• Sen. Mar 9th, 2026

KowantaraNews

Jejak Warteg Warisan Lumbung Mataram, Semangat Sultan Agung dan Diplomasi Kyai Rangga

Selat Hormuz Terkunci: Aliran 20 Juta Barel Minyak Dunia Terhenti Akibat Konflik Timur Tengah

ByAdmin

Mar 8, 2026
Foto: Kebakaran dan asap membumbung setelah serangan Israel di Beirut, Lebanon, Kamis (3/10/2024). (REUTERS/Amr Abdallah Dalsh)
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com -Dunia kini berada di ambang kiamat energi setelah Selat Hormuz, arteri maritim paling vital bagi perdagangan energi global, mengalami kebuntuan total secara de facto pada awal Maret 2026. Krisis ini dipicu oleh eskalasi militer yang dramatis menyusul serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran, yang mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan rentetan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer serta infrastruktur energi di kawasan Teluk, sembari mengeluarkan larangan keras bagi seluruh kapal tanker untuk melintasi selat tersebut.

Dampaknya terhadap pasar global sangat masif dan instan. Selat Hormuz melayani pengiriman sekitar 20 juta barel minyak per hari, yang setara dengan 20 persen dari total konsumsi minyak dunia. Terhentinya aliran ini menyebabkan harga minyak mentah Brent melonjak tajam hingga menyentuh level 92,69 dolar AS per barel pada penutupan pekan pertama Maret, mencatatkan kenaikan sebesar 27 persen hanya dalam satu minggu. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) meroket 36 persen ke angka 90,90 dolar AS per barel. Tidak hanya minyak, gangguan ini juga melumpuhkan pasokan Gas Alam Cair (LNG) global, mengingat Qatar dan UEA menyumbang hampir 20 persen ekspor LNG dunia melalui jalur yang sama.

Bagi Indonesia, situasi ini menciptakan tekanan fiskal yang sangat berat. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa jika harga minyak dunia bertahan di level 92 dolar AS sepanjang tahun, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 berpotensi melebar hingga 3,6 persen atau bahkan 3,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini jauh melampaui batas aman undang-undang sebesar 3 persen, mengingat APBN 2026 disusun dengan asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) hanya 70 dolar AS per barel. Tekanan ini semakin diperparah dengan melemahnya nilai tukar Rupiah yang hampir menyentuh Rp17.000 per dolar AS.

Menghadapi risiko jebolnya anggaran, pemerintah mulai menyusun skenario efisiensi ekstrem. Menteri Purbaya menegaskan akan melakukan penundaan terhadap sejumlah proyek infrastruktur di bawah Kementerian Pekerjaan Umum (PU), termasuk pembangunan jembatan dan sekolah yang dianggap tidak mendesak. Selain itu, program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) juga terkena imbas efisiensi, khususnya pada belanja pendukung seperti pengadaan kendaraan operasional dan komputer baru untuk unit layanan gizi.

Di tingkat domestik, kekhawatiran masyarakat memuncak hingga memicu fenomena panic buying di beberapa wilayah, seperti Sumatera Utara dan Aceh. Antrean panjang kendaraan di SPBU terjadi setelah beredar isu bahwa stok BBM nasional hanya tersisa untuk 20 hari. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia segera memberikan klarifikasi bahwa angka 20 hingga 23 hari tersebut merupakan kapasitas penyimpanan fisik (storage) Indonesia yang terbatas, bukan berarti pasokan akan habis total. Bahlil memastikan bahwa stok Solar tetap aman karena 100 persen sudah diproduksi di dalam negeri, sementara pasokan minyak mentah mulai dialihkan dari Timur Tengah ke sumber alternatif seperti Amerika Serikat, Afrika, dan Brasil.

Timur Tengah Membara: AS-Israel Luncurkan “Operation Epic Fury” ke Jantung Iran

Namun, gejolak ini telah merambat ke sektor sosial. Harga bahan pangan strategis di pasar-pasar Jakarta, seperti cabai rawit merah, dilaporkan melonjak hingga Rp120.000 per kilogram akibat kenaikan biaya logistik. Ribuan buruh pun mulai turun ke jalan untuk memprotes kenaikan harga BBM non-subsidi dan mendesak pemerintah agar harga kebutuhan pokok tetap terjangkau menjelang Hari Raya Idulfitri. Saat ini, stabilitas ekonomi Indonesia sangat bergantung pada durasi blokade Selat Hormuz dan keberhasilan pemerintah dalam menjalankan manuver mitigasi fiskal yang disiplin. By Mukroni

  • Berita Terkait :

Timur Tengah Membara: AS-Israel Luncurkan “Operation Epic Fury” ke Jantung Iran

Menimbang Untung-Rugi Perjanjian ART: Antara “Jerat” Impor dan Karpet Merah Ekspor RI

Harga Cabai Rawit di Nduga Papua Tembus Rp 200.000 per Kg, Tertinggi di Indonesia

Bukan Sekadar Menu Berbuka, Pasar Takjil Indonesia Jadi Katalis Sirkulasi Kapital Musiman

Bank Jakarta Syariah Targetkan KUR Rp300 Miliar, STIAMI Siapkan Beasiswa bagi Anggota KOWANTARA

Wujudkan Asta Cita, Bank Jakarta Syariah dan STIAMI Gandeng KOWANTARA Transformasi Ekosistem Warteg

Warteg Naik Kelas: Kolaborasi Tripartit Hadirkan Akses Pembiayaan Syariah dan Program “Kampus Rakyat” 

Sinergi Bank Jakarta Syariah, STIAMI, dan KOWANTARA Perkuat Fondasi UMKM Lewat KUR dan Pendidikan 

Kowantara Desak Pemerintah Mitigasi “Fatalitas” Lonjakan Harga Pangan Jelang Ramadan 2026

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11%, Moody’s Justru Ubah Prospek Jadi Negatif

Paradoks Ekonomi Jakarta 2026: Di Balik Deflasi Januari, Beban Listrik dan Energi Justru Melonjak 9,71 Persen

Pemerintah Gelontorkan Stimulus Rp 12,83 Triliun untuk Jaga Daya Beli Jelang Lebaran 2026

OJK Siapkan 8 Rencana Aksi Reformasi Pasar Modal, Batas Free Float Resmi Naik Jadi 15 Persen

Benturan Oligarki vs Standar Global: Di Balik Mundurnya Petinggi OJK dan BEI

“Negara Leviathan Kembali: Saat Kritik Pangan Dibalas Gugatan Rp 200 Miliar dan Ancaman Pidana”

Impor Macet dan Stok Pemerintah Tipis, Bapanas dan Kemendag Didesak Ambil Langkah ‘Extraordinary’

Gejolak Awal Tahun: Alih Kelola Impor Pakan Ternak Picu Kelangkaan dan Lonjakan Harga

Target Operasional 2026 Terancam: Koperasi Merah Putih Terganjal Masalah Lahan dan Pembiayaan

Di Balik Surplus 2025: Krisis Iklim dan Bencana Mengintai Lumbung Pangan RI

Indonesia Raih Swasembada Beras 2025: Analisis Capaian, Surplus, dan Peta Jalan Ketahanan Pangan 2026

“Kepungan Bencana Hidrometeorologi dan El Nino 2026: Ujian Berat bagi Pertahanan Swasembada Pangan RI”

Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut

Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit

Paradoks Pasar Kerja 2026: Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Penciptaan Lapangan Kerja dan Dampak Distorsi Kebijakan Nasional

Paradoks Pangan Akhir 2025: Stok Nasional Pecah Rekor, Harga Beras di Pedalaman Papua Tembus Rp50.000

Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi

Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli

Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025

Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026

Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra

Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan

Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA

Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah

UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok

Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II

“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS

Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis

Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar

UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”

Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop

Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!

IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!

Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!

Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!

Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!

Indonesia-Rusia Kolplay Digital: 5G Ngegas, Warteg Go Online, Tapi Awas Jangan Kejebak Vodka Virtual!

Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!

Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!

TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!

Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!

Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!

Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?

Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!

Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!

Bank Dunia Bikin Panik: 194 Juta Orang Indonesia Jadi ‘Miskin’, Warteg Jadi Penutup atau Penutup Dompet?

Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!

Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *