Jakarta, Kowantaranews.com – Dalam upaya nyata mewujudkan visi besar pembangunan nasional yang tertuang dalam Asta Cita, sebuah kolaborasi strategis lintas sektor resmi diluncurkan untuk mentransformasi ekosistem warung tegal (warteg) di Indonesia. Bank Jakarta Syariah, Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI, dan Komunitas Warung Nusantara (Kowantara) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) di Gedung Prasada Sasana Karya, Jakarta Pusat, guna memperkuat pondasi UMKM melalui akses pembiayaan syariah dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Penyelarasan dengan Asta Cita: Menuju Ekonomi Berdikari
Sinergi tripartit ini merupakan implementasi langsung dari delapan misi strategis pemerintah yang dikenal sebagai Asta Cita. Fokus utama kerja sama ini selaras dengan misi ketiga, yaitu penciptaan lapangan kerja berkualitas dan pengembangan kewirausahaan melalui akses permodalan bagi UMKM. Selain itu, inisiatif ini mendukung misi keenam mengenai pembangunan dari tingkat akar rumput untuk pemerataan ekonomi, serta misi keempat yang menekankan peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan.
Pemerintah menempatkan UMKM sebagai motor ekonomi rakyat yang harus terintegrasi dengan rantai nilai industri nasional. Kebijakan hilirisasi yang sedang digalakkan diharapkan menjadi “eskalator” bagi pengusaha kecil agar manfaat ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada korporasi besar. Melalui kolaborasi ini, warteg didorong untuk tidak lagi sekadar bertahan sebagai usaha informal, melainkan bertransformasi menjadi entitas bisnis yang modern dan profesional.
Pilar Pendidikan: “Kampus Rakyat” dan Akses Mobilitas Sosial
Rektor Institut STIAMI, Prof. Dr. Hj. Sylviana Murni, S.H., M.Si., menekankan bahwa transformasi UMKM harus dimulai dari peningkatan literasi dan kapasitas manajerial. STIAMI menggagas konsep “Kampus Rakyat” yang bertujuan mendesentralisasikan pendidikan tinggi ke lokasi-lokasi strategis ekonomi rakyat, seperti pasar tradisional. Langkah ini diambil untuk mendekatkan akses ilmu pengetahuan bagi pelaku usaha yang selama ini memiliki keterbatasan waktu dan biaya untuk menempuh pendidikan formal.
Sebagai wujud kepedulian sosial, Institut STIAMI memberikan potongan biaya pendidikan dan akses beasiswa bagi para pengusaha warteg serta anggota keluarga mereka. Upaya ini dipandang sebagai instrumen mobilitas sosial vertikal yang krusial. Dengan 417 staf akademik dan jaringan kampus yang luas, STIAMI berkomitmen mendampingi anggota Kowantara dalam bidang tata kelola usaha, akuntansi sederhana, hingga pengurusan sertifikasi halal yang kini menjadi syarat mutlak bagi produk kuliner untuk bersaing di pasar global .
Pilar Finansial: Akses KUR Syariah yang Inklusif
Transformasi ekosistem warteg juga didukung dengan penguatan modal kerja melalui instrumen keuangan syariah. Bank Jakarta Syariah menargetkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Syariah sebesar Rp300 miliar pada tahun 2026 yang dikhususkan bagi pelaku UMKM. Program ini menawarkan plafon pembiayaan hingga Rp500 juta dengan jangka waktu maksimal 60 bulan.
Margin yang ditawarkan dalam skema ini sangat kompetitif, yakni setara 3% hingga 6% efektif per tahun, yang jauh lebih rendah dibandingkan pinjaman informal yang sering kali menjerat pedagang kecil. Perwakilan Bank Jakarta Syariah, Dedy Akhmadi, menjelaskan bahwa pihaknya mengusung filosofi “cemu-muah”—cepat, mudah, murah, aman, dan handal—dalam penyaluran modal tersebut. Persyaratan pengajuan telah disederhanakan, di mana nasabah cukup menyiapkan dokumen identitas, legalitas usaha seperti NIB, serta bukti kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan untuk memastikan perlindungan jaminan sosial bagi para pekerja di sektor informal tersebut.
Pilar Komunitas: Digitalisasi dan “Warteg Berseri”
Ketua Kowantara, Ir. Mukroni, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah rendahnya adopsi teknologi di kalangan pengusaha warteg, yang masih berada di bawah angka 5%. Untuk menjawab hal ini, Kowantara mendorong penggunaan aplikasi manajemen digital seperti Digikopin untuk meningkatkan efisiensi operasional harian.
Selain digitalisasi, Kowantara terus mempromosikan program Warteg Berseri (Bersih, Sehat, Mandiri). Konsep “mandiri” di sini mencakup penguatan rantai pasok melalui distribution center yang dikelola komunitas, sehingga pemilik warung bisa mendapatkan bahan baku langsung dari produsen atau petani dengan harga yang lebih stabil. Transformasi ini diharapkan mampu menjaga ketahanan pangan di wilayah Jabodetabek, mengingat warteg adalah penyedia makanan bergizi yang terjangkau bagi jutaan pekerja setiap harinya.
Sinergi antara akademisi, perbankan syariah, dan komunitas usaha ini menjadi prototipe pembangunan ekonomi inklusif. Dengan permodalan yang kuat dan pendidikan yang mumpuni, ekosistem warteg Indonesia kini siap melangkah menuju transformasi yang lebih maju, mandiri, dan berdaya saing dalam kerangka besar Indonesia Emas 2045. By Mukroni
- Berita Terkait :
Sinergi Bank Jakarta Syariah, STIAMI, dan KOWANTARA Perkuat Fondasi UMKM Lewat KUR dan Pendidikan
Kowantara Desak Pemerintah Mitigasi “Fatalitas” Lonjakan Harga Pangan Jelang Ramadan 2026
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11%, Moody’s Justru Ubah Prospek Jadi Negatif
Pemerintah Gelontorkan Stimulus Rp 12,83 Triliun untuk Jaga Daya Beli Jelang Lebaran 2026
OJK Siapkan 8 Rencana Aksi Reformasi Pasar Modal, Batas Free Float Resmi Naik Jadi 15 Persen
Benturan Oligarki vs Standar Global: Di Balik Mundurnya Petinggi OJK dan BEI
“Negara Leviathan Kembali: Saat Kritik Pangan Dibalas Gugatan Rp 200 Miliar dan Ancaman Pidana”
Impor Macet dan Stok Pemerintah Tipis, Bapanas dan Kemendag Didesak Ambil Langkah ‘Extraordinary’
Gejolak Awal Tahun: Alih Kelola Impor Pakan Ternak Picu Kelangkaan dan Lonjakan Harga
Target Operasional 2026 Terancam: Koperasi Merah Putih Terganjal Masalah Lahan dan Pembiayaan
Di Balik Surplus 2025: Krisis Iklim dan Bencana Mengintai Lumbung Pangan RI
Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut
Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit
Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi
Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli
Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025
Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026
Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra
Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan
Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA
Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah
UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok
Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II
“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS
Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis
Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar
UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”
Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop
Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!
IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!
Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!
Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!
Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!
Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!
Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!
TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!
Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!
Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!
Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?
Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!
Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!
Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!
Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

