Jakarta, Kowantaranews.com -Dunia kini berada di ambang kiamat energi setelah Selat Hormuz, arteri maritim paling vital bagi perdagangan energi global, mengalami kebuntuan total secara de facto pada awal Maret 2026. Krisis ini dipicu oleh eskalasi militer yang dramatis menyusul serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran, yang mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan rentetan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer serta infrastruktur energi di kawasan Teluk, sembari mengeluarkan larangan keras bagi seluruh kapal tanker untuk melintasi selat tersebut.
Dampaknya terhadap pasar global sangat masif dan instan. Selat Hormuz melayani pengiriman sekitar 20 juta barel minyak per hari, yang setara dengan 20 persen dari total konsumsi minyak dunia. Terhentinya aliran ini menyebabkan harga minyak mentah Brent melonjak tajam hingga menyentuh level 92,69 dolar AS per barel pada penutupan pekan pertama Maret, mencatatkan kenaikan sebesar 27 persen hanya dalam satu minggu. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) meroket 36 persen ke angka 90,90 dolar AS per barel. Tidak hanya minyak, gangguan ini juga melumpuhkan pasokan Gas Alam Cair (LNG) global, mengingat Qatar dan UEA menyumbang hampir 20 persen ekspor LNG dunia melalui jalur yang sama.
Bagi Indonesia, situasi ini menciptakan tekanan fiskal yang sangat berat. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa jika harga minyak dunia bertahan di level 92 dolar AS sepanjang tahun, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 berpotensi melebar hingga 3,6 persen atau bahkan 3,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini jauh melampaui batas aman undang-undang sebesar 3 persen, mengingat APBN 2026 disusun dengan asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) hanya 70 dolar AS per barel. Tekanan ini semakin diperparah dengan melemahnya nilai tukar Rupiah yang hampir menyentuh Rp17.000 per dolar AS.
Menghadapi risiko jebolnya anggaran, pemerintah mulai menyusun skenario efisiensi ekstrem. Menteri Purbaya menegaskan akan melakukan penundaan terhadap sejumlah proyek infrastruktur di bawah Kementerian Pekerjaan Umum (PU), termasuk pembangunan jembatan dan sekolah yang dianggap tidak mendesak. Selain itu, program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) juga terkena imbas efisiensi, khususnya pada belanja pendukung seperti pengadaan kendaraan operasional dan komputer baru untuk unit layanan gizi.
Di tingkat domestik, kekhawatiran masyarakat memuncak hingga memicu fenomena panic buying di beberapa wilayah, seperti Sumatera Utara dan Aceh. Antrean panjang kendaraan di SPBU terjadi setelah beredar isu bahwa stok BBM nasional hanya tersisa untuk 20 hari. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia segera memberikan klarifikasi bahwa angka 20 hingga 23 hari tersebut merupakan kapasitas penyimpanan fisik (storage) Indonesia yang terbatas, bukan berarti pasokan akan habis total. Bahlil memastikan bahwa stok Solar tetap aman karena 100 persen sudah diproduksi di dalam negeri, sementara pasokan minyak mentah mulai dialihkan dari Timur Tengah ke sumber alternatif seperti Amerika Serikat, Afrika, dan Brasil.
Timur Tengah Membara: AS-Israel Luncurkan “Operation Epic Fury” ke Jantung Iran
Namun, gejolak ini telah merambat ke sektor sosial. Harga bahan pangan strategis di pasar-pasar Jakarta, seperti cabai rawit merah, dilaporkan melonjak hingga Rp120.000 per kilogram akibat kenaikan biaya logistik. Ribuan buruh pun mulai turun ke jalan untuk memprotes kenaikan harga BBM non-subsidi dan mendesak pemerintah agar harga kebutuhan pokok tetap terjangkau menjelang Hari Raya Idulfitri. Saat ini, stabilitas ekonomi Indonesia sangat bergantung pada durasi blokade Selat Hormuz dan keberhasilan pemerintah dalam menjalankan manuver mitigasi fiskal yang disiplin. By Mukroni
- Berita Terkait :
Timur Tengah Membara: AS-Israel Luncurkan “Operation Epic Fury” ke Jantung Iran
Menimbang Untung-Rugi Perjanjian ART: Antara “Jerat” Impor dan Karpet Merah Ekspor RI
Harga Cabai Rawit di Nduga Papua Tembus Rp 200.000 per Kg, Tertinggi di Indonesia
Bukan Sekadar Menu Berbuka, Pasar Takjil Indonesia Jadi Katalis Sirkulasi Kapital Musiman
Bank Jakarta Syariah Targetkan KUR Rp300 Miliar, STIAMI Siapkan Beasiswa bagi Anggota KOWANTARA
Wujudkan Asta Cita, Bank Jakarta Syariah dan STIAMI Gandeng KOWANTARA Transformasi Ekosistem Warteg
Sinergi Bank Jakarta Syariah, STIAMI, dan KOWANTARA Perkuat Fondasi UMKM Lewat KUR dan Pendidikan
Kowantara Desak Pemerintah Mitigasi “Fatalitas” Lonjakan Harga Pangan Jelang Ramadan 2026
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11%, Moody’s Justru Ubah Prospek Jadi Negatif
Pemerintah Gelontorkan Stimulus Rp 12,83 Triliun untuk Jaga Daya Beli Jelang Lebaran 2026
OJK Siapkan 8 Rencana Aksi Reformasi Pasar Modal, Batas Free Float Resmi Naik Jadi 15 Persen
Benturan Oligarki vs Standar Global: Di Balik Mundurnya Petinggi OJK dan BEI
“Negara Leviathan Kembali: Saat Kritik Pangan Dibalas Gugatan Rp 200 Miliar dan Ancaman Pidana”
Impor Macet dan Stok Pemerintah Tipis, Bapanas dan Kemendag Didesak Ambil Langkah ‘Extraordinary’
Gejolak Awal Tahun: Alih Kelola Impor Pakan Ternak Picu Kelangkaan dan Lonjakan Harga
Target Operasional 2026 Terancam: Koperasi Merah Putih Terganjal Masalah Lahan dan Pembiayaan
Di Balik Surplus 2025: Krisis Iklim dan Bencana Mengintai Lumbung Pangan RI
Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut
Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit
Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi
Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli
Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025
Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026
Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra
Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan
Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA
Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah
UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok
Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II
“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS
Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis
Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar
UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”
Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop
Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!
IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!
Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!
Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!
Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!
Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!
Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!
TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!
Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!
Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!
Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?
Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!
Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!
Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!
Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

