• Ming. Mar 1st, 2026

KowantaraNews

Jejak Warteg Warisan Lumbung Mataram, Semangat Sultan Agung dan Diplomasi Kyai Rangga

Timur Tengah Membara: AS-Israel Luncurkan “Operation Epic Fury” ke Jantung Iran

ByAdmin

Mar 1, 2026
Foto: Kebakaran dan asap membumbung setelah serangan Israel di Beirut, Lebanon, Kamis (3/10/2024). (REUTERS/Amr Abdallah Dalsh)
Sharing is caring

Jakarta,Kowantaranews.com — Kawasan Timur Tengah kembali berada di ambang perang total setelah Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi militer terkoordinasi berskala besar ke wilayah kedaulatan Republik Islam Iran pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026. Serangan yang dinamakan “Operation Epic Fury” oleh Pentagon dan “Operation Roaring Lion” oleh Tel Aviv ini menandai eskalasi paling berbahaya sejak konflik Juni 2025, yang seketika menghentikan upaya diplomasi yang sedang berjalan di Swiss.

Ledakan hebat dilaporkan mengguncang ibu kota Teheran, dengan laporan awal menyatakan bahwa salah satu target utama berada di dekat kantor Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei di distrik Keshvardoost dan Pasteur. Selain Teheran, gelombang serangan udara dan rudal juga menghantam fasilitas militer strategis di Isfahan, Qom, Karaj, Kermanshah, Tabriz, dan Lorestan. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi bahwa serangan ini adalah “serangan pendahuluan” yang bertujuan untuk melenyapkan ancaman eksistensial terhadap Israel.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang memantau operasi tersebut dari Mar-a-Lago, menyatakan dalam sebuah video di platform Truth Social bahwa militer AS telah memulai “operasi tempur besar” untuk menghancurkan industri rudal, pangkalan angkatan laut, dan kemampuan nuklir Iran. Trump secara eksplisit mendesak warga Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka sendiri, dengan menyatakan bahwa “saat kebebasan Anda telah tiba”. Gedung Putih menegaskan bahwa serangan ini merupakan respons atas penolakan Iran untuk menghentikan program nuklir dan pengembangan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang diklaim Trump dapat menjangkau daratan Amerika dalam waktu dekat.

Iran segera memberikan balasan melalui Garda Revolusi (IRGC) dalam operasi yang diberi nama “True Promise 4”. Hanya beberapa jam setelah agresi dimulai, rentetan rudal dan drone Iran menyasar sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk, termasuk Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar, Al-Salem di Kuwait, Al-Dhafra di Uni Emirat Arab (UEA), dan Markas Armada Kelima di Bahrain. Di Abu Dhabi, otoritas setempat melaporkan satu orang tewas akibat serpihan rudal yang berhasil dicegat, sementara ledakan juga dilaporkan terdengar hingga ibu kota Arab Saudi, Riyadh.

Konfrontasi ini pecah hanya berselang dua hari setelah delegasi AS dan Iran menyelesaikan putaran ketiga perundingan tidak langsung di Jenewa, Swiss. Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, yang bertindak sebagai mediator, sebelumnya menyatakan optimisme bahwa kesepakatan damai “berada dalam jangkauan” setelah Iran setuju untuk tidak menyimpan material nuklir tingkat senjata. Namun, kekecewaan Presiden Trump terhadap hasil perundingan dan tuntutan keras Washington agar Iran membongkar situs Fordow dan Natanz tampaknya menjadi pemicu diaktifkannya opsi militer. Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, bahkan menyebut perundingan tersebut hanyalah “pengecoh” yang digunakan AS untuk menutupi persiapan perang.

Menimbang Untung-Rugi Perjanjian ART: Antara “Jerat” Impor dan Karpet Merah Ekspor RI

Di balik justifikasi militer ini, muncul perdebatan sengit mengenai ancaman ICBM Iran. Pakar senjata nuklir David Albright menilai klaim Trump mengenai kemampuan rudal Iran yang dapat segera menjangkau AS adalah berlebihan. Menurut penilaian intelijen AS, Iran masih membutuhkan waktu setidaknya delapan hingga sepuluh tahun untuk mengembangkan kendaraan re-entry yang mampu membawa hulu ledak menembus atmosfer.

Dampak dari “Operation Epic Fury” langsung melumpuhkan sistem transportasi udara global. Iran, Irak, Yordania, Israel, Qatar, dan UEA segera menutup wilayah udara mereka untuk penerbangan sipil. Bandara Internasional Dubai melaporkan pembatalan lebih dari 700 penerbangan, sementara harga minyak dunia melonjak 3% akibat kekhawatiran akan gangguan pasokan melalui Selat Hormuz. Dunia kini menanti dengan cemas sejauh mana eskalasi ini akan berlangsung, di tengah peringatan Iran bahwa tidak ada lagi “garis merah” dalam membalas agresi tersebut. By Mukroni

  • Berita Terkait :

Menimbang Untung-Rugi Perjanjian ART: Antara “Jerat” Impor dan Karpet Merah Ekspor RI

Harga Cabai Rawit di Nduga Papua Tembus Rp 200.000 per Kg, Tertinggi di Indonesia

Bukan Sekadar Menu Berbuka, Pasar Takjil Indonesia Jadi Katalis Sirkulasi Kapital Musiman

Bank Jakarta Syariah Targetkan KUR Rp300 Miliar, STIAMI Siapkan Beasiswa bagi Anggota KOWANTARA

Wujudkan Asta Cita, Bank Jakarta Syariah dan STIAMI Gandeng KOWANTARA Transformasi Ekosistem Warteg

Warteg Naik Kelas: Kolaborasi Tripartit Hadirkan Akses Pembiayaan Syariah dan Program “Kampus Rakyat” 

Sinergi Bank Jakarta Syariah, STIAMI, dan KOWANTARA Perkuat Fondasi UMKM Lewat KUR dan Pendidikan 

Kowantara Desak Pemerintah Mitigasi “Fatalitas” Lonjakan Harga Pangan Jelang Ramadan 2026

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11%, Moody’s Justru Ubah Prospek Jadi Negatif

Paradoks Ekonomi Jakarta 2026: Di Balik Deflasi Januari, Beban Listrik dan Energi Justru Melonjak 9,71 Persen

Pemerintah Gelontorkan Stimulus Rp 12,83 Triliun untuk Jaga Daya Beli Jelang Lebaran 2026

OJK Siapkan 8 Rencana Aksi Reformasi Pasar Modal, Batas Free Float Resmi Naik Jadi 15 Persen

Benturan Oligarki vs Standar Global: Di Balik Mundurnya Petinggi OJK dan BEI

“Negara Leviathan Kembali: Saat Kritik Pangan Dibalas Gugatan Rp 200 Miliar dan Ancaman Pidana”

Impor Macet dan Stok Pemerintah Tipis, Bapanas dan Kemendag Didesak Ambil Langkah ‘Extraordinary’

Gejolak Awal Tahun: Alih Kelola Impor Pakan Ternak Picu Kelangkaan dan Lonjakan Harga

Target Operasional 2026 Terancam: Koperasi Merah Putih Terganjal Masalah Lahan dan Pembiayaan

Di Balik Surplus 2025: Krisis Iklim dan Bencana Mengintai Lumbung Pangan RI

Indonesia Raih Swasembada Beras 2025: Analisis Capaian, Surplus, dan Peta Jalan Ketahanan Pangan 2026

“Kepungan Bencana Hidrometeorologi dan El Nino 2026: Ujian Berat bagi Pertahanan Swasembada Pangan RI”

Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut

Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit

Paradoks Pasar Kerja 2026: Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Penciptaan Lapangan Kerja dan Dampak Distorsi Kebijakan Nasional

Paradoks Pangan Akhir 2025: Stok Nasional Pecah Rekor, Harga Beras di Pedalaman Papua Tembus Rp50.000

Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi

Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli

Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025

Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026

Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra

Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan

Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA

Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah

UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok

Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II

“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS

Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis

Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar

UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”

Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop

Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!

IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!

Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!

Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!

Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!

Indonesia-Rusia Kolplay Digital: 5G Ngegas, Warteg Go Online, Tapi Awas Jangan Kejebak Vodka Virtual!

Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!

Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!

TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!

Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!

Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!

Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?

Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!

Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!

Bank Dunia Bikin Panik: 194 Juta Orang Indonesia Jadi ‘Miskin’, Warteg Jadi Penutup atau Penutup Dompet?

Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!

Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *