Jakarta, Kowantaranews.com – Dua belas hari setelah hujan ekstrem memicu banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat, angka korban jiwa terus bertambah. Hingga Sabtu malam ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 182 orang meninggal dunia, 64 lainnya masih dalam pencarian, dan lebih dari 182 ribu warga terpaksa mengungsi.
Kondisi paling kritis masih terpusat di Kabupaten Karo, Deli Serdang, dan Tapanuli Selatan (Sumatera Utara), Aceh Tenggara, serta beberapa kecamatan terpencil di Sumatera Barat. Ratusan titik jalan nasional dan provinsi masih terputus total akibat longsor dan jembatan ambruk, memaksa pemerintah mengandalkan jalur udara sebagai nadi utama penyelamatan.
Sejak pagi tadi, Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma kembali menjadi pusat aktivitas luar biasa. Empat pesawat angkut berat TNI Angkatan Udara (tiga C-130 Hercules dan satu A400M Atlas) ditambah satu unit CN-295 melaksanakan 28 sorti hingga pukul 18.00 WIB. Total 94 ton bantuan berhasil didistribusikan ke empat bandara tujuan: Padang, Silangit (Sumut), Banda Aceh, dan Lhokseumawe.
“Bantuan yang kami turunkan hari ini terdiri dari makanan siap saji 48 ton, 12.500 tenda dan terpal, 46 perahu karet, 38 genset, serta 11 ton obat-obatan dan tenaga medis,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers virtual malam ini.
Di Aceh, pemulihan listrik menjadi prioritas mendesak setelah 12 menara tegangan tinggi roboh. TNI AU dan PLN mengerahkan Hercules untuk mengangkut Menara Listrik Darurat (Emergency Restoration System/ERS). Sembilan tower sudah berdiri kembali hingga malam ini, membuat aliran listrik di sebagian Aceh Tenggara dan Gayo Lues mulai menyala. Helikopter Super Puma dan Caracal juga terus mengangkut material ke lokasi yang tak mungkin dijangkau kendaraan darat.
Komunikasi yang sempat lumpuh kini mulai pulih berkat ratusan unit Starlink dan genset yang didrop BNPB sejak tiga hari terakhir. “Starlink sangat menentukan koordinasi evakuasi dan distribusi bantuan di daerah terisolir,” kata Abdul Muhari.
Sementara itu, Kapal Rumah Sakit KRI dr. Soeharso-990 yang tiba di perairan Tapaktuan pagi tadi langsung beroperasi penuh. Hingga malam ini, kapal tersebut telah menangani 127 pasien rawat jalan, 11 operasi kecil, dan tiga operasi besar bagi korban patah tulang akibat tertimbun longsor.
39 Tewas, Puluhan Hilang akibat Banjir Bandang dan Longsor di Aceh & Sumut
Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) fase ketiga yang dilaksanakan hari ini juga menunjukkan hasil positif. Enam sorti penyemaian garam oleh pesawat Casa 212 dan CN-295 berhasil menurunkan curah hujan hingga 50 persen di wilayah Karo, Dairi, dan Tapanuli Selatan. BMKG memprediksi hujan lebat baru akan kembali pada 3–4 Desember mendatang.
Meski operasi udara dan laut terus digencarkan, tantangan masih besar. Puluhan desa di pegunungan masih terisolasi total, stok makanan di pengungsian mulai menipis, dan ancaman penyakit pasca-banjir mengintai.
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto yang memantau langsung dari Halim malam ini menegaskan, “Selama akses darat belum pulih, kami tidak akan berhenti terbang. Setiap jiwa yang masih bisa diselamatkan adalah prioritas tertinggi.” By Mukroni
39 Tewas, Puluhan Hilang akibat Banjir Bandang dan Longsor di Aceh & Sumut
Aroma yang Membawa Pulang: Ketika Makanan Menyimpan Kenangan
Ketimpangan Wilayah: Bom Waktu Struktural yang Terabaikan di Balik Kemegahan Jabodetabek
Marsinah Resmi Jadi Pahlawan Nasional, Simbol Perjuangan Buruh Perempuan

