Jakarta, Kowantaranews.com – Sepuluh tahun yang lalu, pada Mei 2015, Mukroni, Ketua Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara), melontarkan sebuah gagasan yang terdengar utopis namun patriotik: menjadikan Warung Tegal (Warteg) sebagai “McDonald’s-nya Indonesia” yang mampu berekspansi hingga ke Hong Kong, Amerika, dan Eropa. Visi tersebut sederhana: jika Thailand bisa melakukannya dengan Tom Yum, mengapa Indonesia tidak bisa dengan Orek Tempe?
Kini, melangkah ke tahun 2026, peta jalan tersebut menunjukkan hasil yang paradoks. Di satu sisi, visi modernisasi Warteg telah mencapai kesuksesan luar biasa di dalam negeri. Di sisi lain, di panggung global, Warteg masih menjadi pemain yang nyaris tak terdengar, terjebak dalam predikat “jago kandang”.
Revolusi Hijau-Kuning di Jabodetabek
Jika ada satu entitas yang paling berhasil menerjemahkan visi modernisasi Warteg, itu adalah Warteg Kharisma Bahari (WKB). Di bawah tangan dingin Sayudi, WKB telah mengubah wajah kuliner jalanan Jakarta. Tidak ada lagi stigma warung kumuh, gelap, dan panas. WKB memperkenalkan standar baru: keramik dinding yang bersih, pencahayaan terang benderang, sirkulasi udara yang baik, dan palet warna ikonik hijau-kuning yang kini menghiasi lebih dari 800 sudut jalan di Jabodetabek.
Model bisnis yang diterapkan Sayudi—sistem kemitraan (franchise) putus di mana investor memodali tempat dan manajemen dikelola oleh WKB dengan bagi hasil 50:50—terbukti jenius untuk pasar domestik. Sistem ini mendemokratisasi kepemilikan Warteg, menarik minat dari pensiunan hingga profesional muda untuk berinvestasi. WKB sukses “mewartegkan” Jabodetabek, menjadikan menu Rp 15.000-an sebagai penopang hidup kaum urban Jakarta yang semakin tertekan oleh biaya hidup.
Benturan Realitas di Pasar Global
Namun, ketika model sukses ini coba diproyeksikan ke luar negeri sesuai impian Mukroni, tembok tebal segera menghadang. Mengapa WKB yang begitu dominan di Bekasi atau Tangerang tidak kunjung membuka cabang di Singapura atau Melbourne?
Jawabannya terletak pada struktur biaya dan kompleksitas menu. Kekuatan utama Warteg di Indonesia adalah variasi menu yang masif (20-30 lauk tersaji di etalase) dengan harga sangat murah. Model ini bertumpu pada upah tenaga kerja yang terjangkau dan bahan baku segar yang murah.
Memindahkan model ini ke negara maju adalah mimpi buruk logistik. Di London atau New York, biaya tenaga kerja dihitung per jam dengan tarif tinggi. Bayangkan biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar staf dapur guna mengupas bawang, memotong sayur, dan memasak 30 jenis lauk berbeda setiap pagi. Jika Warteg di luar negeri tetap mempertahankan metode “masak segar setiap hari” dengan variasi sebanyak itu, harga jual per porsi akan melonjak drastis, menghilangkan identitas “kerakyatan” yang menjadi jiwa Warteg.
Sebagai perbandingan, jaringan restoran cepat saji global (dan bahkan restoran Thailand yang sukses melalui program Global Thai) beroperasi dengan menu terbatas dan penggunaan central kitchen (dapur pusat) yang memproduksi bumbu atau lauk setengah jadi dalam skala industri. Hingga saat ini, industrialisasi bumbu Warteg—mengubah sayur lodeh atau balado menjadi paket ready-to-cook yang terstandarisasi untuk ekspor—belum tergarap secara serius.
Kalah Langkah dari Nasi Padang?
Ironisnya, saat Warteg masih berkutat mencari format global, “saudara” kulinernya, Nasi Padang, justru melesat lebih dulu. Fenomena restoran Payakumbuah milik Arief Muhammad menjadi antitesis dari stagnasi Warteg. Dengan memosisikan diri sebagai kuliner premium dan otentik, Payakumbuah berani membidik pasar Jepang dan Singapura.
