Jakarta, Kowantaranews.com — Di sepanjang Sussex Street, sebuah koridor sibuk yang membelah pusat kota Sydney, Australia, keharuman kuliner Nusantara menyeruak ke udara. Aroma garing ayam goreng, gurihnya terung balado, dan kesegaran sambal ulek khas Indonesia menyapa siapa saja yang melintas, bahkan dari jarak beberapa meter sebelum menyentuh pintu kedai. Di tengah hiruk-pikuk metropolis terkemuka Australia ini, Indonesia menghadirkan dirinya bukan sekadar lewat bendera diplomasi formal, melainkan melalui diplomasi rasa yang hangat dan merakyat.
Di Warung Pojok, sebuah kios bersahaja yang terletak di 298 Sussex Street, suasana Jumat sore senantiasa riuh oleh percakapan berbahasa Indonesia. Para pelanggan menyantap sajian khas seperti ayam tempong—lengkap dengan tahu, tempe, terung, nasi hangat, perasan jeruk lemon, dan sambal pedas menyengat—serta pilihan menu lain seperti ayam geprek, nasi Padang, kwetiau, hingga rempeyek. Dalam sekejap, ritme kehidupan di pusat kota Sydney seolah berpindah ke sudut Tanjung Duren di Jakarta Barat. Sussex Street kini menjadi rumah bagi deretan usaha kuliner Indonesia yang tumbuh subur, mulai dari Medan Ciak, My Indo Kitchen, Nyonya Indonesian Cakes & Snacks, Enjoy Mie, hingga Martabak Pecenongan 78 dan toko bahan pangan tradisional.
Tak jauh dari sana, di Pitt Street, antrean panjang pengunjung mengular di depan Pandawa Nasi Bungkus Australia. Pada jam makan siang, warga lokal maupun diaspora rela menunggu hingga satu jam demi menikmati sepiring soto Betawi berkuah santan kental yang kaya rempah atau nasi bungkus daun pisang berlapis rendang, iga penyet, tempe orek, dan sayur lodeh. Kuliner telah menjadi bahasa universal yang efektif untuk menjembatani pemahaman antarbudaya.
Usaha memperkenalkan wajah Indonesia yang utuh juga terwujud melalui layar kaca. Melalui serial dokumenter Beyond Bali with Lara Lee yang diproduksi oleh Southern Pictures untuk lembaga penyiaran publik SBS, publik Australia diajak menyelami keragaman budaya Nusantara di luar Pulau Dewata. Serial delapan episode ini mendapat dukungan dari Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT), Australia-Indonesia Centre, serta Asialink. Dipandu oleh Lara Lee—seorang koki dan penulis kuliner berdarah campuran Indonesia-Tionghoa yang melacak jejak leluhurnya di Kupang, Nusa Tenggara Timur—program ini membawa penonton menjelajahi Bali, Lombok, Sumba, Flores, Kepulauan Komodo, hingga Timor.
Menurut Laurie Critchley, CEO Southern Pictures, kuliner adalah medium paling alami dan inklusif untuk menyampaikan betapa majemuknya Indonesia kepada masyarakat Australia yang selama ini kerap memandang Indonesia secara “Bali-sentris”. Dari keanekaragaman rempah hingga variasi rasa sambal di setiap daerah, makanan membuka wawasan baru tentang identitas kekayaan kultural Indonesia.
Guna mengonsolidasikan potensi gastronomi tersebut, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Sydney menggelar program Indonesian Food Trail pada 1–16 Agustus 2026 dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan RI. Program yang digagas oleh Konsul Jenderal RI di Sydney, Pendekar Leonard Sondakh, serta Konsul Ekonomi Nurfika Wijayanti ini menghubungkan 31 bisnis kuliner Indonesia di kawasan pusat kota Sydney ke dalam satu peta interaktif. Pengunjung mengumpulkan cap digital dengan melakukan transaksi senilai minimal 17,80 dolar Australia—sebuah angka simbolis yang merujuk pada tanggal 17 Agustus.
