Jakarta, Kowantaranews.com – Di bawah gemerlap lampu neon distrik Causeway Bay dan Wan Chai yang tak pernah tidur, sebuah pertarungan senyap sedang berlangsung. Ini bukan tentang politik atau pasar saham, melainkan diplomasi rasa, Causeway Bay lebih fokus pada mal-mal besar dan belanja kelas dunia, sementara Wan Chai menawarkan perpaduan antara area komersial modern dengan distrik bersejarah, kehidupan malam, serta kuliner beragam. Jika Anda berjalan menyusuri Hennessy Road atau kawasan trendi di Central, Hennessy Road adalah jalan utama yang ramai di Pulau Hong Kong, membentang dari Causeway Bay ke Wan Chai, terkenal karena jalur trem antik, pusat perbelanjaan dan restoran, Anda akan dengan mudah menemukan logo ungu “Thai Select”—sertifikasi resmi kerajaan Thailand yang menjamin otentikasi rasa, Thai Select adalah sertifikasi resmi dari Kementerian Perdagangan Thailand (DITP) yang menjamin keaslian rasa masakan dan produk Thailand di dalam dan luar negeri, diberikan kepada restoran dan produk yang memenuhi standar cita rasa autentik Thailand, menjadi “cap jempol” bahwa makanan tersebut benar-benar mewakili rasa khas Thailand yang sesungguhnya. — terpampang bangga di ratusan etalase restoran. Mulai dari Greyhound Café yang chic hingga warung boat noodle di Kowloon City, kuliner Thailand telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup warga Hong Kong.
Sebaliknya, untuk menemukan cita rasa Indonesia, Anda sering kali harus “berpetualang” lebih jauh. Bukan di etalase jalan utama, melainkan harus masuk ke dalam gedung tua, naik lift yang berdesakan, menuju lantai atas di kawasan Sugar Street atau Irving Street. Di sanalah, tersembunyi dari pandangan turis awam, restoran-restoran seperti Warung Malang, Kampoeng, atau Pandan Leaf berdenyut, melayani rindu para Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan segelintir ekspatriat yang tahu jalan.
Hegemoni yang Terstruktur
Dominasi Thailand di Hong Kong bukanlah kebetulan. Ini adalah hasil dari strategi “Global Thai” yang dijalankan secara militeristik oleh Departemen Promosi Perdagangan Internasional (DITP) Thailand. Data dari platform kuliner OpenRice pada awal 2026 menunjukkan ketimpangan yang mencolok: jumlah restoran Thailand di Hong Kong mencapai ribuan dengan ulasan yang masif, sementara restoran Indonesia hanya berjumlah puluhan dengan exposure yang terbatas pada komunitasnya sendiri.
Thailand tidak hanya menjual makanan; mereka menjual gaya hidup. Melalui acara rutin seperti “Thai Night” di ajang FILMART atau festival makanan di hotel bintang lima seperti Hotel ICON, Thailand terus-menerus menyegarkan ingatan publik Hong Kong akan kelezatan Tom Yum mereka. Dukungan ini membuat investor lokal Hong Kong percaya diri untuk membuka franchise restoran Thailand, karena rantai pasok bumbu dan branding-nya sudah matang.
Korban Ganasnya Sewa Properti
Bagi restoran diaspora Indonesia, musuh utamanya bukanlah rasa, melainkan biaya sewa (rent) yang terkenal “mematikan” di Hong Kong. Tanpa dukungan modal raksasa atau pinjaman lunak pemerintah seperti yang dinikmati pengusaha Thailand (hingga USD 3 juta via EXIM Bank Thailand), restoran Indonesia rentan tergulung pasar.
Sebuah kehilangan besar baru saja dirasakan komunitas diaspora pada September 2025 lalu, ketika Cinta-J, restoran legendaris di Wan Chai yang telah beroperasi selama 42 tahun, terpaksa gulung tikar. Restoran yang menyajikan menu Indonesia dan Filipina ini bukan sekadar tempat makan; ia adalah institusi sosial. Namun, ketika pemilik gedung memutuskan tidak memperpanjang sewa demi menjual properti tersebut, Cinta-J tak berdaya. Kisah Cinta-J adalah peringatan nyata: sejarah panjang dan pelanggan setia tidak cukup untuk melawan brutalnya pasar properti Hong Kong tanpa kepemilikan aset sendiri.
Napas Baru dari “Diplomasi Rupiah”
Namun, di tengah tekanan tersebut, secercah harapan muncul dari strategi baru perbankan pelat merah Indonesia. Pada Januari 2025, Lucky Indonesia Restaurant—salah satu pemain lama yang berdiri sejak 1987 di Kwun Tong—berhasil melakukan “wajah baru”. Melalui fasilitas Diaspora Loan dari BNI Cabang Hong Kong, restoran yang dikelola oleh generasi kedua, Jenny Chen, ini akhirnya memiliki modal untuk merenovasi interior menjadi lebih modern dengan sentuhan Jawa yang elegan, Lucky Indonesia Restaurant di Kwun Tong, Hong Kong, adalah restaurant Indonesia berdiri sejak 1987, didirikan oleh pasangan Chan Hwie Chang dan Chan Lin Ying, menjadi restoran Indonesia pertama di HK yang masuk Michelin Guide (sejak 2013).
Langkah BNI ini krusial. Renovasi tersebut bukan sekadar mempercantik ruangan, tetapi sebuah upaya rebranding untuk menarik pasar lokal Hong Kong (Cantonese) dan anak muda, melepaskan citra restoran Indonesia yang selama ini lekat dengan kesan “warung kumuh” atau sekadar kantin tenaga kerja. “Kami merancang desain baru… membuat tamu yang datang merasakan suasana seperti di Indonesia,” ujar Jenny. Ini adalah contoh kecil bagaimana intervensi finansial negara bisa membantu restoran diaspora “naik kelas” dan bersaing dengan Thai Select.

Tantangan Persepsi dan Tenaga Kerja
Selain modal, tantangan besar lainnya adalah persepsi dan tenaga kerja. Di mata warga lokal Hong Kong, masakan Indonesia sering kali dianggap sebagai comfort food murah, berbeda dengan masakan Thailand yang sukses dicitrakan sebagai kuliner eksotis premium. Upaya KJRI Hong Kong menggelar “Indonesia Week” terbesar pada November 2024 di Conrad Hotel dan Wan Chai Harbourfront adalah langkah taktis untuk mengubah persepsi ini, menampilkan sisi kuliner Indonesia yang lebih sophisticated kepada para pebisnis dan foodies Hong Kong.
Namun, masalah operasional tetap menghantui. Kasus penangkapan pemilik restoran dan pekerja ilegal Indonesia dalam operasi imigrasi di pabrik pengolahan makanan pada awal Januari 2026 menyoroti betapa sulitnya mencari tenaga kerja legal yang terampil memasak masakan Indonesia yang rumit di Hong Kong. Berbeda dengan Thailand yang memiliki skema pengiriman chef resmi yang terintegrasi, restoran Indonesia sering kesulitan mendatangkan juru masak asli karena kendala visa kerja, memaksa beberapa pengusaha mengambil jalan pintas yang berisiko.
Menanti Warteg ‘Naik Kelas’: Tantangan Membawa Menu Rp 15 Ribuan ke Lidah Konsumen Internasional
Jalan Panjang Menuju Kesetaraan
Perjuangan restoran diaspora Indonesia di Hong Kong adalah mikrokosmos dari tantangan Indonesia Spice Up the World (ISUTW) secara global. Melawan hegemoni Thai Select tidak bisa hanya dengan semangat nasionalisme atau kelezatan Rendang semata. Ia membutuhkan ekosistem: akses permodalan yang mudah (seperti kasus Lucky Indonesia), pasokan bumbu yang lancar agar tidak bergantung pada produk kompetitor, dan strategi branding yang mengangkat status kuliner Nusantara dari “gang belakang” ke jalan utama.
Jika Thailand butuh dua dekade untuk membangun imperium kulinernya di Hong Kong, Indonesia mungkin baru saja memulai langkah seriusnya. Pertanyaannya, mampukah kita berlari cukup cepat sebelum lebih banyak legenda seperti Cinta-J hilang ditelan zaman? By Mukroni
- Berita Terkait :
Menanti Warteg ‘Naik Kelas’: Tantangan Membawa Menu Rp 15 Ribuan ke Lidah Konsumen Internasional
Keren !, Sejumlah Alumni UB Mendirikan Koperasi dan Warteg Sahabat di Kota Malang
Ternyata Warteg Sahabat KOWATAMI Memakai Sistem Kasir Online
Ternyata Warteg Sahabat Berada di Bawah Naungan Koperasi Warung Sahabat Madani
Wow Keren !, Makan Gratis di Warteg Sahabat Untuk Penghafal Surat Kahfi di Hari Minggu
Warteg Sahabat Satu-Satunya Warteg Milenial di Kota Malang dengan Wifi
Warteg Sahabat Menawarkan Warteg Gaya Milenial untuk Kota Malang dan Sekitarnya
Republik Bahari Mengepakan Sayap Warteg ala Café di Cilandak Jakarta Selatan
Promo Gila Gilaan Di Grand Opening Rodjo Duren Cirendeu.
Pelanggan Warteg di Bekasi dan Bogor Kecewa, Menu Jengkol Hilang
KOWARTAMI Membuka Lagi Gerai Warteg Republik Bahari ke-5 di MABES Jakarta Barat
Ternyata Nasi Padang Ada yang Harganya Lebih Murah dari Warteg, Apa benar ?
Menikmati Menu Smoothies Buah Naga Di Laloma Cafe Majalengka
Ternyata Tidak Jauh Dari Jakarta, Harga Nasi Padang Per Porsinya Rp 120 Ribu
Ketika Pedagang Warteg Menanyakan Syarat Mendapatkan Satu Juta Kuota Sertifikasi Halal Gratis
Warteg Republik Bahari Di Bawah Kowartami Mulai Berkibar Di Penghujung Pandemi
Curhat Pemilik Warung Seafood Bekasi Ketika Omsetnya Belum Beranjak Naik
Trending Di Twitter, Ternyata Mixue Belum Mendapat Sertifikat Halal Dari BPJPH Kementerian Agama
Megenal Lebih Dekat Apapun Makanannya Teh Botol Sosro Minumannya, Cikal Bakalnya Dari Tegal
Kowartami Resmikan Warteg Republik Bahari Cabang Ke-4 Di Salemba Jakarta Pusat
Natal Di Jepang, Kentucky Fried Chicken (KFC) Salah Satu Makanan Favorit
Pedagang Warteg Semakin Sulit Harga Beras Naik
Yabie Cafe Tempat Bersantai Kekinian di Kranji Bekasi
Nongkrong Sambil Mencicip Surabi dengan Beragam Topping di Bandung
Gurihnya Coto Makassar Legendaris di Air Mancur Bogor, Yuk ke Sana

