Jakarta, Kowantaranews.com -PT Pertamina (Persero) resmi melakukan penyesuaian harga yang signifikan terhadap sejumlah jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi oktan tinggi mulai Sabtu, 18 April 2026 . Langkah strategis ini diambil sebagai respons langsung terhadap eskalasi konflik militer di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, yang berujung pada penutupan jalur maritim paling krusial di dunia, Selat Hormuz . Sebagai wilayah yang mengandalkan impor minyak mentah sekitar 1 juta barel per hari untuk menutupi konsumsi nasional sebesar 1,6 juta barel per hari, Indonesia kini berada di pusaran tekanan energi global yang sangat hebat .
Konflik yang pecah sejak akhir Februari 2026 tersebut telah melumpuhkan distribusi sekitar 20 juta barel minyak per hari atau setara dengan 20 persen konsumsi minyak global yang biasanya melewati Selat Hormuz . Ketidakpastian pasokan ini mendorong harga minyak mentah Brent sempat melonjak tajam hingga menembus level 126 dolar AS per barel pada puncaknya . Guncangan ini secara otomatis mengerek harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada periode Maret 2026 ke level 102,26 dolar AS per barel, melonjak drastis sebesar 33,47 dolar AS dibandingkan posisi Februari yang masih berada di angka 68,79 dolar AS per barel .
Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM No. 245. K/MG.01/MEM.M/2022, Pertamina melakukan penyesuaian harga pada lini produk nonsubsidi kelas atas . Untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, harga Pertamax Turbo (RON 98) melonjak dari Rp 13.100 menjadi Rp 19.400 per liter . Kenaikan lebih tajam terjadi pada sektor diesel berkualitas tinggi, di mana Dexlite melompat dari Rp 14.200 menjadi Rp 23.600 per liter, dan Pertamina Dex kini dibanderol Rp 23.900 per liter dari harga sebelumnya yang hanya Rp 14.500 . Meskipun demikian, pemerintah tetap mengambil kebijakan populis dengan menahan harga BBM RON 92 atau Pertamax pada level Rp 12.300 per liter untuk menjaga daya beli kelas menengah .
Kebijakan menahan harga sebagian besar produk BBM di tengah tingginya ICP menciptakan beban fiskal yang luar biasa berat bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Analisis sensitivitas anggaran menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1 dolar AS pada harga minyak mentah akan menambah belanja negara sekitar Rp 10,3 triliun untuk subsidi dan kompensasi energi, sementara penerimaan negara hanya bertambah sekitar Rp 3,6 triliun . Hal ini menyebabkan defisit bersih sebesar Rp 6,7 triliun untuk setiap dolar kenaikan ICP . Para ahli memperingatkan bahwa jika harga ICP terus bertahan di atas 100 dolar AS, total beban subsidi energi tahun 2026 bisa membengkak hingga Rp 210 triliun, yang berisiko mendorong defisit APBN melampaui batas hukum 3 persen dari PDB .
Hadapi Tekanan Ganda Geopolitik dan Biaya, Sektor Usaha Kencangkan Ikat Pinggang
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan kepastian bahwa meskipun harga oktan tinggi melonjak, harga BBM bersubsidi seperti Pertalite tetap di angka Rp 10.000 per liter dan Biosolar Rp 6.800 per liter sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto . Untuk memperkuat ketahanan energi, pemerintah melakukan diversifikasi pasokan dengan mendatangkan minyak mentah dari Rusia yang dijadwalkan tiba pada bulan April 2026 . Selain itu, percepatan implementasi mandatori Biodiesel 50 persen (B50) yang akan berlaku mulai 1 Juli 2026 diproyeksikan dapat menghemat devisa negara hingga Rp 48 triliun per tahun dengan mengurangi ketergantungan pada solar impor .
Harapan akan normalisasi harga muncul setelah Iran mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh pada Jumat, 17 April 2026, menyusul gencatan senjata dengan Lebanon. Berita ini langsung meredakan kepanikan pasar global, di mana harga minyak mentah Brent anjlok sekitar 9 persen ke posisi 90,38 dolar AS per barel. Meskipun harga global mulai mendingin, penyesuaian harga BBM oktan tinggi di Indonesia per 18 April 2026 tetap diberlakukan sebagai bagian dari mekanisme penyesuaian pasar yang telah direncanakan sebelumnya guna menyeimbangkan neraca operasional penyedia energi nasional. By Mukroni
- Berita Terkait :
Hadapi Tekanan Ganda Geopolitik dan Biaya, Sektor Usaha Kencangkan Ikat Pinggang
Navigasi Ekonomi 2026: Indonesia Hadapi Dampak Perang Timur Tengah dan Penutupan Selat Hormuz
Mengungkap “Pasal Siluman” dalam PP 26/2021 yang Menghambat Kemandirian Gula Nasional
Konflik Selat Hormuz Guncang Harga Pupuk Dunia, Mentan Pastikan Pasokan Domestik Tetap Stabil
Polikrisis 2026: Saat Konflik Timur Tengah dan Iklim Ekstrem Bertemu di Meja Makan Kita
Navigasi Ekonomi Indonesia 2026: Ambisi Pertumbuhan di Tengah Badai Geopolitik
BPS: Inflasi Maret 2026 Capai 3,48 Persen, Dipicu Lonjakan Harga Pangan dan Transportasi
Daya Beli Melemah, Ekonomi Kuartal II-2026 Diprediksi Melambat Akibat Inflasi Pangan
Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Lebaran 2025 Turun Menjadi 154,6 Juta Orang
Gejolak Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Bahan Baku Plastik, Industri Mamin Nasional Tertekan
Strategi Industri Ritel 2026: Mengoptimalkan Momentum Ramadan untuk Ketahanan Ekonomi Nasional
Survei LPEM UI: Mayoritas Ekonom Nilai Kondisi Ekonomi Indonesia Memburuk di Triwulan I-2026
Pangan Mahal dan Mudik Kolosal: Tantangan Nasional Menjelang Idul Fitri 1447 H
Pangan dalam Cengkeraman Perang dan Cuaca Ekstrem 2026
Tergerusnya Produksi Beras Nasional di Kuartal I-2026 Akibat Cuaca Ekstrem
Dompet Kelas Menengah Tergerus ”Sesuap Nasi”: Antara Strategi “Mantab” dan Risiko Turun Kelas
Beban Ganda Petani Padang: Sawah Terkubur Galodo, Jaring Pengaman Asuransi Justru Hilang
Layar Lebar “Jejak Warteg”: Mengurai Memori Kolektif dan Resiliensi Perantau di Rimba Beton Jakarta
Menelusuri Jejak Warteg: Dari Strategi Logistik Sultan Agung hingga Jaringan Pangan Urban Jakarta
Evolusi Kuliner Pantura: Akulturasi Budaya Tionghoa-Jawa dalam Logistik Perang Abad ke-17
Mitos atau Fakta? Menjawab Hubungan Bupati Kyai Rangga dan Sejarah Berdirinya Warung Tegal
Jejak Logistik Mataram 1628: Mengungkap Peran Kyai Rangga dalam Genealogi Warung Tegal
Menelusuri Sidakaton dan Sidapurna: Desa Para ‘Jenderal’ Warteg dan Jejak Pelarian Pasukan 1628
Warisan Kyai Rangga: Bagaimana Kegagalan Pengepungan Batavia Menciptakan Pahlawan Kuliner Rakyat
Operasi Senyap Sultan Agung: Menelusuri Jejak Logistik Perang di Balik Misi Damai Bupati Tegal
Stasiun Jakarta Kota dan Bogor: Saksi Bisu Era Kolonial Hindia Belanda
Mobilisasi Penduduk Tegal ke Jakarta: Jejak Sejarah di Masa Sultan Agung Menyerang VOC 1628 M
Lokasi Taman Eden dalam Tradisi Yahudi: Antara Geografi, Alegori, dan Mistisisme
Hutan Orang Rimba Jadi Kebun Sawit: Berondolan Dicuri, Pemerintah Sibuk Selfie ?
Buruh Bersuara, Monas Jadi Panggung Prabowo, Warteg Tetep Jadi Pelarian!
Mengerikan! Sindikat Internasional Ekspor Kulit Mangrove Ilegal, Laut Maluku Menjerit!
BENCANA MEGA-DEFORESTASI: PUNCAK BOGOR JADI KUBURAN HUTAN, JAKARTA LUMPUH OLEH AIR MATA ALAM!
Dilema Besar! Pembangunan IKN atau Kesejahteraan Rakyat?
Retakan Tanah Mengintai: Perlombaan Melawan Waktu di Tengah Ancaman Longsor Pekalongan
Di Balik Obsesi Swasembada Pangan: Lingkungan dan Masyarakat yang Terlupakan
Makan Bergizi Gratis Ngebut! 82,9 Juta Pelajar Siap Disantuni di 2025!
Kemiskinan Menyusut, Tapi Jurang Kesenjangan Kian Menganga!
Jeritan Nelayan: Terjebak di Balik Tembok Laut, Rezeki Kian Terkikis
Menimbang Makna di Balik Perayaan Tahun Baru
Insiden di Mahkamah Internasional: Pengacara Israel Disebut ‘Pembohong’ oleh Pengamat Selama Sidang
Raja Saudi Salman Dirawat karena Radang Paru-paru di Istana Al Salam
Helikopter dalam Konvoi yang Membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi Jatuh di Azerbaijan Timur
JPMorgan Chase Tarik Investasi dari Elbit Systems di Tengah Tekanan Kampanye Boikot
76 Tahun Nakba: Peringatan Sejarah dan Bencana yang Berkepanjangan di Gaza
Hakim Kanada Tolak Pembubaran Demo Pro-Palestina di Universitas McGill
Blokade Bantuan ke Gaza: Protes, Krisis Kelaparan, dan Konsekuensi Global
Netanyahu Tegaskan Israel Bukan “Negara Bawahan” AS di Tengah Ketegangan dengan Biden
Mayor Angkatan Darat AS Mengundurkan Diri untuk Memprotes Dukungan Amerika terhadap Israel di Gaza

