesia lebih menyukai pembayaran berbasis e-wallet, infrastruktur pembayaran digital seperti QRIS telah menjadi standar di lapak-lapak takjil. Transformasi ini tidak hanya memudahkan transaksi, tetapi juga memungkinkan pendataan modal yang lebih akurat bagi perencanaan ekonomi daerah di masa depan.
Secara keseluruhan, pasar takjil 2026 telah membuktikan posisinya sebagai pilar ekonomi musiman yang tangguh. Meski bersifat periodik selama 30 hari, efek pengganda (multiplier effect) yang dihasilkan dari sirkulasi uang harian memberikan napas baru bagi ribuan UMKM. Dengan sinergi antara regulasi pemerintah dalam menata ruang publik dan adaptasi teknologi oleh para pedagang, pasar takjil bukan lagi sekadar tempat mencari hidangan berbuka, melainkan aset sosio-ekonomi nasional yang unik dan kompetitif di kancah global. By Mukroni
- Berita Terkait :
Bank Jakarta Syariah Targetkan KUR Rp300 Miliar, STIAMI Siapkan Beasiswa bagi Anggota KOWANTARA
Wujudkan Asta Cita, Bank Jakarta Syariah dan STIAMI Gandeng KOWANTARA Transformasi Ekosistem Warteg
Sinergi Bank Jakarta Syariah, STIAMI, dan KOWANTARA Perkuat Fondasi UMKM Lewat KUR dan Pendidikan
Kowantara Desak Pemerintah Mitigasi “Fatalitas” Lonjakan Harga Pangan Jelang Ramadan 2026
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11%, Moody’s Justru Ubah Prospek Jadi Negatif
Pemerintah Gelontorkan Stimulus Rp 12,83 Triliun untuk Jaga Daya Beli Jelang Lebaran 2026
OJK Siapkan 8 Rencana Aksi Reformasi Pasar Modal, Batas Free Float Resmi Naik Jadi 15 Persen
Benturan Oligarki vs Standar Global: Di Balik Mundurnya Petinggi OJK dan BEI
“Negara Leviathan Kembali: Saat Kritik Pangan Dibalas Gugatan Rp 200 Miliar dan Ancaman Pidana”
Impor Macet dan Stok Pemerintah Tipis, Bapanas dan Kemendag Didesak Ambil Langkah ‘Extraordinary’
Gejolak Awal Tahun: Alih Kelola Impor Pakan Ternak Picu Kelangkaan dan Lonjakan Harga
Target Operasional 2026 Terancam: Koperasi Merah Putih Terganjal Masalah Lahan dan Pembiayaan
Di Balik Surplus 2025: Krisis Iklim dan Bencana Mengintai Lumbung Pangan RI
Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut
Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit
Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi
Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli
Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025
Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026
Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra
Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan
Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA
Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah
UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok
Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II
“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS
Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis
Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar
UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”
Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop
Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!
IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!
Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!
Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!
Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!
Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!
Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!
TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!
Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!
Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!
Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?
Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!
Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!
Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!
Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

