• Ming. Jan 25th, 2026

KowantaraNews

Kowantara News: Berita tajam, warteg jaya, UMKM tak terjajah!

Bukan Sekadar Nasi Rames: Ternyata Warteg Lahir dari Sisa Pasukan Elite Mataram Melawan VOC

ByAdmin

Jan 24, 2026
Ilustrasi Warteg Sukses jadi jago kandang di Jabodetabek, visi global belum terwujud (Gambar Kowantaranews)
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com – Di balik etalase kaca yang memajang tumpukan lauk pauk sederhana di sudut-sudut ibu kota, tersimpan sebuah epik sejarah yang nyaris terlupakan. Warung Tegal (Warteg), yang kini dikenal sebagai penyelamat perut kaum urban, ternyata memiliki garis keturunan langsung dari strategi militer Kesultanan Mataram saat menggempur VOC di Batavia pada abad ke-17. Narasi ini bukan sekadar cerita rakyat, melainkan jejak logistik perang yang bertransformasi menjadi warisan budaya.

Jejak ini bermula pada tahun 1628, ketika Sultan Agung Hanyokrakusumo melancarkan serangan masif untuk mengusir Belanda dari Batavia. Dalam kampanye militer ini, wilayah Tegal memegang peran vital sebagai pusat logistik. Sosok Kyai Rangga, yang dalam historiografi lokal dicatat sebagai Bupati Tegal atau pejabat tinggi logistik kala itu, mengemban tugas berat: memberi makan ribuan prajurit “Bahureksa” yang bergerak menuju medan laga.

Namun, sejarah mencatat sebuah tragedi. Mengetahui konsentrasi logistik ini, armada VOC melakukan sabotase brutal dengan membakar lumbung-lumbung padi di pelabuhan Tegal dan Cirebon. Kehancuran suplai ini memaksa Kyai Rangga dan pasukannya berinovasi demi kelangsungan hidup (survival). Dari situasi terjepit inilah lahir teknik pengawetan makanan yang kini menjadi ikon Warteg: Orek Tempe dan Telur Asin.

Tempe, yang sudah dikenal dalam Serat Centhini era Mataram , dimasak kering dengan bumbu manis agar tahan berhari-hari tanpa basi di medan tropis. Sementara itu, telur diasinkan agar protein tetap terjaga tanpa pendingin. “Menu Warteg sejatinya adalah ransum perang. Itu adalah makanan fungsional yang didesain untuk kepraktisan dan daya tahan, bukan sekadar cita rasa,” ungkap para pemerhati sejarah lokal.

Kegagalan pengepungan Batavia menyisakan ribuan prajurit Mataram yang enggan atau tidak bisa kembali ke Yogyakarta karena takut akan hukuman atas kegagalan misi. Mereka, di bawah naungan Kyai Rangga dan sisa komandan lainnya, memilih menetap dan membaur dengan penduduk lokal di desa-desa seperti Sidakaton dan Sidapurna. Para mantan prajurit elite ini beralih profesi dari memegang tombak menjadi mengolah tanah dan dapur.

Dari Politik ke Meja Makan: Galette des Rois Jadi Ikon Baru Perayaan 75 Tahun Hubungan RI-Perancis

Ratusan tahun kemudian, pada era 1950-an, ketika Presiden Sukarno mulai membangun Jakarta (dahulu Batavia), keturunan dari “pasukan yang tertinggal” ini kembali ke kota yang dulu gagal mereka taklukkan. Bukan dengan senjata, melainkan dengan panci dan wajan. Warga Sidakaton dan Sidapurna bermigrasi membawa resep leluhur mereka untuk melayani para pekerja bangunan di ibu kota.

Kini, Warteg telah menjadi institusi sosial yang tak terpisahkan dari Indonesia. Kisah Kyai Rangga mengajarkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal agrikultur, tetapi juga tentang kreativitas di tengah krisis. Sepiring nasi ponggol atau orek tempe hari ini adalah monumen sunyi dari perjuangan leluhur Tegal—sebuah bukti bahwa sisa-sisa kekalahan perang dapat bermetamorfosis menjadi kemenangan ekonomi yang abadi. By Mukroni

  • Berita Terkait :

Dari Politik ke Meja Makan: Galette des Rois Jadi Ikon Baru Perayaan 75 Tahun Hubungan RI-Perancis

Gastrodiplomasi di Piring Saji: Strategi Indonesia Menaklukkan Hati Dunia Lewat Cita Rasa

Satu Dekade Visi Mukroni: Warteg Kharisma Bahari Kuasai Jabodetabek, Namun Masih ‘Jago Kandang’ di Kancah Global

Diplomasi Bumbu: Mengapa Indonesia Masih Mengekspor Bahan Mentah ke Kompetitor Kuliner Thailand dan Vietnam?

Melawan Hegemoni Thai Select: Perjuangan Restoran Diaspora Indonesia Bertahan di Tengah Ketatnya Pasar Kuliner Hong Kong

Menanti Warteg ‘Naik Kelas’: Tantangan Membawa Menu Rp 15 Ribuan ke Lidah Konsumen Internasional

10 Saran KOWANTARA bagi Warteg Apabila ada Pelanggan Mengeluarkan Kata-Kata Merendahkan seperti Bodoh dan Tolol

Keren !, Sejumlah Alumni UB Mendirikan Koperasi dan Warteg Sahabat di Kota Malang

Ternyata Warteg Sahabat KOWATAMI Memakai Sistem Kasir Online

Ternyata Warteg Sahabat Berada di Bawah Naungan Koperasi Warung Sahabat Madani

Wow Keren !, Makan Gratis di Warteg Sahabat Untuk Penghafal Surat Kahfi di Hari Minggu

Warteg Sahabat Satu-Satunya Warteg Milenial di Kota Malang dengan Wifi

Warteg Sahabat Menawarkan Warteg Gaya Milenial untuk Kota Malang dan Sekitarnya

Republik Bahari Mengepakan Sayap Warteg ala Café di Cilandak Jakarta Selatan

Promo Gila Gilaan Di Grand Opening Rodjo Duren Cirendeu.

Pelanggan Warteg di Bekasi dan Bogor Kecewa, Menu Jengkol Hilang

KOWARTAMI Membuka Lagi Gerai Warteg Republik Bahari ke-5 di MABES Jakarta Barat

Ternyata Nasi Padang Ada yang Harganya Lebih Murah dari Warteg, Apa benar ?

Menikmati Menu Smoothies Buah Naga Di Laloma Cafe Majalengka 

Ternyata Tidak Jauh Dari Jakarta, Harga Nasi Padang Per Porsinya Rp 120 Ribu

Ketika Pedagang Warteg Menanyakan Syarat Mendapatkan Satu Juta Kuota Sertifikasi Halal Gratis

Warteg Republik Bahari Di Bawah Kowartami Mulai Berkibar Di Penghujung Pandemi

Curhat Pemilik Warung Seafood Bekasi Ketika Omsetnya Belum Beranjak Naik

Trending Di Twitter, Ternyata Mixue Belum Mendapat Sertifikat Halal Dari BPJPH Kementerian Agama

Megenal Lebih Dekat Apapun Makanannya Teh Botol Sosro Minumannya, Cikal Bakalnya Dari Tegal

Kowartami  Resmikan  Warteg  Republik  Bahari Cabang Ke-4 Di Salemba Jakarta Pusat

Natal Di Jepang, Kentucky Fried Chicken (KFC) Salah Satu Makanan Favorit

Pedagang Warteg Semakin Sulit Harga Beras Naik

Yabie Cafe Tempat Bersantai Kekinian di Kranji Bekasi

Nongkrong Sambil Mencicip Surabi dengan Beragam Topping di Bandung

Gurihnya Coto Makassar Legendaris di Air Mancur Bogor, Yuk ke Sana

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *