Jakarta, Kowantaranews.com – Momentum kebangkitan ekonomi kerakyatan di Indonesia semakin menunjukkan taji melalui kolaborasi strategis lintas sektor. Bertempat di Kantor Pusat Bank Jakarta, Gedung Prasada Sasana Karya lantai 8, Jakarta Pusat, sebuah sinergi besar resmi dijalin antara Bank Jakarta Syariah, Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI, dan Komunitas Warung Nusantara (Kowantara). Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) ini bukan sekadar seremoni formal, melainkan langkah konkret untuk memperkuat fondasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya ekosistem warung tegal (warteg), melalui integrasi akses permodalan syariah dan pendidikan tinggi.
Pendidikan sebagai Eskalator Ekonomi Rakyat
Rektor Institut STIAMI, Prof. Dr. Hj. Sylviana Murni, S.H., M.Si., dalam sambutannya menekankan bahwa kampus memiliki tanggung jawab moral untuk hadir di tengah masyarakat ekonomi bawah. Salah satu terobosan yang diusung adalah gagasan “Kampus Rakyat”, sebuah program pendidikan yang akan diselenggarakan langsung di lokasi-lokasi ekonomi rakyat seperti pasar tradisional. Program ini bertujuan menghapus batasan antara akademisi dan praktisi ekonomi mikro agar para pelaku UMKM dapat meningkatkan kapasitas manajerial mereka tanpa harus meninggalkan tempat usaha.
“Warteg adalah denyut ekonomi rakyat yang nyata. Melalui kolaborasi ini, kami berkomitmen mendampingi pelaku warteg agar tidak hanya bertahan, tetapi berkembang secara berkelanjutan dengan tata kelola yang profesional,” ujar Sylviana Murni. Selain pendampingan teknis, Institut STIAMI juga memberikan insentif nyata berupa potongan biaya pendidikan bagi para pengusaha warteg dan anggota keluarganya yang ingin melanjutkan studi ke jenjang sarjana maupun pascasarjana.
Modernisasi Warteg dan Transformasi Digital
Ketua Kowantara, Ir. Mukroni, menyambut baik inisiatif ini sebagai jawaban atas tantangan klasik yang dihadapi pengusaha warteg, yakni akses permodalan dan keterbatasan literasi digital. Berdasarkan data internal, adopsi digital di kalangan anggota Kowantara saat ini masih tergolong rendah, yakni di bawah lima persen. Sinergi ini diharapkan mampu mendorong transformasi menuju konsep “Warteg Berseri” (Bersih, Sehat, dan Mandiri), di mana warteg tidak lagi dipandang sebagai usaha tradisional kumuh, melainkan unit bisnis modern yang higienis dan efisien.
Dalam upaya efisiensi, Kowantara juga terus mengembangkan distribution center untuk memotong rantai distribusi bahan pangan langsung dari produsen ke pemilik warung. Dengan dukungan akademisi dari STIAMI, para anggota juga akan dilatih menggunakan aplikasi manajemen seperti Digikopin untuk memodernisasi sistem inventaris dan transaksi.
Akses Modal Syariah yang Inklusif
Dari sisi finansial, Bank Jakarta Syariah memegang peranan vital melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Syariah. Perwakilan Bank Jakarta Syariah, Dedy Akhmadi, mengungkapkan bahwa pihaknya menargetkan penyaluran KUR sebesar Rp300 miliar pada tahun 2026 untuk memperkuat akses pembiayaan UMKM. Produk KUR Syariah ini menawarkan plafon hingga Rp500 juta dengan jangka waktu maksimal 60 bulan dan margin yang sangat kompetitif, mulai dari setara 3% hingga 6% efektif per tahun.
Selain KUR, terdapat pula program “Jak Ema” yang dirancang khusus untuk ekosistem pasar dan kelurahan dengan plafon hingga Rp25 juta tanpa agunan. Persyaratan pengajuan pun dipermudah, namun tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, termasuk kewajiban menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan bagi debitur guna memastikan perlindungan jaminan sosial. Dedy menekankan filosofi “cemu-muah” (cepat, mudah, murah, aman, dan handal) dalam proses layanannya agar para pedagang kecil tidak lagi terjebak pada praktik pinjaman informal atau rentenir.
Sinkronisasi dengan Asta Cita Pemerintah
Langkah kolaboratif ini sejalan dengan visi Asta Cita yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam hal penciptaan lapangan kerja berkualitas dan pembangunan ekonomi dari level terbawah. Misi ketiga dan keenam Asta Cita menekankan pentingnya pelatihan kewirausahaan dan penguatan ekonomi pasar rakyat sebagai pilar kedaulatan ekonomi nasional.
Kowantara Desak Pemerintah Mitigasi “Fatalitas” Lonjakan Harga Pangan Jelang Ramadan 2026
Pemerintah melalui kementerian terkait terus mendorong hilirisasi yang tidak hanya dirasakan oleh korporasi besar, tetapi juga menjadi “eskalator” bagi UMKM daerah agar terlibat dalam rantai pasok industri. Sinergi tripartit antara perbankan syariah, akademisi, dan komunitas usaha ini menjadi prototipe ideal bagaimana visi besar pembangunan nasional diterjemahkan ke dalam aksi nyata di lapangan yang berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat kecil.
Dengan penguatan fondasi lewat modal dan pendidikan, sektor UMKM warteg di Jabodetabek yang jumlahnya mencapai puluhan ribu diharapkan mampu bertransformasi menjadi entitas ekonomi yang mandiri dan berdaya saing tinggi menuju Indonesia Emas 2045. By Mukroni
- Berita Terkait :
Kowantara Desak Pemerintah Mitigasi “Fatalitas” Lonjakan Harga Pangan Jelang Ramadan 2026
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11%, Moody’s Justru Ubah Prospek Jadi Negatif
Pemerintah Gelontorkan Stimulus Rp 12,83 Triliun untuk Jaga Daya Beli Jelang Lebaran 2026
OJK Siapkan 8 Rencana Aksi Reformasi Pasar Modal, Batas Free Float Resmi Naik Jadi 15 Persen
Benturan Oligarki vs Standar Global: Di Balik Mundurnya Petinggi OJK dan BEI
“Negara Leviathan Kembali: Saat Kritik Pangan Dibalas Gugatan Rp 200 Miliar dan Ancaman Pidana”
Impor Macet dan Stok Pemerintah Tipis, Bapanas dan Kemendag Didesak Ambil Langkah ‘Extraordinary’
Gejolak Awal Tahun: Alih Kelola Impor Pakan Ternak Picu Kelangkaan dan Lonjakan Harga
Target Operasional 2026 Terancam: Koperasi Merah Putih Terganjal Masalah Lahan dan Pembiayaan
Di Balik Surplus 2025: Krisis Iklim dan Bencana Mengintai Lumbung Pangan RI
Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut
Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit
Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi
Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli
Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025
Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026
Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra
Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan
Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA
Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah
UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok
Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II
“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS
Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis
Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar
UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”
Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop
Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!
IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!
Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!
Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!
Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!
Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!
Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!
TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!
Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!
Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!
Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?
Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!
Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!
Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!
Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

