• Kam. Jan 22nd, 2026

KowantaraNews

Kowantara News: Berita tajam, warteg jaya, UMKM tak terjajah!

Dari Politik ke Meja Makan: Galette des Rois Jadi Ikon Baru Perayaan 75 Tahun Hubungan RI-Perancis

ByAdmin

Jan 22, 2026
Kue khas Perancis, ”galette des rois” dipamerkan di Kedutaan Besar Perancis, Jakarta, Senin (12/1/2026).KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com – Tahun 2026 bukan sekadar angka dalam kalender diplomatik bagi Jakarta dan Paris. Tahun ini menandai tonggak sejarah monumental: 75 tahun hubungan bilateral antara Republik Indonesia dan Republik Perancis. Di tengah riuh rendah pertemuan tingkat tinggi dan penguatan Kemitraan Strategis yang menyasar cakrawala tahun 2050, sebuah elemen diplomasi yang lebih lunak namun memikat muncul di meja makan, bukan di meja perundingan. Elemen itu adalah Galette des Rois, atau Kue Para Raja, yang kini didapuk menjadi simbol kehangatan persahabatan kedua negara.

Jika diplomasi politik sering kali terasa kaku dan berjarak, diplomasi kuliner (gastrodiplomacy) menawarkan bahasa universal yang bisa dinikmati siapa saja. Hal ini tecermin jelas pada malam peluncuran “Klub Galette des Rois Indonesia” di Wisma Perancis, Jakarta, pada Senin (12/1/2026). Acara ini tidak hanya dihadiri oleh Duta Besar Perancis untuk Indonesia, Fabien Penone, tetapi juga Menteri Pariwisata Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana, yang secara simbolis memotong kue raksasa sebagai tanda dimulainya musim perayaan kuliner ini.

Kehadiran Galette des Rois di Indonesia pada awal tahun 2026 memiliki momentum yang sangat strategis. Secara politik, kedua negara sedang berada pada fase intensifikasi hubungan. Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Emmanuel Macron telah menegaskan kembali komitmen mereka terhadap stabilitas global dan kerja sama yang setara, di mana Perancis memandang Indonesia sebagai mitra kunci di kawasan Indo-Pasifik. Namun, untuk menerjemahkan kedekatan politik ini ke tingkat masyarakat akar rumput (people-to-people contact), diperlukan jembatan budaya yang nyata. Di sinilah Galette des Rois mengambil peran vital.

Ritual, Kejutan, dan Filosofi Berbagi

Bagi yang awam, Galette des Rois mungkin terlihat seperti kue pai bundar biasa. Terbuat dari adonan puff pastry yang renyah dan bermentega, kue ini diisi dengan krim almond lembut yang disebut frangipane. Namun, daya tarik utamanya bukan sekadar pada rasa, melainkan pada ritual “permainan” yang menyertainya.

Di dalam setiap loyang kue, tersembunyi sebuah objek kecil yang disebut fève. Dahulu, objek ini berupa kacang fava, namun kini telah berevolusi menjadi figurin porselen dengan berbagai bentuk menarik. Tradisinya sederhana namun penuh makna: siapa pun yang menemukan fève di dalam potongan kuenya akan dinobatkan sebagai “Raja” atau “Ratu” hari itu dan berhak mengenakan mahkota kertas emas.

Ramon Medina, jurutama masak dari Levant Boulangerie sekaligus Ketua Klub Galette des Rois Indonesia, menjelaskan bahwa tradisi ini mengajarkan nilai-nilai luhur. “Orang bisa menjadi raja atau ratu, tetapi dengan satu syarat: mereka harus menyediakan galette berikutnya. Ini adalah pelajaran indah tentang harmoni, berbagi, dan pembagian, yang sangat relevan di negeri ini (Indonesia), di mana kerukunan dan rasa kebersamaan sangat kuat,” ujar Medina.

Ada pula tradisi unik yang melibatkan anak-anak dalam pembagian kue ini. Untuk memastikan keadilan dan mencegah kecurangan, anak yang paling kecil biasanya diminta bersembunyi di bawah meja. Dari sana, tanpa melihat kue, ia akan meneriakkan nama anggota keluarga yang berhak menerima setiap potongan yang baru diiris. Nilai kejujuran dan kegembiraan inilah yang ingin ditularkan Perancis kepada masyarakat Indonesia.

Ekonomi Gastronomi: Dari Paris ke Jakarta, Yogyakarta, dan Bali

Inisiatif pembentukan “Klub Galette des Rois” bukan sekadar seremonial belaka, melainkan langkah strategis untuk melembagakan kuliner Perancis di ekosistem bisnis Indonesia. Di negara asalnya, antusiasme terhadap kue ini sangat masif, dengan catatan penjualan mencapai 60 juta loyang setiap tahunnya selama bulan Januari. Membawa tradisi ini ke Indonesia berarti membuka peluang ekonomi baru bagi industri bakery dan pastry lokal.

Klub yang baru diresmikan ini telah menggandeng 18 anggota perintis yang terdiri dari restoran, kafe, dan hotel. Persebarannya tidak hanya terpusat di Jakarta yang memiliki 14 lokasi, tetapi juga merambah ke Yogyakarta dan Bali. Hal ini menunjukkan bahwa diplomasi kuliner Perancis berusaha menjangkau audiens yang lebih luas, dari pusat pemerintahan hingga pusat pariwisata dan budaya.

Para juru masak yang tergabung dalam klub ini, seperti Ramon Medina, berupaya menyajikan rasa yang autentik dengan tetap menghormati ketersediaan bahan lokal. Medina mengungkapkan bahwa meskipun ia mendatangkan mentega khusus dari Perancis untuk menjaga cita rasa khas, bahan-bahan dasar lain seperti tepung dan gula dapat diperoleh dengan mudah di Indonesia tanpa kendala. Ini adalah bentuk nyata dari kolaborasi rantai pasok yang mendukung ekonomi kedua negara.

Simbol Demokrasi di Balik “Kue Raja”

Menarik untuk dicatat bahwa di balik nama “Kue Raja”, terdapat sejarah politik yang panjang yang beriringan dengan perkembangan demokrasi di Perancis. Selama masa Revolusi Perancis, ketika sentimen anti-monarki memuncak, nama kue ini sempat diubah menjadi Gâteau de l’Egalité atau “Kue Kesetaraan” karena penggunaan kata “Raja” dianggap tidak pantas.

Gastrodiplomasi di Piring Saji: Strategi Indonesia Menaklukkan Hati Dunia Lewat Cita Rasa

Hingga hari ini, sebuah protokol unik masih berlaku di Istana Kepresidenan Perancis (Elysée). Meskipun kue raksasa berukuran 1,2 meter disajikan setiap tahun untuk Presiden, juru masak istana dilarang keras memasukkan fève ke dalamnya. Alasannya sarat makna simbolis: dalam sebuah Republik, tidak boleh ada “Raja”, bahkan dalam bentuk permainan sekalipun.

Kini, di tahun 2026, ketika Indonesia dan Perancis merayakan 75 tahun hubungan yang dilandasi prinsip saling menghormati, Galette des Rois hadir dengan makna baru. Ia bukan lagi sekadar kue perayaan Epifani atau simbol monarki masa lalu, melainkan medium kontemporer untuk merayakan persahabatan, kolaborasi ekonomi, dan kegembiraan sederhana di meja makan. Melalui sepotong kue ini, diplomasi terasa lebih renyah, manis, dan tentunya, manusiawi. By Mukroni

  • Berita Terkait :

Gastrodiplomasi di Piring Saji: Strategi Indonesia Menaklukkan Hati Dunia Lewat Cita Rasa

Satu Dekade Visi Mukroni: Warteg Kharisma Bahari Kuasai Jabodetabek, Namun Masih ‘Jago Kandang’ di Kancah Global

Diplomasi Bumbu: Mengapa Indonesia Masih Mengekspor Bahan Mentah ke Kompetitor Kuliner Thailand dan Vietnam?

Melawan Hegemoni Thai Select: Perjuangan Restoran Diaspora Indonesia Bertahan di Tengah Ketatnya Pasar Kuliner Hong Kong

Menanti Warteg ‘Naik Kelas’: Tantangan Membawa Menu Rp 15 Ribuan ke Lidah Konsumen Internasional

10 Saran KOWANTARA bagi Warteg Apabila ada Pelanggan Mengeluarkan Kata-Kata Merendahkan seperti Bodoh dan Tolol

Keren !, Sejumlah Alumni UB Mendirikan Koperasi dan Warteg Sahabat di Kota Malang

Ternyata Warteg Sahabat KOWATAMI Memakai Sistem Kasir Online

Ternyata Warteg Sahabat Berada di Bawah Naungan Koperasi Warung Sahabat Madani

Wow Keren !, Makan Gratis di Warteg Sahabat Untuk Penghafal Surat Kahfi di Hari Minggu

Warteg Sahabat Satu-Satunya Warteg Milenial di Kota Malang dengan Wifi

Warteg Sahabat Menawarkan Warteg Gaya Milenial untuk Kota Malang dan Sekitarnya

Republik Bahari Mengepakan Sayap Warteg ala Café di Cilandak Jakarta Selatan

Promo Gila Gilaan Di Grand Opening Rodjo Duren Cirendeu.

Pelanggan Warteg di Bekasi dan Bogor Kecewa, Menu Jengkol Hilang

KOWARTAMI Membuka Lagi Gerai Warteg Republik Bahari ke-5 di MABES Jakarta Barat

Ternyata Nasi Padang Ada yang Harganya Lebih Murah dari Warteg, Apa benar ?

Menikmati Menu Smoothies Buah Naga Di Laloma Cafe Majalengka 

Ternyata Tidak Jauh Dari Jakarta, Harga Nasi Padang Per Porsinya Rp 120 Ribu

Ketika Pedagang Warteg Menanyakan Syarat Mendapatkan Satu Juta Kuota Sertifikasi Halal Gratis

Warteg Republik Bahari Di Bawah Kowartami Mulai Berkibar Di Penghujung Pandemi

Curhat Pemilik Warung Seafood Bekasi Ketika Omsetnya Belum Beranjak Naik

Trending Di Twitter, Ternyata Mixue Belum Mendapat Sertifikat Halal Dari BPJPH Kementerian Agama

Megenal Lebih Dekat Apapun Makanannya Teh Botol Sosro Minumannya, Cikal Bakalnya Dari Tegal

Kowartami  Resmikan  Warteg  Republik  Bahari Cabang Ke-4 Di Salemba Jakarta Pusat

Natal Di Jepang, Kentucky Fried Chicken (KFC) Salah Satu Makanan Favorit

Pedagang Warteg Semakin Sulit Harga Beras Naik

Yabie Cafe Tempat Bersantai Kekinian di Kranji Bekasi

Nongkrong Sambil Mencicip Surabi dengan Beragam Topping di Bandung

Gurihnya Coto Makassar Legendaris di Air Mancur Bogor, Yuk ke Sana

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *