• Sab. Feb 14th, 2026

KowantaraNews

Kowantara News: Berita tajam, warteg jaya, UMKM tak terjajah!

Kowantara Desak Pemerintah Mitigasi “Fatalitas” Lonjakan Harga Pangan Jelang Ramadan 2026

ByAdmin

Feb 14, 2026
Sejumlah warga menyantap sajian yang dijual salah satu warung makan di Kemayoran, Jakarta, Senin (26/7/2021). Pemerintah menyesuaikan aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 pada pelaku usaha kuliner dengan mengizinkan warung makan, pedagang kaki lima, lapak jajanan dan sejenisnya untuk buka dengan protokol kesehatan yang ketat sampai dengan pukul 20.00, menerima maksimal pengunjung makan di tempat tiga orang dan waktu makan maksimal 20 menit. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com – Memasuki pertengahan Februari 2026, alarm tanda bahaya bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kuliner mulai berbunyi nyaring. Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara) secara resmi mendesak pemerintah untuk segera melakukan langkah mitigasi konkret guna meredam lonjakan harga pangan yang dinilai telah mencapai tingkat “fatalitas” tinggi. Lonjakan ini diprediksi bukan sekadar siklus tahunan biasa, melainkan akumulasi dari tekanan inflasi makro, gangguan distribusi akibat cuaca ekstrem, dan perubahan kebijakan subsidi energi.

Ketua Kowantara, Mukroni, mengungkapkan bahwa para pedagang warung tegal (warteg) saat ini berada dalam posisi terjepit. “Kalau menghadapi Ramadan ini sudah maklum, karena memang ada ritual kenaikan harga. Namun, kali ini fatalitasnya sangat tinggi,” ujarnya di Jakarta. Pernyataan ini didukung oleh data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) yang mencatat kenaikan signifikan pada komoditas pilar operasional warteg: beras, cabai rawit, bawang merah, dan minyak goreng.

Tekanan Harga di Ambang Batas Psikologis

Berdasarkan data harian per 12 Februari 2026, harga cabai rawit merah telah menembus angka Rp76.650 per kilogram, melonjak tajam sekitar 16,22% hanya dalam waktu sepuluh hari. Komoditas lain seperti bawang merah kini bertengger di level Rp44.000 hingga Rp50.000 per kilogram, melampaui Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah yang berada di rentang Rp36.500–Rp41.500. Tak ketinggalan, telur ayam ras ikut merangkak naik ke kisaran Rp31.350 hingga Rp33.850 per kilogram.

Bagi pedagang warteg, kenaikan ini adalah ancaman langsung terhadap keberlangsungan usaha. Mukroni menjelaskan bahwa dari sekitar 50.000 outlet warteg di wilayah Jabodetabek, mayoritas mulai melakukan langkah-langkah darurat. Untuk menyiasati mahalnya cabai, pedagang mulai mencampur penggunaan cabai dengan tomat guna menjaga rasa pedas tanpa harus menaikkan harga jual secara drastis. Selain itu, ukuran telur yang disajikan pun kini dipilih yang lebih kecil agar satu porsi makanan tetap terjangkau bagi pelanggan kelas menengah ke bawah [User Query].

Faktor Makro dan Dampak “Low Base Effect”

Situasi tahun 2026 diperumit oleh kondisi ekonomi makro. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan pada Januari 2026 mencapai 3,55%. Angka ini dipengaruhi oleh efek basis rendah (low base effect) tahun sebelumnya, di mana pada Januari 2025 pemerintah memberikan diskon tarif listrik sebesar 50% yang kini tidak lagi berlaku. Normalisasi tarif listrik ini menyebabkan kelompok pengeluaran perumahan dan energi memberikan andil inflasi yang besar, yang secara tidak langsung meningkatkan beban operasional warung.

Ditambah lagi, nilai tukar Rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.000 per US$ pada akhir Januari 2026 ikut memberikan tekanan pada biaya-biaya pendukung produksi. Lembaga riset bahkan memprediksi akumulasi kenaikan harga pangan menjelang Idul Fitri tahun ini bisa mencapai 132,21%.

Krisis Jalur Pantura dan Gangguan Pasokan

Gangguan pasokan dari daerah sentra produksi turut memperparah keadaan. Banjir dan tanah longsor di jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah, khususnya di Kudus dan Tegal, telah memutus jalur logistik utama menuju Jakarta. Di Kabupaten Kudus, banjir mengakibatkan potensi kerugian infrastruktur dan pertanian mencapai Rp533 miliar. Sementara di Kabupaten Tegal, bupati telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari sejak 3 hingga 16 Februari 2026 akibat bencana longsor dan banjir. Hal ini menyebabkan stok bawang merah dan cabai di pasar induk seperti Kramat Jati menjadi tidak stabil, yang pada akhirnya memicu volatilitas harga di tingkat pengecer.

Upaya Pemerintah dan Harapan UMKM

Merespons kondisi ini, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah menyiapkan sejumlah strategi. Salah satunya adalah penyaluran 1,5 juta ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) mulai Februari 2026. Di Jakarta, Perumda Pasar Jaya meningkatkan frekuensi pasar murah menjadi 500 kali sepanjang periode menjelang Ramadan, naik 100% dibandingkan tahun lalu.

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11%, Moody’s Justru Ubah Prospek Jadi Negatif

Pemerintah juga mengandalkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan anggaran Rp335 triliun sebagai instrumen stabilisasi. Kapasitas pembelian masif melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diharapkan dapat menjadi penyangga harga bagi petani sekaligus menekan lonjakan harga di pasar melalui manajemen rantai pasok yang lebih efisien. Selain itu, Satgas Saber Pangan telah dikerahkan ke 9.138 titik pemantauan untuk memastikan tidak ada pedagang yang menjual bahan pokok di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

Kowantara berharap langkah-langkah ini tidak hanya menjadi retorika di atas kertas, tetapi benar-benar terasa di pasar-pasar tradisional. Bagi Mukroni dan ribuan pemilik warteg lainnya, stabilitas harga pangan adalah kunci agar mereka tidak perlu “gulung tikar” di tengah bulan yang seharusnya membawa berkah. “Kita berdoa harga bisa stabil. Harapannya pemerintah benar-benar memitigasi dari sisi produksi dan distribusi secara konkret di lapangan,” tutupnya. By Mukroni

  • Berita Terkait :

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11%, Moody’s Justru Ubah Prospek Jadi Negatif

Paradoks Ekonomi Jakarta 2026: Di Balik Deflasi Januari, Beban Listrik dan Energi Justru Melonjak 9,71 Persen

Pemerintah Gelontorkan Stimulus Rp 12,83 Triliun untuk Jaga Daya Beli Jelang Lebaran 2026

OJK Siapkan 8 Rencana Aksi Reformasi Pasar Modal, Batas Free Float Resmi Naik Jadi 15 Persen

Benturan Oligarki vs Standar Global: Di Balik Mundurnya Petinggi OJK dan BEI

“Negara Leviathan Kembali: Saat Kritik Pangan Dibalas Gugatan Rp 200 Miliar dan Ancaman Pidana”

Impor Macet dan Stok Pemerintah Tipis, Bapanas dan Kemendag Didesak Ambil Langkah ‘Extraordinary’

Gejolak Awal Tahun: Alih Kelola Impor Pakan Ternak Picu Kelangkaan dan Lonjakan Harga

Target Operasional 2026 Terancam: Koperasi Merah Putih Terganjal Masalah Lahan dan Pembiayaan

Di Balik Surplus 2025: Krisis Iklim dan Bencana Mengintai Lumbung Pangan RI

Indonesia Raih Swasembada Beras 2025: Analisis Capaian, Surplus, dan Peta Jalan Ketahanan Pangan 2026

“Kepungan Bencana Hidrometeorologi dan El Nino 2026: Ujian Berat bagi Pertahanan Swasembada Pangan RI”

Bencana di Lumbung Pangan: Inflasi Desember Melonjak Akibat Gagal Panen di Aceh dan Sumut

Resolusi 2026: Dominasi Ekonomi dan Kecemasan Kelas Menengah yang Kian Terhimpit

Paradoks Pasar Kerja 2026: Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Penciptaan Lapangan Kerja dan Dampak Distorsi Kebijakan Nasional

Paradoks Pangan Akhir 2025: Stok Nasional Pecah Rekor, Harga Beras di Pedalaman Papua Tembus Rp50.000

Geliat Ekonomi di Wilayah Ekstrem: Sukses Hortikultura NTT dan Adaptasi Wisata Merapi

Tinjauan Akhir Tahun 2025: Antara Kilau Komoditas, Belanja Cerdas AI, dan Tekanan Daya Beli

Perbankan Pastikan Ketersediaan Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Nataru 2025

Alarm Ekonomi: Rupiah Tembus Rp 16.700, Sinyal Bahaya Berlanjut hingga 2026

Butuh Setahun untuk Pulihkan Mata Pencarian Petani Padi di Sumatra

Ironi Negeri Kelapa: Ekspor Melambung 143%, Rakyat Tercekik Kenaikan Harga dan Kelangkaan Pasokan

Pemerintah dan Swasta Bersinergi, Targetkan 1,1 Juta UMKM Naik Kelas Pasca-Kunjungan UNSGSA

Mulai Hari Ini! Kereta Petani & Pedagang Rp3.000 Bisa Bawa 2 Koli Sayur-Buah

UMKM Masih Sulit Masuk Stasiun & Bandara, Sewa Mahal Jadi Biang Kerok

Resmi: Bentuk Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Cairkan Dana Desa Tahap II

“Malu Makan Tempe Impor!” Titiek Soeharto Sentil Ketergantungan 90% Kedelai dari AS

Indonesia Terancam Impor 2,9 Juta Ton Kedelai di 2026 gara-gara Makan Bergizi Gratis

Libur Natal & Tahun Baru Makin Hemat: Tiket Pesawat, Kereta, Kapal & Penyeberangan Didiskon Besar

UMKM Dapat Kepastian Pajak 0,5% Selamanya, Tapi Usaha Besar Tak Bisa Lagi “Ngumpet”

Warteg Online: Nasi Orek Tempe UMKM vs. Menu Impor Shopee, Lazada, dan TikTok Shop

Rupiah Goyang, Defisit Melebar: APBN 2025 Tetap Santai kayak di Warteg!

IHSG Ngebut ke 7.300: Cuan di Pasar, Makan di Warteg Tetap Enak!

Gas 3 Kg Satu Harga: Warteg Tetap Ngegas, Harga Tabung Nggak Bikin Mewek!

Impor Longgar, Waralaba Ngacir: Ekonomi RI Siap Gebrak dari Warteg!

Gig Economy: Bekerja Bebas, Tapi Jangan Sampai ‘Bebas’ dari Perlindungan Seperti Warteg Tanpa Lauk!

Indonesia-Rusia Kolplay Digital: 5G Ngegas, Warteg Go Online, Tapi Awas Jangan Kejebak Vodka Virtual!

Rupiah Goyang, Minyak Melayang: Warteg Tetap Jualan, Tapi Porsi Menciut!

Gula Manis di 2025: Warteg Senyum, Harga Tetap, Tapi Gula Ilegal Bikin Was-was!

TikTok Beli Tokopedia: KPPU Kasih PR Biar Gak Jadi ‘Raja Monopoli’ di Warteg Digital!

Dari Karyawan Kena PHK ke Ojol TikTok: Ngegas di Jalan, Ngevlog di Layar, Makan di Warteg!

Sawit Dunia Lagi Susah, Warteg Tetap Jualan Tempe dengan Percaya Diri!

Sawit Dijegal, Kedelai Meroket: Warteg Cuma Bisa Jual Telur Ceplok?

Sawit Susah Masuk Eropa, Warteg Tetap Jual Gorengan Tempe!

Warteg vs Nimbus: Orek Tempe Tetap Juara, Masker Jadi Pelengkap!

Bank Dunia Bikin Panik: 194 Juta Orang Indonesia Jadi ‘Miskin’, Warteg Jadi Penutup atau Penutup Dompet?

Beras Naik, Dompet Menjerit: Tarif AS, Krisis Jepang, dan Warteg Nusantara Ketar-Ketir!

Ekonomi RI 2025: Ngegas 5,2%, Rem Kepencet Jadi 4,7%, Warteg Tetap Jadi Penolong Daya Beli!

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *