Jakarta, Kowantaranews.com – Sudah satu dekade berlalu sejak Mukroni, Ketua Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara), melontarkan visi besarnya pada tahun 2015: menjadikan Warung Tegal (Warteg) sebagai ujung tombak diplomasi kuliner Indonesia di kancah global. Visi ini sederhana namun bertenaga, membayangkan kuliner rakyat yang menghidupi jutaan pekerja di Jakarta dan sekitarnya dapat dinikmati oleh warga London, New York, atau Tokyo. Namun, menjelang tahun 2025, realitas di lapangan menunjukkan bahwa “naik kelas”-nya Warteg ke panggung dunia menghadapi tembok tebal, bukan sekadar masalah rasa, melainkan benturan keras antara model bisnis subsisten dengan kejamnya struktur biaya pasar internasional.
Di dalam negeri, transformasi Warteg sebenarnya telah mencapai titik yang mengesankan. Fenomena Warteg Kharisma Bahari (WKB) dan brand-brand franchise warteg lainnya seperti jamur tumbuh di musim hujan adalah bukti nyata keberhasilan modernisasi lokal. Dengan sistem waralaba yang rapi, WKB dan brand lainnya berhasil mengubah citra warteg dari warung kumuh menjadi gerai bersih dengan keramik dinding cerah, pencahayaan terang, dan manajemen terpusat. Hingga kini, jaringan brand-brand franchise warteg ini telah memiliki lebih dari ribuan gerai yang tersebar di Jabodetabek. Namun, keberhasilan “merajai kandang” ini belum mampu diterjemahkan menjadi ekspansi global yang masif.
Tantangan utamanya terletak pada esensi Warteg itu sendiri: harga murah. Di Jakarta, pelanggan bisa mendapatkan nasi, sayur, dan lauk sederhana dengan kisaran Rp 10.000 hingga Rp 15.000. Model bisnis ini bertumpu pada volume penjualan tinggi dengan margin tipis, serta biaya tenaga kerja yang sangat rendah. Memindahkan model ini ke negara maju seperti Amerika Serikat atau Inggris adalah mimpi buruk logistik dan finansial. Di negara-negara tersebut, komponen biaya terbesar bukanlah bahan baku, melainkan sewa tempat dan upah tenaga kerja. Menyajikan 20 hingga 30 menu lauk yang berbeda setiap hari—seperti yang lazim di Warteg—membutuhkan proses persiapan (prep work) yang sangat intensif tenaga kerja. Jika diterapkan di London dengan standar upah minimum setempat, harga sepiring “Nasi Warteg” bisa melonjak hingga £15-£20 (sekitar Rp 300.000-Rp 400.000), menghilangkan identitas “murah” yang menjadi jiwa dari jenama Warteg itu sendiri.
Di sinilah letak perbedaan strategi yang mencolok dengan Thailand. Negeri Gajah Putih tersebut telah menyadari hambatan ini sejak dua dekade lalu melalui program “Global Thai”. Pemerintah Thailand tidak membiarkan pengusahanya bertarung sendirian dengan modal cekak. Melalui Export-Import Bank of Thailand, negara menyediakan skema pinjaman hingga USD 3 juta (sekitar Rp 45 miliar) bagi warganya yang ingin membuka restoran di luar negeri. Lebih cerdas lagi, mereka menciptakan prototipe restoran siap pakai, salah satunya model “Elephant Jump”, sebuah konsep fast-casual dengan menu terbatas (sekitar USD 5-10) yang dirancang khusus untuk efisiensi tinggi, mirip dengan apa yang seharusnya dilakukan Warteg jika ingin go international.
Sebaliknya, dukungan bagi kuliner Indonesia masih bersifat sporadis. Meskipun program Indonesia Spice Up the World (ISUTW) menargetkan aktivasi 4.000 restoran di luar negeri pada tahun 2024, realisasinya sering kali terbentur masalah logistik rantai pasok bumbu yang belum efisien dan minimnya akses permodalan skala besar. Bantuan perbankan mulai mengalir, seperti BNI Diaspora Loan yang mengucurkan kredit sekitar Rp 3,9 miliar untuk Waroeng Padang Lapek di Belanda, namun skema ini umumnya menyasar bisnis yang sudah mapan, bukan “start-up” warteg baru yang agresif.
Ironisnya, ketika Warteg masih berjuang mencari format globalnya, Masakan Padang justru melesat lebih dulu. Jaringan restoran Payakumbuah milik pemengaruh Arief Muhammad, misalnya, secara agresif membidik pasar Jepang dan Singapura dengan menonjolkan citra premium dan otentisitas rasa. Masakan Padang memiliki keunggulan komparatif: profil rasa rempah yang kuat dan persepsi sebagai “hidangan pesta” yang membenarkan harga jual tinggi di mata konsumen asing, berbeda dengan persepsi Warteg sebagai “makanan harian pekerja”.
Kisah sukses diaspora Indonesia yang membuka Warteg di luar negeri, seperti Nuriye Oruç di Turki, memang ada dan inspiratif. Bermula dari berjualan daring, ia berhasil membuka gerai fisik di Istanbul. Namun, kisah-kisah ini murni buah ketangguhan individu (survival mode), bukan hasil dari sebuah desain strategi negara yang sistematis seperti Thailand.
Bagi Mukroni dan ribuan pengusaha Warteg lainnya, tantangan ke depan bukan lagi sekadar menjaga resep orek tempe agar tetap enak. Tantangannya adalah bagaimana melakukan rekayasa ulang model bisnis: menyederhanakan menu untuk efisiensi, menstandarisasi bumbu melalui dapur pusat (central kitchen), dan yang terpenting, mendapatkan dukungan “diplomasi buku cek” dari pemerintah. Tanpa suntikan modal yang berani dan strategi branding yang mengubah persepsi dari “murah” menjadi “eksotis dan efisien”, menu Rp 15 ribuan itu mungkin akan tetap menjadi raja di Jakarta, namun hanya menjadi tamu asing yang kesepian di panggung dunia. By Mukroni
Foto Dok.Kowantaranews.com
- Berita Terkait :
Keren !, Sejumlah Alumni UB Mendirikan Koperasi dan Warteg Sahabat di Kota Malang
Ternyata Warteg Sahabat KOWATAMI Memakai Sistem Kasir Online
Ternyata Warteg Sahabat Berada di Bawah Naungan Koperasi Warung Sahabat Madani
Wow Keren !, Makan Gratis di Warteg Sahabat Untuk Penghafal Surat Kahfi di Hari Minggu
Warteg Sahabat Satu-Satunya Warteg Milenial di Kota Malang dengan Wifi
Warteg Sahabat Menawarkan Warteg Gaya Milenial untuk Kota Malang dan Sekitarnya
Republik Bahari Mengepakan Sayap Warteg ala Café di Cilandak Jakarta Selatan
Promo Gila Gilaan Di Grand Opening Rodjo Duren Cirendeu.
Pelanggan Warteg di Bekasi dan Bogor Kecewa, Menu Jengkol Hilang
KOWARTAMI Membuka Lagi Gerai Warteg Republik Bahari ke-5 di MABES Jakarta Barat
Ternyata Nasi Padang Ada yang Harganya Lebih Murah dari Warteg, Apa benar ?
Menikmati Menu Smoothies Buah Naga Di Laloma Cafe Majalengka
Ternyata Tidak Jauh Dari Jakarta, Harga Nasi Padang Per Porsinya Rp 120 Ribu
Ketika Pedagang Warteg Menanyakan Syarat Mendapatkan Satu Juta Kuota Sertifikasi Halal Gratis
Warteg Republik Bahari Di Bawah Kowartami Mulai Berkibar Di Penghujung Pandemi
Curhat Pemilik Warung Seafood Bekasi Ketika Omsetnya Belum Beranjak Naik
Trending Di Twitter, Ternyata Mixue Belum Mendapat Sertifikat Halal Dari BPJPH Kementerian Agama
Megenal Lebih Dekat Apapun Makanannya Teh Botol Sosro Minumannya, Cikal Bakalnya Dari Tegal
Kowartami Resmikan Warteg Republik Bahari Cabang Ke-4 Di Salemba Jakarta Pusat
Natal Di Jepang, Kentucky Fried Chicken (KFC) Salah Satu Makanan Favorit
Pedagang Warteg Semakin Sulit Harga Beras Naik
Yabie Cafe Tempat Bersantai Kekinian di Kranji Bekasi
Nongkrong Sambil Mencicip Surabi dengan Beragam Topping di Bandung
Gurihnya Coto Makassar Legendaris di Air Mancur Bogor, Yuk ke Sana

