Jakarta, Kowantaranews.com – Selama berdekade-dekade, reputasi Thailand di panggung global dibangun di atas fondasi agrikultur yang kokoh. Dikenal sebagai “Dapur Dunia” (Kitchen of the World), negara ini identik dengan ekspor beras Hom Mali yang harum, gula, dan produk olahan ayam yang membanjiri pasar internasional. Namun, di balik citra sawah yang hijau dan pasar makanan jalanan yang ikonik, sebuah revolusi senyap namun radikal sedang berlangsung. Thailand tidak lagi puas hanya menjadi penanam dan pemetik; negara ini kini tengah merekayasa ulang masa depan makanan itu sendiri, bertransformasi menjadi “Silicon Valley Pangan” di Asia.
Transformasi ini didorong oleh visi ekonomi Thailand 4.0 dan model Bio-Circular-Green (BCG) Economy, sebuah strategi nasional yang menargetkan nilai industri BCG mencapai 4,4 triliun baht dalam lima tahun ke depan. Di jantung strategi ini terdapat pergeseran paradigma dari produksi berbasis volume ke penciptaan nilai tambah melalui deep technology (teknologi mendalam). Pemerintah Thailand menyadari bahwa jebakan pendapatan menengah (middle-income trap) dan perubahan iklim tidak dapat dilawan dengan cara lama. Jawabannya terletak pada laboratorium bioteknologi, bukan sekadar di lahan pertanian.
Infrastruktur Inovasi: Lebih dari Sekadar Slogan
Ambisi menjadi Silicon Valley bukan sekadar slogan pemasaran. Thailand telah membangun ekosistem fisik yang nyata, dengan Food Innopolis sebagai pusat gravitasinya. Berlokasi di Thailand Science Park, kawasan ini menjadi rumah bagi puluhan perusahaan rintisan (startup) dan raksasa korporasi yang bekerja berdampingan dengan ilmuwan dari 23 universitas. Di sinilah konsep “Future Food” digodok—mulai dari ekstraksi senyawa bioaktif hingga penciptaan tekstur daging nabati yang realistis.
Badan Inovasi Nasional (NIA) memainkan peran sebagai konduktor dalam orkestra ini melalui program akselerator SPACE-F, yang diklaim sebagai inkubator food-tech global pertama di Thailand. Melalui kolaborasi dengan raksasa industri seperti Thai Union dan ThaiBev, SPACE-F memberikan akses modal dan mentorship bagi startup yang berani mendisrupsi pasar.
Valorisasi Limbah: Emas dari Sampah Pertanian
Salah satu keunggulan kompetitif Thailand dibandingkan pesaing regionalnya seperti Singapura adalah akses melimpah terhadap bahan baku. Dalam semangat ekonomi sirkular, startup Thailand kini mengubah limbah menjadi kekayaan. Contoh paling mencolok adalah Full Circle Biotechnology, yang memanfaatkan limbah pertanian untuk membiakkan larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly Larvae). Larva ini kemudian diproses menjadi protein pakan ternak berkualitas tinggi untuk industri akuakultur, menggantikan tepung ikan yang merusak ekosistem laut.
Di sektor lain, limbah nanas yang biasanya menumpuk kini diekstraksi menjadi enzim Bromelain bernilai tinggi untuk keperluan farmasi dan kosmetik. Bahkan singkong, komoditas ekspor tradisional, telah direkayasa menjadi Sava Flour, tepung bebas gluten yang menargetkan pasar kesehatan global. Ini adalah bukti nyata bagaimana bioteknologi mampu menyuntikkan kehidupan baru—dan margin keuntungan yang lebih tinggi—ke dalam komoditas lama.
Makanan Medis: Menjawab Tantangan Demografi
Namun, inovasi Thailand tidak berhenti pada efisiensi; ia juga menyentuh aspek kemanusiaan. Dengan populasi yang menua dengan cepat, Thailand memimpin pengembangan Makanan Medis (Medical Foods). Berbeda dengan suplemen biasa, produk ini dirancang dengan presisi klinis untuk pasien dengan kondisi spesifik.
Inovasi seperti Nutriflow, yang dikembangkan oleh Universitas Mahidol, menawarkan solusi bagi lansia yang mengalami kesulitan menelan (disfagia). Sementara itu, kolaborasi antara CP Foods dan Rumah Sakit Ramathibodi melahirkan NutriMax, makanan medis siap santap yang memudahkan perawatan pasien di rumah. Pasar ini diproyeksikan tumbuh pesat, menjadikan Thailand bukan hanya pemasok kalori, tetapi juga penyedia solusi kesehatan preventif bagi dunia.
Protein Alternatif: Mendefinisikan Ulang Daging
Di garis depan teknologi pangan, Thailand juga agresif mengejar pasar protein alternatif. Startup lokal seperti More Meat menggunakan jamur lokal (Splitgill Mushroom) untuk menciptakan daging nabati dengan tekstur yang menyaingi daging babi, tanpa perlu proses pengolahan kimiawi yang berlebihan. Di sisi korporasi, investasi strategis Betagro ke dalam startup daging kultivasi (lab-grown meat) asal Belanda, Meatable, menandakan bahwa raksasa daging konvensional pun sedang bersiap untuk masa depan di mana protein tidak lagi harus berasal dari penyembelihan hewan.
Kesimpulan
Perjalanan Thailand dari “Dapur Dunia” menuju “Silicon Valley Pangan” adalah studi kasus tentang adaptasi ekonomi yang cerdas. Dengan memadukan kekayaan hayati alaminya dengan infrastruktur riset canggih dan dukungan kebijakan yang konsisten, Thailand sedang membuktikan tesis baru: bahwa masa depan pangan tidak hanya diciptakan di laboratorium Silicon Valley Amerika atau Singapura, tetapi dapat direkayasa dari kekayaan agrikultur Asia Tenggara itu sendiri. Thailand kini tidak lagi sekadar memberi makan dunia; mereka sedang mendefinisikan ulang apa yang dunia makan. By Mukroni
- Berita Terkait :
Menanti Warteg ‘Naik Kelas’: Tantangan Membawa Menu Rp 15 Ribuan ke Lidah Konsumen Internasional
Keren !, Sejumlah Alumni UB Mendirikan Koperasi dan Warteg Sahabat di Kota Malang
Ternyata Warteg Sahabat KOWATAMI Memakai Sistem Kasir Online
Ternyata Warteg Sahabat Berada di Bawah Naungan Koperasi Warung Sahabat Madani
Wow Keren !, Makan Gratis di Warteg Sahabat Untuk Penghafal Surat Kahfi di Hari Minggu
Warteg Sahabat Satu-Satunya Warteg Milenial di Kota Malang dengan Wifi
Warteg Sahabat Menawarkan Warteg Gaya Milenial untuk Kota Malang dan Sekitarnya
Republik Bahari Mengepakan Sayap Warteg ala Café di Cilandak Jakarta Selatan
Promo Gila Gilaan Di Grand Opening Rodjo Duren Cirendeu.
Pelanggan Warteg di Bekasi dan Bogor Kecewa, Menu Jengkol Hilang
KOWARTAMI Membuka Lagi Gerai Warteg Republik Bahari ke-5 di MABES Jakarta Barat
Ternyata Nasi Padang Ada yang Harganya Lebih Murah dari Warteg, Apa benar ?
Menikmati Menu Smoothies Buah Naga Di Laloma Cafe Majalengka
Ternyata Tidak Jauh Dari Jakarta, Harga Nasi Padang Per Porsinya Rp 120 Ribu
Ketika Pedagang Warteg Menanyakan Syarat Mendapatkan Satu Juta Kuota Sertifikasi Halal Gratis
Warteg Republik Bahari Di Bawah Kowartami Mulai Berkibar Di Penghujung Pandemi
Curhat Pemilik Warung Seafood Bekasi Ketika Omsetnya Belum Beranjak Naik
Trending Di Twitter, Ternyata Mixue Belum Mendapat Sertifikat Halal Dari BPJPH Kementerian Agama
Megenal Lebih Dekat Apapun Makanannya Teh Botol Sosro Minumannya, Cikal Bakalnya Dari Tegal
Kowartami Resmikan Warteg Republik Bahari Cabang Ke-4 Di Salemba Jakarta Pusat
Natal Di Jepang, Kentucky Fried Chicken (KFC) Salah Satu Makanan Favorit
Pedagang Warteg Semakin Sulit Harga Beras Naik
Yabie Cafe Tempat Bersantai Kekinian di Kranji Bekasi
Nongkrong Sambil Mencicip Surabi dengan Beragam Topping di Bandung
Gurihnya Coto Makassar Legendaris di Air Mancur Bogor, Yuk ke Sana

