Jakarta, Kowantaranews.com – Di balik etalase kaca yang memajang tumpukan lauk pauk sederhana di sudut-sudut ibu kota, tersimpan sebuah epik sejarah yang nyaris terlupakan. Warung Tegal (Warteg), yang kini dikenal sebagai penyelamat perut kaum urban, ternyata memiliki garis keturunan langsung dari strategi militer Kesultanan Mataram saat menggempur VOC di Batavia pada abad ke-17. Narasi ini bukan sekadar cerita rakyat, melainkan jejak logistik perang yang bertransformasi menjadi warisan budaya.
Jejak ini bermula pada tahun 1628, ketika Sultan Agung Hanyokrakusumo melancarkan serangan masif untuk mengusir Belanda dari Batavia. Dalam kampanye militer ini, wilayah Tegal memegang peran vital sebagai pusat logistik. Sosok Kyai Rangga, yang dalam historiografi lokal dicatat sebagai Bupati Tegal atau pejabat tinggi logistik kala itu, mengemban tugas berat: memberi makan ribuan prajurit “Bahureksa” yang bergerak menuju medan laga.
Namun, sejarah mencatat sebuah tragedi. Mengetahui konsentrasi logistik ini, armada VOC melakukan sabotase brutal dengan membakar lumbung-lumbung padi di pelabuhan Tegal dan Cirebon. Kehancuran suplai ini memaksa Kyai Rangga dan pasukannya berinovasi demi kelangsungan hidup (survival). Dari situasi terjepit inilah lahir teknik pengawetan makanan yang kini menjadi ikon Warteg: Orek Tempe dan Telur Asin.
Tempe, yang sudah dikenal dalam Serat Centhini era Mataram , dimasak kering dengan bumbu manis agar tahan berhari-hari tanpa basi di medan tropis. Sementara itu, telur diasinkan agar protein tetap terjaga tanpa pendingin. “Menu Warteg sejatinya adalah ransum perang. Itu adalah makanan fungsional yang didesain untuk kepraktisan dan daya tahan, bukan sekadar cita rasa,” ungkap para pemerhati sejarah lokal.
Kegagalan pengepungan Batavia menyisakan ribuan prajurit Mataram yang enggan atau tidak bisa kembali ke Yogyakarta karena takut akan hukuman atas kegagalan misi. Mereka, di bawah naungan Kyai Rangga dan sisa komandan lainnya, memilih menetap dan membaur dengan penduduk lokal di desa-desa seperti Sidakaton dan Sidapurna. Para mantan prajurit elite ini beralih profesi dari memegang tombak menjadi mengolah tanah dan dapur.
Dari Politik ke Meja Makan: Galette des Rois Jadi Ikon Baru Perayaan 75 Tahun Hubungan RI-Perancis
Ratusan tahun kemudian, pada era 1950-an, ketika Presiden Sukarno mulai membangun Jakarta (dahulu Batavia), keturunan dari “pasukan yang tertinggal” ini kembali ke kota yang dulu gagal mereka taklukkan. Bukan dengan senjata, melainkan dengan panci dan wajan. Warga Sidakaton dan Sidapurna bermigrasi membawa resep leluhur mereka untuk melayani para pekerja bangunan di ibu kota.
Kini, Warteg telah menjadi institusi sosial yang tak terpisahkan dari Indonesia. Kisah Kyai Rangga mengajarkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal agrikultur, tetapi juga tentang kreativitas di tengah krisis. Sepiring nasi ponggol atau orek tempe hari ini adalah monumen sunyi dari perjuangan leluhur Tegal—sebuah bukti bahwa sisa-sisa kekalahan perang dapat bermetamorfosis menjadi kemenangan ekonomi yang abadi. By Mukroni
- Berita Terkait :
Dari Politik ke Meja Makan: Galette des Rois Jadi Ikon Baru Perayaan 75 Tahun Hubungan RI-Perancis
Gastrodiplomasi di Piring Saji: Strategi Indonesia Menaklukkan Hati Dunia Lewat Cita Rasa
Menanti Warteg ‘Naik Kelas’: Tantangan Membawa Menu Rp 15 Ribuan ke Lidah Konsumen Internasional
Keren !, Sejumlah Alumni UB Mendirikan Koperasi dan Warteg Sahabat di Kota Malang
Ternyata Warteg Sahabat KOWATAMI Memakai Sistem Kasir Online
Ternyata Warteg Sahabat Berada di Bawah Naungan Koperasi Warung Sahabat Madani
Wow Keren !, Makan Gratis di Warteg Sahabat Untuk Penghafal Surat Kahfi di Hari Minggu
Warteg Sahabat Satu-Satunya Warteg Milenial di Kota Malang dengan Wifi
Warteg Sahabat Menawarkan Warteg Gaya Milenial untuk Kota Malang dan Sekitarnya
Republik Bahari Mengepakan Sayap Warteg ala Café di Cilandak Jakarta Selatan
Promo Gila Gilaan Di Grand Opening Rodjo Duren Cirendeu.
Pelanggan Warteg di Bekasi dan Bogor Kecewa, Menu Jengkol Hilang
KOWARTAMI Membuka Lagi Gerai Warteg Republik Bahari ke-5 di MABES Jakarta Barat
Ternyata Nasi Padang Ada yang Harganya Lebih Murah dari Warteg, Apa benar ?
Menikmati Menu Smoothies Buah Naga Di Laloma Cafe Majalengka
Ternyata Tidak Jauh Dari Jakarta, Harga Nasi Padang Per Porsinya Rp 120 Ribu
Ketika Pedagang Warteg Menanyakan Syarat Mendapatkan Satu Juta Kuota Sertifikasi Halal Gratis
Warteg Republik Bahari Di Bawah Kowartami Mulai Berkibar Di Penghujung Pandemi
Curhat Pemilik Warung Seafood Bekasi Ketika Omsetnya Belum Beranjak Naik
Trending Di Twitter, Ternyata Mixue Belum Mendapat Sertifikat Halal Dari BPJPH Kementerian Agama
Megenal Lebih Dekat Apapun Makanannya Teh Botol Sosro Minumannya, Cikal Bakalnya Dari Tegal
Kowartami Resmikan Warteg Republik Bahari Cabang Ke-4 Di Salemba Jakarta Pusat
Natal Di Jepang, Kentucky Fried Chicken (KFC) Salah Satu Makanan Favorit
Pedagang Warteg Semakin Sulit Harga Beras Naik
Yabie Cafe Tempat Bersantai Kekinian di Kranji Bekasi
Nongkrong Sambil Mencicip Surabi dengan Beragam Topping di Bandung
Gurihnya Coto Makassar Legendaris di Air Mancur Bogor, Yuk ke Sana