Masakan Padang memiliki keunggulan komparatif di pasar global: profil rasa rempah yang kuat dan persepsi sebagai “hidangan pesta” yang membenarkan harga premium. Rendang bisa dijual mahal di Eropa, sementara Orek Tempe dan Sayur Asem masih sulit lepas dari persepsi “makanan murah”. Selain itu, dukungan perbankan seperti BNI Diaspora Loan baru-baru ini lebih banyak mengalir ke restoran Padang (seperti kasus Waroeng Padang Lapek di Den Haag) yang dinilai memiliki model bisnis lebih scalable di luar negeri dibandingkan Warteg konvensional.
Jalan Terjal ke Depan
Bagi Mukroni, Sayudi, dan ribuan pengusaha Warteg, satu dekade ini memberikan pelajaran berharga. Menguasai pasar domestik dengan ratusan gerai adalah prestasi monumental, namun go global membutuhkan lebih dari sekadar semangat. Ia membutuhkan transformasi radikal: penyederhanaan menu, teknologi pengawetan makanan (retort packaging) untuk distribusi bumbu lintas negara, dan intervensi pemerintah yang nyata dalam memodali riset pasar—bukan sekadar seremonial pelepasan ekspor.
Tanpa perubahan strategi dari sekadar “memindahkan warung” menjadi “mengekspor sistem dan rasa”, Warteg Kharisma Bahari mungkin akan tetap menjadi raja yang tak tergoyahkan di Jabodetabek, namun visi Mukroni tentang diplomasi Warteg di menara gading dunia akan tetap menjadi mimpi yang tertunda. By Mukroni
- Berita Terkait :
Menanti Warteg ‘Naik Kelas’: Tantangan Membawa Menu Rp 15 Ribuan ke Lidah Konsumen Internasional
Keren !, Sejumlah Alumni UB Mendirikan Koperasi dan Warteg Sahabat di Kota Malang
Ternyata Warteg Sahabat KOWATAMI Memakai Sistem Kasir Online
Ternyata Warteg Sahabat Berada di Bawah Naungan Koperasi Warung Sahabat Madani
Wow Keren !, Makan Gratis di Warteg Sahabat Untuk Penghafal Surat Kahfi di Hari Minggu
Warteg Sahabat Satu-Satunya Warteg Milenial di Kota Malang dengan Wifi
Warteg Sahabat Menawarkan Warteg Gaya Milenial untuk Kota Malang dan Sekitarnya
Republik Bahari Mengepakan Sayap Warteg ala Café di Cilandak Jakarta Selatan
Promo Gila Gilaan Di Grand Opening Rodjo Duren Cirendeu.
Pelanggan Warteg di Bekasi dan Bogor Kecewa, Menu Jengkol Hilang
KOWARTAMI Membuka Lagi Gerai Warteg Republik Bahari ke-5 di MABES Jakarta Barat
Ternyata Nasi Padang Ada yang Harganya Lebih Murah dari Warteg, Apa benar ?
Menikmati Menu Smoothies Buah Naga Di Laloma Cafe Majalengka
Ternyata Tidak Jauh Dari Jakarta, Harga Nasi Padang Per Porsinya Rp 120 Ribu
Ketika Pedagang Warteg Menanyakan Syarat Mendapatkan Satu Juta Kuota Sertifikasi Halal Gratis
Warteg Republik Bahari Di Bawah Kowartami Mulai Berkibar Di Penghujung Pandemi
Curhat Pemilik Warung Seafood Bekasi Ketika Omsetnya Belum Beranjak Naik
Trending Di Twitter, Ternyata Mixue Belum Mendapat Sertifikat Halal Dari BPJPH Kementerian Agama
Megenal Lebih Dekat Apapun Makanannya Teh Botol Sosro Minumannya, Cikal Bakalnya Dari Tegal
Kowartami Resmikan Warteg Republik Bahari Cabang Ke-4 Di Salemba Jakarta Pusat
Natal Di Jepang, Kentucky Fried Chicken (KFC) Salah Satu Makanan Favorit
Pedagang Warteg Semakin Sulit Harga Beras Naik
Yabie Cafe Tempat Bersantai Kekinian di Kranji Bekasi
Nongkrong Sambil Mencicip Surabi dengan Beragam Topping di Bandung
Gurihnya Coto Makassar Legendaris di Air Mancur Bogor, Yuk ke Sana