Antusiasme masyarakat terbukti sangat tinggi, hingga sekitar 1.000 peta yang disiapkan habis sebelum periode program berakhir. Menariknya, sistem pelacak transaksi digital dalam program ini memberikan data kualitatif yang cermat: komoditas pangan yang paling banyak dicari dan dibeli oleh konsumen di Sydney bukanlah menu mewah, melainkan tempe, disusul oleh aneka gorengan dan produk olahan mi. Catatan perputaran uang yang mencapai 11.000 hingga 12.000 dolar Australia per hari di kawasan pusat kota ini menjadi bukti konkret besarnya kontribusi ekonomi diaspora Indonesia.
Kuliner Medan: Perpaduan Ikan Arsik Tradisional dan Bistik Klasik Era Kolonial
Data transaksi tersebut kelak menjadi pijakan penting dalam berkoordinasi dengan Dewan Kota Sydney (City of Sydney Council) untuk merintis pembentukan kawasan resmi Indonesian Town di Sussex Street. Mengikuti preseden Thai Town yang telah diakui secara resmi di kawasan Haymarket, keberadaan Indonesian Town diproyeksikan dapat terwujud secara bertahap.
Kehadiran kuliner Nusantara di Sydney kini juga berkembang secara adaptif melalui hidangan fusi transkultural, seperti Mi Goreng Toastie di kafe Dutch Smuggler yang memadukan keju panggang Barat dengan mi instan khas Indonesia. Dari potongan tempe sederhana di Sussex Street hingga tayangan edukatif di layar televisi, cerita tentang keberagaman Indonesia terus dirajut, membawa rasa hangat Nusantara kian melekat di hati publik Australia. By Mukroni
- Berita Terkait :
Kuliner Medan: Perpaduan Ikan Arsik Tradisional dan Bistik Klasik Era Kolonial
Bukan Sekadar Menu Berbuka, Pasar Takjil Indonesia Jadi Katalis Sirkulasi Kapital Musiman
Bank Jakarta Syariah Targetkan KUR Rp300 Miliar, STIAMI Siapkan Beasiswa bagi Anggota KOWANTARA
Wujudkan Asta Cita, Bank Jakarta Syariah dan STIAMI Gandeng KOWANTARA Transformasi Ekosistem Warteg
Sinergi Bank Jakarta Syariah, STIAMI, dan KOWANTARA Perkuat Fondasi UMKM Lewat KUR dan Pendidikan
Kowantara Desak Pemerintah Mitigasi “Fatalitas” Lonjakan Harga Pangan Jelang Ramadan 2026
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11%, Moody’s Justru Ubah Prospek Jadi Negatif
Pemerintah Gelontorkan Stimulus Rp 12,83 Triliun untuk Jaga Daya Beli Jelang Lebaran 2026
OJK Siapkan 8 Rencana Aksi Reformasi Pasar Modal, Batas Free Float Resmi Naik Jadi 15 Persen
Benturan Oligarki vs Standar Global: Di Balik Mundurnya Petinggi OJK dan BEI
“Negara Leviathan Kembali: Saat Kritik Pangan Dibalas Gugatan Rp 200 Miliar dan Ancaman Pidana”
Impor Macet dan Stok Pemerintah Tipis, Bapanas dan Kemendag Didesak Ambil Langkah ‘Extraordinary’
Gejolak Awal Tahun: Alih Kelola Impor Pakan Ternak Picu Kelangkaan dan Lonjakan Harga
Target Operasional 2026 Terancam: Koperasi Merah Putih Terganjal Masalah Lahan dan Pembiayaan
Di Balik Surplus 2025: Krisis Iklim dan Bencana Mengintai Lumbung Pangan RI
Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut
Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit
Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi
Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli
Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025
Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026
Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra
Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan
Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA
Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah
UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok
Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II
“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS
Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis
Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar
UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”
Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop
Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!
IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!
Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!
Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!
Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!
Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!
Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!
TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!
Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!
Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!
Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?
Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!
Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!
Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!
Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

